Pertemuan Tahunan IMF-WB Diprediksi Dongkrak Perekonomian Bali

Jakarta, MINA – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memprediksi pertemuan tahunan International Monetery Fund – Word Bank (IMF-WB) yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Oktober mendatang akan dapat mendongkrak perekonomian wilayah itu.

“Dengan adanya pertemuan ini, pertumbuhan ekonomi di Bali naik 0,64 persen menjadi 6,54 persen. Jadi ini poinnya,” kata Bambang saat menjadi pembicara pada FMB 9 di Gedung Juanda 1, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jakarta, Senin (17/9).

Bambang menuturkan, pertumbuhan ekonomi di Bali sebelum adanya perhelatan pertemuan tahunan IMF – WB berada di kisaran 5,9 persen. Jumlah itu sedikit di bawah target yakni sebesar 6 persen.

Bambang merinci, kenaikan pertumbuhan ekonomi 0,64 persen tersebut di antaranya disumbang sektor konstruksi sebesar 0,26 persen, sektor perdagangan 0,21 persen, perhotelan sebesar 0,12 persen dan sektor makan dan minuman sebesar 0,05 persen.

Selain itu, menurut Bambang, jumlah kesempatan kerja juga bertambah sebanyak 32.700. Ini baik untuk warga Bali, upah riil naik 1,13 persen, kesempatan kerja naik 1,26 persen. Jadi masyarakat bisa melihat betapa luar bisa dampak dari pertemuan besar ini.

“Tentunya ini kembali ke panitia nasional agar pengeluaran peserta bisa lebih besar lagi, perkiraan 1 wisman mengeluarkan USD 150 di luar akomodasi dan travel,” katanya.

Pemerintah, kata Bambang, akan melakukan studi kasus yang kasusnya pada 400 UMKM. Pemerintah berjanji akan menjelaskan hasil dampak acara ini setelah pelaksanaannya nanti melalui riset yang terencana.

“Saya akan fokus dampak dan manfaat pertemuan ini. Kita fokus ke Bali. Sebenarnya ini dikategorikan sebagai pertemuan besar, dampaknya bisa dilihat dari efek yang bisa dilihat seperti efek infrastruktur, lalu efek tidak kelihatan, yaitu image effect,” katanya.

Bambang melanjutkan, untuk total dampak langsung dari pertemuan tahunan tersebut terhadap ekonomi Bali diperkirakan mencapai Rp 5,7 triliun.

Rinciannya, sebesar Rp 3 triliun antara lain berasal dari invetasi infrastruktur seperti pembangunan underpass Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa dan Kompleks Garuda Wisnu Kencana. Selebihnya berasal dari pengeluaran pengunjung domestik dan mancanegara yang diestimasikan menyumbang Rp 1,1 triliun.

Pada pertemuan nanti akan diikuti sedikitnya oleh 189 negara dengan perkiraan 19.800 peserta. Jumlah sebesar itu dihitung berasal dari 5.050 peserta delegasi dan 14.750 non delegasi.

Sementara peserta non delegasi terdiri dari 13.000 dari mancanegara dan 1.750 dari Indonesia. Diperkirakan lama tinggal peserta adalah 9 hari dengan rincian 6 hari saat penyelenggaraan, 2 hari sebelum acara dan 1 hari sesudah acara. (L/R06/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)