Perundingan Astana Setujui Zona De-eskalasi di Suriah

Presiden Rusia dan Turki, Vladimir Putin (kanan) dan Recep Tayyip Erdogan (kiri) berjabat tangan setelah sebuah konferensi pers menyusul perundingan mereka di kediaman Putin di resor Sochi, Rusia, Rabu, 3 Mei 2017. (Foto: Alexander Zemilanichenko/AP)

Astana, 9 Sya’ban 1438/5 Mei 2017 (MINA) – Dalam perundingan di Astana, ibu kota Kazakhstan, hari Kamis (4/5), delegasi Rusia, Iran dan Turki menandatangani sebuah kesepakatan yang menyerukan penyiapan zona de-eskalasi di Suriah.

Namun, acara penandatanganan itu sempat terganggu, karena beberapa anggota delegasi oposisi bersenjata Suriah memprotes partisipasi Iran dalam kesepakatan tersebut.

“Kami melihat beberapa anggota delegasi oposisi berdiri dengan marah mengecam apa yang sedang terjadi,” kata Jamal Elshayyal, wartawan Al Jazeera yang melaporkan dari Astana sebagaimana dikutip MINA.

Menurut Elshayyal, anggota delegasi oposisi berteriak bahwa Iran seharusnya tidak menjadi penandatangan kesepakatan itu.

Putaran terakhir perundingan di Astana disponsori oleh Turki sebagai pendukung oposisi serta Rusia dan Iran sebagai pendukung pemerintah Suriah.

Elshayyal mengatakan, kesepakatan tersebut kemungkinan akan mulai berlaku sekitar satu bulan ke depan. Diharapkan dengan kesepakatan itu, akses kemanusiaan tidak memiliki hambatan ke daerah de-eskalasi.

Elshayyal mengatakan bahwa lokasi “zona de-eskalasi” kemungkinan besar adalah Idlib dan pegunungan Turkmen yang masuk dalam provinsi Homs, serta daerah-daerah di pinggiran Damaskus seperti Ghouta dan Deraa.(T/RI-1/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)