Wina, MINA – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus angka 100 dolar AS per barel pada Senin (13/4), menyusul kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Berdasarkan laporan pasar terbaru di International Energy Agency (IEA) bermarkas di Wina, Austria, harga minyak jenis Brent mengalami lonjakan signifikan sekitar 7 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik tajam hingga menyentuh kisaran 104 dolar AS per barel. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ancaman blokade dan eskalasi konflik membuat pelaku pasar bereaksi dengan aksi beli besar-besaran.
Selain itu, data perdagangan terkini juga menunjukkan bahwa harga minyak Brent berada di kisaran 101–103 dolar AS per barel dalam perdagangan harian, sementara WTI bergerak mendekati 97–104 dolar AS per barel, menandakan volatilitas tinggi di pasar energi global.
Baca Juga: Jenderal AL Iran Tegaskan Siap Hadapi AS di Selat Hormuz
Harga minyak masih berpotensi meningkat jika konflik tidak segera mereda. Bahkan, dalam skenario terburuk, gangguan berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak melampaui 110 dolar AS per barel, seiring menipisnya pasokan global dan meningkatnya risiko distribusi.
Lonjakan harga energi ini pastinya akan berdampak luas terhadap ekonomi dunia, termasuk peningkatan inflasi, biaya logistik, serta tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi seperti di kawasan Asia.
Situasi ini menegaskan bahwa stabilitas geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pasar energi global. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Mantan Kepala CIA: Trump Harus Dicopot dari Jabatannya
















Mina Indonesia
Mina Arabic