Perusahaan Penyedia Keamanan Dunia G4S Hentikan Kerja Sama Dengan Israel

boikot israel jpostLondon, 2 Jumadil Akhir 1437/11 Maret 2015 (MINA) – Perusahaan penyedia jasa kemananan terkemuka di dunia berbasis di Inggris Group 4 Security (G4S), telah menanggapi kampanye global Boikot, Penghentian saham, dan Sanksi (BDS) untuk menghentikan kerjasama dengan Israel dalam waktu dekat.

Sebagaimana keterangan pers dari laman resmi BDS yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA) melaporkan perusahaan swasta tersebut mengumumkan akan menjual seluruh bisnis Israel dalam kurun satu atau dua tahun mendatang.

Keputusan tersebut diambil, menanggapi kampanye BDS sejak empat tahun silam yang memprotes perannya dalam pelanggaran Israel terhadap hak asasi manusia di Palestina.

Langkah itu ditempuh setelah terungkap bahwa perusahaan yang menyediakan peralatan dan jasa untuk penjara-penjara Israel dan pusat-pusat penahanan bagi ribuan tahanan Palestina telah mengalami kerugian 40 persen selama setahun penuh belum termasuk pajak yang ditanggung.

“Ini berita terbaru dari G4S, tapi tidak memiliki efek langsung pada mereka yang menghadapi pelanggaran HAM berat dalam penjara Israel saat ini,” kata Direktur lembaga Hak Asasi Tahanan Addameer, Sahar Francis.

Sejak 2010, BDS melaporkan G4S telah kehilangan kontrak bernilai jutaan dolar di banyak negara akibat tekanan yang dilakukan oleh gerakan internasional yang berdiri sejak 2007 itu untuk menyeru mereka mengakhiri keterlibatanya di penjara Israel.

Sebelumnya, Yayasan Bill Gates pada 2014 melakukan penghentian saham senilai 170 juta Dolar AS menyusul protes di kantornya di Seattle, London, dan Johannesburg.

Dalam beberapa pekan terakhir, UNICEF di Yordania dan beberapa restoran utama di Kolombia ikut berpartisipasi mengakhiri kotrak mereka dengan G4S.

“Peningkatan boikot Internasional apartheid Afrika Selatan yang dilakukan BDS membuat perusahaan terbesar di dunia menyadari keuntungan dari apartheid dan kolonialisme Israel adalah buruk bagi bisnis,” kata Jubir Komite Nasional BDS Palestina, Mahmod Nawaja.

Tidak hanya itu, perusahaan multinasional Perancis Veolia, Oranye, serta CHR yang merupakan perusahaan terbesar di Irlandia telah mendahului langkah G4S dalam beberapa bulan terakhir yang diserukan oleh BDS.

Pada Januari lalu, Persatuan Gereja Methodist menempatkan lima bank Israel pada daftar hitam, karena keterlibatannya dalam pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembiayaan permukiman ilegal Israel.

November 2015, Partai Buruh Inggris telah mengakhiri kontrak konferensi keamanan dengan G4S.

Sementara itu pada April 2015, lebih dari 20 pembisnis di Afrika Selatan mengakhiri kontrak mereka dengan G4S, biaya perusahaan senilai lebih dari 500 ribu dolar.

Jubir Komite Nasional BDS Palestina mengatakan bahwa perkembangan kampanye yang dilakukan oleh BDS mengesankan karena dilakukan melalui gerakan non-kekerasan.

“Kami sangat percaya, pendekatan ini akan meraih kemenangan, seperti pengumuman yang terbaru dari G4S,” terangnya.(T/P004/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)