Pesan Moral Tahun Baru Islam 1445 H: Bersyukur dan Bina Terus Persatuan

Amalan-di-Bulan-Muharram

Oleh: M. Natsir Zubaidi; Sekretaris Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (2021-2025), Wakil Ssekretaris Dewan Pertimbangan (2015-2020)

Tidak ada kata yang paling tepat dalam menyambut 1445 adalah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dalam konteks Indonesia adalah membina ukhuwah Islamiyah dan bangsa. Karena saya melihat bahwa pada satu dekade ini umat dan Bangsa kita mengalami krisis ukhuwah dan persatuan. Terlihat adanya ego individual dan kelompok begitu kentara baik di kalangan ormas maupun partai, termasuk para elit bangsa, semakin nyata bahwa ada semacam persatuan yang semu.

Pelajaran dari semangat hijraturasul (peristiwa hijrahnya Rasulullah) adalah, pertama, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam yang diikuti para Sahabat, ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah adalah membina persaudaraan antara kaum pendatang (Muhajirin) dan masyarakat tempatan (Anshar) dalam ikhtiar membangun persatuan dan kesatuan di Madinah Al-Munawwarah.

Untuk membangun persaudaraan diperlukan adanya saling percaya (trust), dan untuk itu diperlukan modal Akhlaqul Karimah, itu yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam berhasil melakukan konsolidasi (antara Muhajirin dan Anshar), maka tahap berikutnya melakukan hubungan antara suku dan qabilah termasuk dengan kaum Yahudi. Pokok perjanjian dengan Yahudi antara lain: A. Antara Muslim dan Yahudi harus hidup sebagaimana satu bangsa; B. Masing-masing golongan mempertahankan keyakinan dan iman masing-masing; C. Jika ada serangan terhadap Madinah, keduanya harus bergabung mempertahankan dan bila terjadi perdamaian harus dilaksanakan setelah diadakan konsultasi satu sama lain; D. Madinah Al Munawwarah harus dianggap kota suci oleh keduanya sehingga tidak boleh terjadi pertumpahan darah; dan E. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam harus dijadikan pengadilan tertinggi bila terjadi perselisihan (karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam memiliki sifat jujur dan akhlaq yang mulia.

Untuk membangun persatuan umat dan bangsa diperlukan sifat yang jujur, dapat dipercaya (trust) yang harus dimiliki oleh elit bangsa. Karena pengalaman menunjukkan, ketika bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan, para pejuang dan pendiri bangsa menunjukkan sifat-sifat yang jujur, cerdas, dapat dipercaya serta memikirkan akhlak yang mulia; itu menjadikan modal Indonesia merdeka.

Perlu Harmonisasi Hubungan Ulama dan Umara

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah berusia 48 tahun memiliki pengalaman dalam hubungan antara Ulama dan Umara. MUI yang lahir pada 26 Juli 1975 lalu adalah merupakan Forum Silaturahmi Ulama, (pesantren), Zuamma (ormas) dan Cendekiawan Muslim (kampus) yang selama ini memiliki jati diri dan iktikad untuk menghela dan mendorong proses perwujudan masyarakat Madani yang Khaira Ummah (umat yang terbaik), dengan menegakkan nilai persamaan (Al Musawah), keadilan (Al Adalah), berkeseimbangan (At Tawazun), moderat (At Tawasut), dinamis (At Tatawur) dan demokrasi yang Islami (Asy Syura).

Pada khitah pengabdian MUI dirumuskan pada fungsi dan peran utama Majelis Ulama, yakni sebagai pewaris tugas para Nabi (warasatul anbiya), pemberi fatwa (mufti), pembimbing dan pelayan umat (ri’ ayat an khadimul ummah), gerakan perbaikan dan pembaharuan (al ishlah wa al tajdid) dan penegak amar ma’ ruf nahi munkar.

Untuk membangun kemajuan bangsa apalagi guna menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 sangat diperlukan ukhuwah Islamiah dan persatuan bangsa. Kita pernah mengenal Tri Kerukunan, kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dan pemerintah.

Kita bersyukur di Indonesia sudah ada majelis-majelis agama yang memiliki otoritas masing-masing di lingkungannya seperti MUI, DGI, KWI, Parisada Hindu, Budha, Khonghuchu dan lainnya.

Dalam upaya membangun bangsa diperlukan hubungan yang harmonis antara negara dengan majelis-majelis agama khususnya dalam membangun akhlak dan karakter bangsa di masa yang akan datang. Insya Allah.(AK/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)