Pesan Rasulullah pada Khutbah di Padang Arafah

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan di dalam sabdanya :

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya : “Haji adalah wukuf di ‘Arafah.” (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Abi Dawud).

Di Padang Arafah inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan Khutbatul Wada’ (khutbah perpisahan), yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah. Disebut perpisahan karena tahun berikutnya beliau wafat dipanggil Allah.

Pada Khutbatul Wadha’ itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan pesan-pesan yang menggetarkan nilai-nilai kemanusiaan. Betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat menghargai harga diri manusia, yang tidak boleh tertumpah darah darinya, dan betapa sesama Muslim adalah bersaudara.

Tidak ada rasisme dalam ajaran Islam, karena Islam sangat menghargai jiwa sesama manusia tanpa memandang ras, suku, warna kulit atau golongan yang berbeda.

Adapun pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Hari Arafah itu adalah sbb :

  1. Haram darah tertumpah

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ إِلَى أَنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا.

Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram atas kalian hingga kalian bertemu Tuhan kalian (hari Kiamat) seperti keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini”.

  1. Dendam dibatalkan

 وَإِنَّ دِمَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَبْدَأُ بِهِ دَمُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

Artinya: “Dan dendam pertumpahan darah jahiliyah juga dibatalkan, dan sesungguhnya dendam pertumpahan darah jahiliyah yang pertama kali aku batalkan adalah darah Amir bin Rabi’ah bin Al-Harits bin Abdil Mutthalib”.

  1. Orang-Orang beriman bersaudara

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لامْرِئٍ مَالٌ لأَخِيهِ إِلاَّ عَنْ طَيِّبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Artinya: “Wahai manusia, Sesungguhnya orang-orang iman adalah bersaudara, dan tidak halal bagi seseorang harta saudaranya kecuali disertai enak (ridhanya) diri”.

  1. Berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi

فَإِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ : كِتَابَ اللهِ.

Artinya: “Dan sungguh telah aku tinggalkan di kalangan kalian yang kalian tidak akan tersesat jika berpegang teguh dengannya yaitu : Kitab Allah (Al-Qur’an).”

Dalam riwayat Malik disebutkan :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Telah aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selagi berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabinya.”

Begitulah, pesan-pesan mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Khutbatul Wadha’ di Padang Arafah. Semoga kita dapat memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)