PM Pakistan Tak Ingin Perang di Timur Tengah Terjadi

Islamabad, MINA – Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah memperingatkan bahwa Negara-negara di Timur Tengah tidak harus melakukan atau terlibat konflik militer secara langsung – khususnya antara Arab Saudi dan Iran – karena situasi seperti itu akan menjadi bencana bagi Pakistan.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman Deutsche Welle kemarin, Khan menekankan perilaku netral Pakistan terhadap dua saingan regional Iran dan Arab Saudi, yang kedua negara tersebut secara historis memiliki hubungan diplomatik, militer, dan ekonomi yang bersahabat dengan Pakistan.

Dia mengatakan, sementara Kerajaan Teluk Saudi merupakan salah satu teman terbaik Pakistan, pihaknya juga selalu menjaga hubungan baik dengan Iran.  Karena hal ini ia menjelaskan, negaranya tidak akan memihak salah satu pihak pada meningkatnya ketegangan antara kedua rival.

“Karena itu, konflik militer antara Arab Saudi dan Iran akan menjadi bencana bagi Pakistan. Kami berusaha sebaik mungkin untuk memastikan bahwa hubungan antara kedua negara tidak memburuk,” kata Khan.

Komentar Khan muncul sepekan setelah Menteri Luar Negeri Pakistan Mahmood Qureshi bertemu dengan timpalannya di Arab Saudi, Iran, dan Amerika Serikat (AS).

Sementara pada saat yang sama Khan bersikeras bahwa negaranya siap memainkan perannya untuk perdamaian tetapi tidak pernah bisa lagi menjadi bagian dari perang apa pun.

Netralitas tegas Pakistan terlihat pada tahun-tahun sebelumnya, seperti keragu-raguannya dalam mengirim langsung pasukan militer ke Yaman bersama koalisi Saudi, terlepas ikut pelatihan militer gabungan Saudi dan kehadiran beberapa tentara di Yaman untuk tujuan pelatihan.

Peringatan perdana menteri Pakistan itu muncul pada saat meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi bersama sekutunya AS dan negara-negara Teluk lainnya beserta Iran, yang meningkat secara dramatis selama setahun terakhir khususnya pada awal 2020.

Sebagian besar ketegangan berasal dari keluarnya AS dari perjanjian nuklir 2015 dengan Iran dan penerapan kembali sanksi terhadap negara itu, tetapi pukulan terbesar datang ketika militer AS membunuh komandan Iran dan Kepala Pasukan Quds dari Pasukan Penjaga Revolusi Iran (IRGC) Qasem Soleimani melalui serangan drone mematikan pada awal Januari ini.

Sejak itu, ada peningkatan dramatis dalam ketakutan akan terjadinya konflik militer langsung antara kedua belah pihak. Pihak Iran telah membalas dengan ringan tetapi dengan janji pembalasan yang akan datang yang lebih besar, banyak dikhawatirkan akan menjadi serangan lain yang menargetkan Arab Saudi dan aset-asetnya.

Ditengah semua ini, Pakistan telah lama dilihat sebagai mediator potensial antara Riyadh dan Teheran, menjadi salah satu dari sedikit sekutu dari kedua negara yang tidak secara terbuka condong ke satu sisi atau yang lain.

Akhir tahun lalu, Pakistan menawarkan diri untuk menjadi mediator dan memfasilitasi pembicaraan antara kedua pihak, yang disambut secara resmi oleh Iran. (T/Ty/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)