PM Palestina Desak Jerman Akui Negaranya

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel (kiri) bersama Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah pada sebuah konferensi pers di Ramallah. (Foto: WAFA / Maan Khalifeh)

Ramallah, 29 Rajab 1438/26 April 2017 (MINA) – Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah pada hari Selasa (25/4) mendesak Jerman dan masyarakat internasional untuk mengakui kedaulatan Palestina berdasarkan perbatasan pada 4 Juni 1967 dengan Kota Al-Quds sebagai ibukotanya.

Dia juga meminta untuk mendukung tuntutan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel yang sedang menggelar aksi mogok makan massal kini memasuki hari kesepuluh dalam menuntut perbaikan kondisi dan perlakuan Israel, demikian laporan Kantor Berita Palestina WAFA yang dikutip MINA.

“Kami berpegang pada solusi dua negara untuk mencapai perdamaian yang adil dan komprehensif dan pembentukan negara Palestina merdeka,” kata Hamdallah pada sebuah konferensi pers di Ramallah dengan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, Selasa kemarin.

“Kami menyerukan pengakuan negara Palestina di perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya karena ini akan memperkuat usaha perdamaian dan mengirimkan sebuah pesan bahwa Palestina adalah sebuah fakta,” katanya.

Dia mengatakan bahwa alternatif untuk dua negara bagian, Palestina dan Israel, adalah satu negara terpisah dengan sistem apartheid.

Hamdallah mengungkapkan harapan bahwa pertemuan mendatang antara Presiden Mahmoud Abbas dan mitranya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang direncanakan pada 3 Mei di Washington akan “berhasil mencapai perdamaian.”

Namun, dia menambahkan, pembangunan permukiman Israel, selain menjadi pelanggaran hukum internasional dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya resolusi Dewan Keamanan 2334, akan menghancurkan solusi dua negara dan mengurangi kesempatan perdamaian.

Gabriel, di sisi lain, mengatakan solusi dua negara adalah cara terbaik untuk membawa perdamaian antara Palestina dan Israel.

Dia mengatakan, dirinya berharap AS akan bekerja untuk menerapkan solusi ini, menambahkan bahwa membantu wakyat Palestina berkembang secara ekonomi akan mendorong usaha perdamaian dan menjadi kepentingan terbaik Israel karena akan baik bagi Israel jika rakyat Palestina hidup menjadi masyarakat yang maju.

Dia mengatakan Jerman, yang telah membantu Palestina membangun institusi mereka dan mengembangkan ekonomi mereka dalam persiapan untuk memiliki negara merdeka mereka sendiri, akan terus bekerja dengan mereka melalui komite menteri bersama mereka.

Dia mengatakan negaranya akan terus membantu pembangunan Jalur Gaza untuk memperbaiki kondisi kehidupan di sana.

Gabriel mengatakan juga akan menjadi yang terbaik bagi Palestina untuk menyatukan kembali jajaran mereka dan berbicara sebagai satu fihak.

“Sangat penting bagi legitimasi perwakilan Palestina untuk memiliki satu perwakilan yang sah,” katanya, menambahkan, “tidak adanya pemilihan dan parlemen merongrong perwakilan di depan orang lain.” (T/R01P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)