POLISI ISRAEL HINA NABI MUHAMMAD DI AL-AQSHA

Tentara Israel naik ke atas Kubah Shakhrah yang ada di kompleks Al-Quds.(Foto: Arsip)
Tentara Israel naik ke atas Kubah Shakhrah yang ada di kompleks Al-Quds.(Foto: Arsip)

Al-Quds, 5 Jumadil Akhir 1436/25 Maret 2015 (MINA) – Sebuah pertengkaran terjadi, Selasa (24/3), antara polisi pendudukan Israel dan penjaga Masjid Al-Aqsha, setelah polisi pendudukan Israel secara lisan menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam untuk memprovokasi para penjaga masjid.

Konfrontasi secara lisan terjadi tak lama setelah sekelompok pemukim illegal ekstrimis Yahudi ultra-Ortodoks memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha di Kota Tua Al-Quds, untuk melakukan ritual keagamaan. Mereka memprovokasi jamaah muslim yang hadir di lokasi, demikian seorang pejabat dari Wakaf Islam yang dikelola Yordania mengatakan.

Insiden itu terjadi hanya sehari setelah polisi Israel memasuki tempat suci dan menginterogasi jamaah muslim dengan cara provokatif tentang tujuan kehadiran mereka di masjid, Kantor Berita Palestina WAFA yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA) melaporkan.

Interograsi polisi Israel itu dianggap tindakan yang merupakan pelanggaran terang-terangan kebebasan beribadah.

Menurut Institut Wakaf dan Warisan Islam, sekitar 30 pemukim ekstrimis Yahudi menjelajahi lingkungan Masjid Al-Aqsha untuk melakukan ritual keagamaan.

Baca Juga:  AWG Laksanakan Qurban untuk Palestina di Tengah Agresi Israel

Polisi juga menangkap seorang wanita Palestina dan anaknya saat meninggalkan masjid dengan dalih “perusuh dan meneriakkan takbir”.

Jumlah penduduk Palestina dari Al-Quds yang telah ditangkap sejak awal 2015 melebihi 50 orang, sebagian besar perempuan, demikian laporan institut itu.

Masuknya pemukim ilegal ekstrimis Yahudi ke situs tersuci ketiga bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsha,  hampir terjadi setiap hari. Sementara Yahudi mengclaim kompleks itu sebagai situs  “Temple Mount” dan percaya situs itu adalah tempat dua sinagog Yahudi yang dihancurkan di zaman kuno dahulu kala.

Pusat Konflik

Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama bagi umat Islam, sejak 1967 menjadi pusat konflik Palestina-Israel yang terus berlangsung sampai sekarang.

Terlepas dari kenyataan bahwa situs tersebut adalah lokasi Masjid al-Aqsha dan Kubah Batu, dua tujuan paling suci bagi umat Islam, ratusan ekstrimis Yahudi secara teratur mencoba untuk melegalkan ibadah mereka di kompleks itu, sebuah langkah yang akan “mau tidak maui” menjadi pemicu kemarahan jamaah muslim Palestina, kata polisi Israel.

Kunjungan provokatif pemukim ekstrimis Yahudi ke situs suci itu telah menimbulkan protes massal di Kota Al-Quds dalam beberapa bulan terakhir, di mana ratusan warga Palestina ditangkap oleh polisi Israel.

Baca Juga:  Tujuh Warga di Kota Tenda Mawasi Syahid oleh Serangan Israel

Menyadari sensitivitas situs, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya bersumpah untuk mempertahankan status quo dan bahwa “kebijakan Israel terhadap larangan beribadah Yahudi … tidak akan berubah”, sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah Menteri Perumahan Uri Ariel menyarankan bahwa Masjid Al-Aqsha dapat diganti dengan sinagog Yahudi. ”

Pemicu Amarah Rakyat Palestina

Terlepas dari ekspansi yang sedang berjalan dari permukiman Israel di Tepi Barat dan menghancurkan rumah milik Palestina, para pejabat Israel tetap berhati-hati ketika berhadapan dengan masalah Masjid Al-Aqsha karena mereka percaya mengubah status quo akan menyebabkan intifadhah Palestina Ketiga.

Rakyat Palestina khawatir jika para ekstrimis Yahudi diizinkan untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha, akhirnya akan menyebabkan perubahan permanen yang akan menghasilkan kontrol penuh Israel dan melarang ibadah bagi umat Muslim, mirip dengan pembagian Masjid Ibrahimi di Hebron.

Rakyat Palestina mengklaim ketakutan mereka berasal dari kebijakan otoritas pendudukan Israel yang sedang berlangsung dengan mencegah Muslim Palestina yang tinggal di Tepi Barat untuk memperoleh izin memasuki Al-Quds untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha.

Baca Juga:  Ben-Gvir Desak ‘Migrasi Sukarela’ Warga Palestina

Juga banyaknya pembatasan pintu masuk bagi pribumi Al-Quds menuju lingkungan masjid, termasuk memegang kartu identitas mereka sampai mereka meninggalkan masjid.

Menurut Institut, pada pekan pertama Maret ini sekitar 200 pemukim illegal ekstrimis Yahudi masuk ke kompleks Al-Aqsha dengan total 73 pemukim memasuki situs pada Rabu.

Lembaga itu baru memperingatkan warga Palestina dari peningkatan tajam kunjungan pemukim ekstrimis Yahudi mengatakan, mereka memerlukan tindakan yang serius dari semua orang Arab dan Muslim, sebelum terlambat.

Situs itu telah menjadi pusat konflik Israel-Arab yang berkepanjangan. Banyak terjadi bentrokan berulang dalam beberapa tahun terakhir antara jamaah Muslim dan polisi Israel di sana, paling sering karena kunjungan provokatif oleh ekstremis Yahudi yang percaya masjid harus dihancurkan dan diganti dengan sebuah sinagog Yahudi.

Bentrokan paling kejam disaksikan pada tahun 2000, ketika mendiang Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, lama dikenal karena pandangan radikalnya, memasuki tempat Al-Aqsha bersama dengan sekitar 250 polisi Israel, memprovokasi apa yang kemudian dikenal sebagai Intifadah Palestina Kedua (Al-Aqsha).(T/R05/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

 

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Ismet Rauf

Comments: 0