
perbatasan
Yunani dan Macedonia. (Foto: Reuters)" width="300" height="169" /> Seorang perempuan Suriah menangis dalam pelukan suaminya di perbatasan Yunani dan Macedonia. (Foto: Reuters)Idomeni, Yunani, 8 Dzulqa’dah 1436/23 Agustus 2015 (MINA) – Ratusan pengungsi di Yunani memaksa melintasi perbatasan Macedonia ketika polisi menembakkan granat kejut dalam upaya menghentikan mereka, Sabtu (22/8).
Selama dua hari berturut-turut, polisi menembakkan granat setrum dan bentrok dengan pengungsi yang mencoba melalui perbatasan Yunani-Macedonia, Al Jazeera melaporkan yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Para pengungsi bergegas menerobos pagar kawat berduri ketika penjaga perbatasan mencoba menghentikan mereka.
Ribuan pengungsi yang diguyur hujan telah terperangkap dalam lahan tak bertuan sejak Kamis.
Baca Juga: Parlemen Eropa Setujui Pembatasan Medsos untuk Remaja di Bawah 16 Tahun
Jumat malam, polisi telah membiarkan kelompok-kelompok kecil yang membawa keluarga serta anak-anak melintasi perbatasan dengan berjalan ke stasiun kereta api di kota Gevgelija, Macedonia. Mereka sebagian besar menaiki kereta menuju perbatasan Serbia, sebelum menuju Hungaria.
Sementara itu sebagian besar pengungsi tidak bisa menyeberang, termasuk banyak wanita dan anak-anak yang menghabiskan malam kehujanan dan kedinginan di tempat terbuka.
Wartawan Al Jazeera Jonah Hull melaporkan dari sisi perbatasan Yunani, Idomeni, semua warga negara Pakistan, Afghanistan dan Irak, mengaku berwarganegara Suriah, karena warga Suriah memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan suaka.
“Para pengungsi melarikan diri dari perang saudara di negara mereka, tapi banyak pula lainnya yang jadi migran karena alasan ekonomi,” kata Hull. (T/P001/P2)
Baca Juga: Finlandia Tutup Kedubes di Myanmar, Afghanistan dan Pakistan pada 2026
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Usulkan Perdamaian Rusia-Ukraina, Tapi Syaratnya Bikin Kyiv Ragu
















Mina Indonesia
Mina Arabic