Politik yang Menyatukan, Pemilu yang Menggembirakan (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…،وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ (المائدة [٥]: ٢)

“…,Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan kata Al-Birr pada ayat di atas adalah segala perbuatan, meliputi lahir maupun batin, hak Allah maupun hak manusia yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam mewujudkan Al-Birr tersebut, seorang hamba diperintahkan untuk melaksanakannya sendiri atau dengan bantuan orang lain, saling membantu dan bekerja sama dari kalangan saudara-saudaranya yang beriman, ataupun manusia secara umum, demi mewujudkan kemaslahatan.

Al-Birr berkaitan dengan amalan-amalan kebajikan, sementara At-Takwa pada ayat di atas berkaitan dengan upaya mencegah dan meninggalkan kemaksiatan dan kerusakan.

Seorang hamba wajib menjaga dan melindungi harta, nyawa dan kehormatan dirinya dan orang lain.  Pelanggaran atas hal itu menyebabkan manusia mendapat konsekwensi berupa hukuman di dunia dan akhirat. Hukuman dunia berupa kerusakan tatanan sosial, bencana dan peperangan. Sementara hukuman di akhirat berupa siksa neraka. Maka hendaknya setiap orang beriman memperhatikan hal itu dengan serius.

Dalam konteks kehidupan bernegara saat ini, ayat tersebut rasanya tepat sekali untuk direnungkan, difahami dan diimplementasikan di tengah masyarakat yang majemuk. Mayarakat Indonesia terhimpun dari berbagai latar belakang budaya, suku, ras dan agama. Kemampuan untuk dapat saling bekerja sama mewujudkan ketenteraman dan kemaslahatan di tengah kehidupan bermasyarakat sangat diperlukan.

Terlebih di situasi saat ini, angin politik pemilihan umum (pemilu) legislatif dan pemilihan presiden (pilpres) 2024 sudah mulai terasa. Beberapa partai politik sudah mulai berkoalisi, menggadang-gadang, bahkan menetapkan calon presiden. Beberapa partai mulai berkoalisi dan mencari dukungan masyarakat. Media-media juga menjadi pendukung kandidat tertentu dengan mempromosikan keunggulan calon masing-masing.

Implementasi sistem politik dalam pemilu 2014 dan 2019 telah membuat polarisasi cukup tajam di masyarakat. Masing-masing pendukung saling berhadap-hadapan dalam dua kubu besar. Beberapa anak bangsa harus rela terluka, bahkan ada yang meregang nyawa demi membela kandidatnya. Lalu, pada pemilu dan pilpres 2024 mendatang, akankah perpecahan tersebut terus berlanjut?

Sejatinya, menciptakan situasi sejuk, aman dan kondusif dalam masyarakat, khususnya menjelang pemilu merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh warga masyarakat dan pemerintah. Masyarakat sebagai pelaku demokrasi haruslah menyadari dan mengerti hak dan kewajibannya sehingga mampu berbuat yang terbaik sesuai peraturan di masyarakat yang telah dibuat.

Pemerintah dengan segenap perangkatnya, memastikan gelaran pesta demokrasi tersebut berjalan lancar, mengawasi dan menindak pihak-pihak yang melanggar peraturan atau berpotensi curang sehingga masyarakat tidak saling curiga. Maka, semua pihak harus berperan aktif dalam upaya menciptakan suasana kondusif tersebut.

Politik yang Menyatukan

Tujuan sejati diadakan pemilu adalah untuk memilih pemimpin terbaik yang akan menyejahterakan rakyat dan memajukan negara, bukan semata-mata untuk meraih kekuasaan. Maka, ajang pesta demokrasi hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan dan permusuhan antar sesama anak bangsa.

Elit politik hendaknya menjadikan ajang pemilu ini layaknya sebuah pesta olah raga yang mempersatukan semua pihak, demi meraih prestasi terbaik yang akan dipersembahkan untuk bangsanya. Tentu kita semua masih ingat, pesta olah raga Asian Games 2018 lalu yang berhasil mempersatuan Korea Selatan dan Korea Utara dalam satu bendera, Semenanjung Korea.

Momen persatuan yang fenomenal adalah, ketika atlet Pencak Silat Indonesia, Hanifan Yudani yang berhasil meraih medali emas, membuat Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang waktu itu sebagai kandidat presiden 2019 saling berpelukan dalam balutan suasana kemenangan.

Di even yang lain, hati kita juga terenyuh dan bergetar ketika beberapa pasangan Bulu tangkis Indonesia yang berbeda agama, tetapi mereka mampu membangun kerja sama, bermain bagus, dan memenangkan berbagai piala bergengsi. Sebut saja pasangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan, Apriyani Rahayu dan Greysia Polli, serta atlet-atlet lainnya. Mereka semua berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Layaknya dalam sebuah pertandingan, tentu akan ada pihak yang menang dan kalah. Maka, pihak yang kalah harus legowo (menerima kekalahan) dan tidak bertindak anarkis. Sebaliknya, yang menang tidak sombong dan jumawa.

Semua pihak harus mampu meredakan ketegangan sejak sebelum pertandingan dimulai. Jika sebelum pertandingan, suasana nyaman, penuh rasa persahabatan, maka pertandingan insya-Allah akan berjalan fairplay dan sportif. Namun, jika sebelum pertandingan saja sudah tegang, dibumbui dengan fitnah, cacian dan makian, kemungkinan akan terjadi saling curiga, tindakan kekerasan dan berujung kerusuhan.

Setiap warga negara hendaknya mengingat bagaimana para pendiri bangsa ini membangun persatuan melalui Sumpah Pemuda 1928. Meski mereka berasal dari berbagai suku, etnis dan bahasa, namun mereka mempu mengikrarkan kalimat persatuan di tengah kebhinekaan.

Semangat persatuan juga menginspirasi proses perumusan Pancasila. Para tokoh Muslim rela menghapus tujuh kata dalam sila pertama, demi menyatukan anak-anak bangsa yang berbeda agama, dalam bingkai Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI).

Setiap kita harus menyadari bahwa persamaan di antara kita jauh lebih banyak daripada hal-hal yang membedakan. Maka dengan semangat persamaan itu, kita bisa lebih mudah membangun persatuan.

Merasa diri dan kelompoknya paling benar, paling pantas memimpin negeri dan sikap anti kritik harus dibuang jauh-jauh, demi membangun kebersamaan, merajut tali kasih sayang antar sesama anak bangsa.

Ada kepentingan yang lebih besar bagi bangsa ini, yakni membangun peradaban yang berkemajuan, demi mewujudkan keadilan dan meraih kemakmuran untuk anak bangsa dan generasi sesudah kita. Hal itu tak boleh dikorbankan hanya karena beda pilihan politik antar anggota masyarakat.

Pemilu yang Menggembirakan

Layaknya sebuah keluarga yang menyelenggarakan hajatan, segenap rekan, teman dan handai taulan bertemu, berkumpul, saling bersalaman dan mendoakan. Baik tamu, tuan rumah, dan semuanya yang terlibat sebagai panitia, pendukung acara, maupun masyarakat sekitar bergembira ria, penuh canda tawa dan saling memberi doa terbaik untuk kelancaran acara.

Sebagaimana contoh di atas, kontestasi pemilu dan pilpres pada 14 Februari 2024 mendatang adalah hajatan negara ini, maka hendaknya kita jadikan sebagai pesta demokrasi yang menggembirakan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk mewujudkan hal itu, perlu adanya hal-hal sebagai berikut:

Pertama, masyarakat harus bisa menyikapi perbedaan pilihan dengan bijak dan dewasa. Tidak perlu saling mencela, memaki, apalagi memfitnah dan merendahkan satu sama lain. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka, mari kita saling melengkapi dan menyempurnakan.

Jika terdapat kebaikan di pihak lain, mari kita dukung bersama. Namun jika ada potensi kekeliruan, nasihatilah dengan santun, dalam suasana keakraban dan kekeluargaan.

Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Sikap terbaik adalah menerima perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Perbedaan jangan dijadikan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai aset dan potensi kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis, damai dan penuh toleransi.

Gunakan media massa dan sosial secara arif dan bijak. Jadikan media sebagai sarana pemersatu bangsa, bukan memantik perpecahan dan saling curiga. Kepada insan pers, hendaknya memberi informasi yang valid, serta mengutamakan kepentingan bangsa, persatuan dan kesatuan. Media yang menjalankan tugasnya secara profesional akan mampu menjadi pilar demokrasi.

Kedua, masing-masih tokoh, elit, politisi dan pemangku kebijakan hendaknya mampu menjadi contoh yang baik kepada masyarakat, bagaimana menjaga kerukunan dan saling menghargai, bukan saling curiga dan saling memaki. Jika para tokoh bisa menjadi contoh kerukunan dan persatuan, maka para pendukung dan simpatisan akan mengikuti mereka.

Ketiga, panitia penyelenggara dan pemerintah hendaknya mampu bersikap adil, transparan dan mau menerima kritikan dan nasihat dari masyarakat. Keadilan akan membawa kepada ketenangan dan ketenteraman, sebaliknya eksklusifitas akan menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat, yang akhirnya berujung pada distruss dan tindakan anarkis.

Keempat, berdoa kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, kiranya bangsa Indonesia berhasil memilih pemimpin yang amanah, bertanggung jawab dan berakhlak mulia sehingga mampu menjaga persatuan dan membawa kepada bangsa berkemajuan.

Mari sambut pemilu mendatang dengan penuh rasa gembira. Siapapun pemimpin yang terpilih, itulah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka mari kuatkan bersama. Kebijakan baiknya kita dukung dan bila ada kekurangan dan kesalahan, kita sampaikan nasihat yang konstruktif.

Dengan semangat persatuan dan rasa cinta antar sesama anak bangsa, insyaAllah Indonesia akan menjadi negeri yang Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafuur (negeri yang adil dan makmur, berada dalam ridha Allah yang Maha Pengampun).

وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

(R/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)