Presiden Afghanistan di UEA untuk Cegah Pertumpahan Darah

Abu Dhabi, MINA – Setelah berhari-hari spekulasi tentang keberadaannya, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, 72, muncul di UEA di tengah tuduhan dan kecaman melarikan diri dengan uang sekitar AS$169 juta dan telah mengkhianati rakyatnya.

UEA mengkonfirmasi pada Rabu (18/9) dalam sebuah pernyataan pemerintah bahwa negara Teluk itu menyambut Ghani dan keluarganya “atas dasar kemanusiaan.

” Berbagai pertanyaan diajukan tentang keberadaannya selama pengambilalihan Kabul oleh Taliban. Ada spekulasi dia telah melarikan diri ke Tajikistan, Uzbekistan atau Oman, MEMO melaporkan, Kamis (19/8).

Ghani mengklaim dia tidak punya pilihan selain melarikan diri untuk mencegah pertumpahan darah.

“Jika saya tetap tinggal, saya akan menyaksikan pertumpahan darah di Kabul,” kata Ghani dalam video yang disiarkan di Facebook pada Rabu, dalam komentar publik pertamanya sejak Abu Dhabi mengonfirmasi dia berada di UEA.

Ghani juga mengklaim dia pergi atas saran pejabat pemerintah dan menjelaskan Kabul akan berubah menjadi Yaman atau Suriah lain karena perebutan kekuasaan jika dia tetap tinggal.

Selama pidato streaming langsung, Ghani mengatakan dia sedang berkonsultasi tentang kepulangannya ke Afghanistan dan dia mendukung pembicaraan antara Taliban dan mantan pejabat tinggi pemerintah.

“Saya mendukung inisiatif pemerintah untuk negosiasi yang sedang berlangsung dengan Abdullah Abdullah dan mantan presiden Hamid Karzai. Saya ingin proses ini berhasil, saya sedang berkonsultasi untuk kepulangan saya ke Afghanistan sehingga saya dapat melanjutkan upaya untuk keadilan, nilai-nilai Islam dan nasional yang sejati,” katanya.

Dilaporkan Ghani telah meninggalkan ibu Afghanistan pada hari Ahad (15/8) dengan empat mobil dan sebuah helikopter penuh uang tunai dan harus meninggalkan sebagian karena tidak semuanya muat.

Duta Besar Afghanistan di Tajikistan mengatakan Ghani melarikan diri dengan $169 juta dan menggambarkan pelariannya sebagai “pengkhianatan terhadap negara dan bangsa”. Dia meminta polisi internasional untuk menangkapnya.

“Saya pergi hanya dengan rompi dan beberapa pakaian,” kata Ghani, menyangkal tuduhan itu.

“Tuduhan itu adalah kebohongan yang tidak berdasar. Anda bahkan dapat bertanya kepada petugas bea cukai  itu tidak berdasar,” tegasnya.

Negara-negara Teluk sedang berkonsultasi mengenai sikap yang harus mereka ambil terhadap Afghanistan di bawah Taliban. UEA adalah salah satu dari tiga negara, termasuk Arab Saudi dan Pakistan, yang mengakui Taliban sebelumnya, yang memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001.

UEA, yang pasukannya berpartisipasi dalam operasi militer melawan Taliban pada tahap tertentu, meminta pihak-pihak Afghanistan untuk segera melakukan upaya membangun keamanan dan stabilitas. Untuk bagian mereka, Saudi menyerukan menjaga keamanan dan menghormati pilihan rakyat Afghanistan. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)