Presiden Afsel: Konflik Ethiopia Harus Diakhiri Melalui Dialog

Foto: satuharapan

Johannesburg, MINA – Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan, negara-negara Afrika sangat prihatin tentang konflik di Ethiopia.

Anadolu Agency melaporkan, Sabtu (21/11) Ramaphosa mengungkapkan keinginannya yang dalam bahwa konflik harus diakhiri melalui dialog antara para pihak.

Pernyataan tersebut muncul saat bertemu dengan Presiden Ethiopia Sahle-Work Zewde, yang melakukan kunjungan ke Afrika Selatan sebagai Utusan Khusus Perdana Menteri Abiy Ahmed.

Sementara itu,Ketua Komisi Uni Afrika (AU) Moussa Faki Mahamat berencana menunjuk tiga negarawan terkemuka sebagai utusan khusus badan tersebut yang akan melakukan perjalanan ke Ethiopia membantu menengahi antar pihak.

Antara lain, Mantan Presiden Mozambik Joaquim Chissano, Mantan Presiden Liberia Madame Ellen Johnson-Sirleaf, dan Mantan Presiden Afrika Selatan Kgalema Motlanthe.

Tugas utama Utusan Khusus adalah untuk melibatkan semua pihak yang berkonflik dengan tujuan mengakhiri permusuhan, menciptakan kondisi untuk dialog nasional yang inklusif, menyelesaikan semua masalah yang menyebabkan konflik, dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di Ethiopia.

Pertempuran selama hampir dua minggu telah mengguncang negara terpadat kedua di Afrika itu.

Ratusan, mungkin ribuan, orang telah tewas sejak pasukan pemerintah Ethiopia melancarkan perang di negara bagian Tigray Utara melawan otoritas regional yang mereka tuduh melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan federal.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, melancarkan kampanye militer di wilayah Tigray pada 4 November dengan tujuan untuk menggulingkan partai yang memerintahnya, Tigray People’s Liberation Front (TPLF), yang ia tuduh menentang pemerintahannya. dan berusaha untuk membuatnya tidak stabil.

Warga Ethiopia telah melarikan diri dari pertempuran yang berlangsung untuk mencari keselamatan di Sudan Timur. (T/Hju/P1

Mi’raj News Agency (MINA)