Presiden Aljazair Kutuk Perjanjian “Damai” UEA dan Bahrain dengan Israel

Presiden Aljazair Abdelmajid Tebboune. (Twitter)

Aljir, MINA – Presiden Aljazair Abdelmajid Tebboune mengutuk perjanjian “perdamaian” bersejarah yang ditandatangani oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel di Gedung Putih pekan lalu.

Kecaman itu Tebboune nyatakan dalam sebuah wawancara dengan media Aljazair pada Ahad lalu (20/9), demikian Islam21c.com melaporkan, Rabu (23/9).

Tebboune mengumumkan bahwa Aljazair tidak akan pernah menjadi bagian dari kesepakatan untuk menormalisasi segala jenis hubungan dengan Israel.

Tebboune menambahkan bahwa Aljazair tidak akan memberikan restunya kepada negara Arab mana pun yang telah “terburu-buru menuju normalisasi.”

Negara-negara Arab telah memboikot Israel selama beberapa dekade, menyatakan bahwa mereka akan menjalin hubungan hanya setelah konflik Palestina diselesaikan. Namun, tidak semua dari mereka berpegang teguh pada pendirian itu.

“Masalah Palestina adalah suci bagi kami dan itu adalah ibu dari semua masalah dan tidak akan diselesaikan kecuali dengan mendirikan negara Palestina, dengan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Suci sebagai ibukotanya,” kata Presiden.

Pengumuman Presiden Tebboune bahwa Aljazair tidak akan pernah menjadi bagian dari hubungan normal dengan Israel mengikuti keputusan Qatar untuk mendukung Palestina.

“Negara Qatar menegaskan posisi tegasnya pada masalah Palestina, yang menetapkan penghentian pendudukan Israel dan mendirikan Negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya dalam kerangka legitimasi internasional dan resolusi Dewan Keamanan yang relevan sambil memberikan hak kepada semua pengungsi Palestina untuk kembali,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar.

Di samping Aljazair dan Qatar, orang Maroko pun memprotes segala bentuk kesepakatan dengan Israel dan menyebutnya sebagai ‘pengkhianatan’. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)