Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Jokowi Diskusikan Ekonomi Umat Bersama Ulama Jabar

Rana Setiawan - Rabu, 4 April 2018 - 10:22 WIB

Rabu, 4 April 2018 - 10:22 WIB

87 Views

Presiden Jokowi saat menerima kunjungan sejumlah ulama dari Jawa Barat (Jabar), di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/4). (Foto: BPMI/Setkab)

Presiden Jokowi saat menerima kunjungan sejumlah ulama dari Jawa Barat (Jabar), di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/4). (Foto: BPMI/Setkab)

Jakarta, MINA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan sejumlah ulama dari Jawa Barat (Jabar) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/4) siang. Dalam pertemuan ini, Presiden Jokowi menerima masukan-masukan bagi kebaikan daerah dan negara.

“Masukan-masukan yang disampaikan para ulama ini betul-betul sebuah masukan yang memang itu masalah di rakyat, masalah di umat, karena beliau-beliau setiap hari mendengar keluhan-keluhan dari bawah. Kita menampung dan membuat kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan yang ada di bawah,” kata Presiden seusai pertemuan dengan para ulama Jabar itu, sebagaimana laporan Setkab.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekira satu setengah jam tersebut, menurut Presiden, dirinya bersama dengan para ulama, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh masyarakat membicarakan seputar upaya untuk memajukan pondok pesantren dan ekonomi umat.

Kepala Negara juga berbicara soal Bank Wakaf Mikro sebagai kebijakan pemerintah untuk memajukan perekonomian umat, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

Baca Juga: H+4 Lebaran, Pemudik Mulai Berdatangan di Terminal Pulo Gebang

“Tapi yang paling penting apabila ulama dan umara berjalan beriringan, insyaallah negara ini aman dan tenteram,” sambung Presiden.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat, K.H. Rahmat Syafe’i, yang turut memberikan keterangan dalam kesempatan yang sama menambahkan, pihaknya juga berbicara seputar fenomena berita-berita bohong (hoaks) yang belakangan ini marak ditemui.

Menurutnya, ulama memiliki kewajiban untuk mengingatkan masyarakat terkait bahaya dari penyebaran hoaks tersebut.

“Ulama mempunyai kewajiban mengingatkan bahwa berita-berita tersebut sangat menyesatkan dan harus diatasi untuk kemaslahatan,” tutur K.H. Rahmat Syafe’i. (R/R01/RI-1)

Baca Juga: Tanggapi Tarif Resiprokal AS 32 Persen Indonesia Siapkan Strategi Menghadapinya

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda