Presiden Jokowi Hadiri Silaturahmi Nasional Jam’iyah Batak Muslim Indonesia

Presiden Jokowi saat menghadiri Silatnas JBMI di Pondok Pesantren Musthafawiyah, Purba Baru, Sabtu (25/3) pagi.  (Foto: Humas/Oji)

 

Mandailing Natal, 27 Jumadil Akhir 1438/26 Maret 2017 (MINA) – Usai meresmikan pembangunan asrama haji di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana beserta rombongan menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) di Pondok Pesantren Musthafawiyah, Purba Baru, Sabtu (25/3) pagi.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan, negara Indonesia memiliki keanekaragaman, di mana terdapat 714 suku dan 1.100 lebih bahasa lokal.

“Ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Bangsa Indonesia. Misalnya suku, tidak ada yang sebanyak Indonesia macam-macam. Inilah kemajemukan yang harus dijaga bersama-sama agar bisa menjadi potensi besar,” kata Presiden.

Era sekarang ini, lanjut Presiden dalam laman Setkab yang dikutip MINA, organisasi Islam seperti JBMI dapat menjadi sumber kekuatan Bangsa Indonesia dan dengan bersatu bisa mewujudkan pemerataan ekonomi.

“Saya berharap JBMI mampu memperkuat toleransi terhadap perbedaan untuk Indonesia,” ujar Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi berharap JBMI bisa memperkuat penerapan budaya Batak.  Presiden meyakini banyak budaya dan nilai-nilai luhur budaya Batak sejalan dengan nilai Islam Rahmatan Lil Alamin (pemberi rahmat bagi semua).

“Saya yakin budaya di sini tidak menyukai ujaran kebencian, tidak menyukai caci maki seperti yang sering kita lihat di media sosial, umpatan, fitnah, saling menjelekkan, dan saling mencela,” tutur Presiden.

Presiden pun mengapresiasi Pesantren Musthafawiyah, tempat dibesarkannya JBMI, yang tetap mempertahankan jati diri dan karakter di antara pengaruh modernitas dan kemajuan saat ini, di antaranya dengan mengutamakan pengajar lulusan sendiri dan mempertahankan rumah-rumah khasnya.

“Ini adalah sebuah karakter, inilah sebuah identitas, inilah sebuah jati diri baik di tingkat daerah, di tingkat nasional yang harus terus kita angkat. Salah satu jawaban mengapa Pesantren Musthafawiyah itu bisa bertahan karena berkah dari ilmu yang telah diajarkan sejak dahulu,” terang Presiden.

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi menyampaikan ucapan terima kasih mewakili masyarakat Sumatera Utara atas kehadiran Presiden Jokowi di acara Silatnas JBMI.

“Dengan mengusung tema Indonesia Martangiang, Indonesia Berdoa, harapannya dapat membuat masyarakat semakin maju dengan sinergi bersama seluruh pihak,” kata Gubernur.

Sementara itu, Ketua Umum JBMI, Albiner Sitompul menyampaikan, bangsa Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk dan memasuki milenium ketiga tantangan terhadap kemajemukan itu semakin besar.

“Oleh karenanya JBMI mengangkat tema Indonesia Martangiang (Berdoa) dalam kesepakatan terhadap perbedaan, kebersamaan, dan persaudaraan menuju Indonesia gemilang,” kata Albiner.

Kegiatan Silatnas ini, lanjutnya, terdiri dari seminar yang juga melibatkan semua marga Batak dan suku Bangsa di Indonesia yang bermukim di Sumatera Utara.

“Kedua, Silatnas ini dikaitkan dengan peresmian Tugu Nol Kilometer Peradaban Islam Nusantara, merupakan kajian dari ahli sejarah antropologi, arkeologi. Kami akan terus menyempurnakan dan melakukan perawatan sehingga dapat dimiliki dan dirasakan oleh bangsa Indonesia bahkan dunia,” ujar Albiner.

Turut mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana dalam kunjungan kerja di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, serta Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi. (T/R09/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)