Presiden Turki dan Azerbaijan Hadiri Parade Kemenangan Pembebasan Karabakh

Baku, MINA – Presiden Turki dan Azerbaijan pada Kamis (10/12) menghadiri parade perayaan pembebasan wilayah Azerbaijan, Nagorno-Karabakh,  dari pendudukan pasukan Armenia.

Menurut laporan Anadolu Agency (AA), pawai tersebut diadakan di Azadlig Square, Baku ibukota Azerbaijan,  untuk merayakan keberhasilan militer Azerbaijan baru-baru ini dalam membebaskan wilayah Nagorno-Karabakh setelah hampir 30 tahun pendudukan Armenia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri upacara Parade Kemenangan di ibu kota Azerbaijan ini atas undangan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev.

Dalam pidatonya ia mengungkapkan solidaritas dan persatuan dengan Azerbaijan.

“Turki menganut motto dua negara, satu bangsa yang disebut pemimpin besar Aliyev [ayah dari Ilham Aliyev] sebagai pedoman dalam hubungan kami dengan Azerbaijan,” tutur Erdogan.

Erdogan juga menyatakan bahwa pembebasan tanah Azerbaijan dari pendudukan tak berarti perjuangan telah selesai. Perjuangan yang telah dilakukan melalui cara politik dan militer hingga saat ini akan berlanjut di berbagai bidang mulai sekarang, kata Erdogan.

Erdogan mengingatkan “konflik selama hampir 30 tahun di Karabakh, dan menambahkan bahwa semua telah melihat bahwa wilayah itu berubah menjadi reruntuhan [selama pendudukan Armenia].”

“Seperti yang dikatakan saudara saya Ilham Aliyev, tak ada bangunan tegak yang ditemukan di kota Fuzuli untuk mengibarkan bendera. Semua kota dihancurkan, semua desa dihancurkan, bahkan kuburan pun dihancurkan,” kata Erdogan.

“Hukum perang dilanggar secara serius dan martabat manusia diinjak-injak di Karabakh,” tambah dia.

Erdogan menyerukan kepada Azerbaijan dan Armenia untuk mengevaluasi kembali hubungan mereka, karena tidak ada yang bisa diperoleh di bawah “paksaan imperialis Barat”.

“Sebuah era baru di kawasan itu akan dimulai jika rakyat Armenia mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di Karabakh,” lanjut dia.

“Mereka yang tidak membawa apa-apa selain kehancuran, pembantaian, dan air mata ke Nagorno-Karabakh sekarang perlu menggunakan akal mereka. Pejabat Armenia menghabiskan sumber daya rakyat mereka untuk menjaga tanah Azerbaijan tetap diduduki,” tutur dia.

Erdogan juga mendesak politisi Armenia untuk “mengambil langkah berani untuk membangun masa depan berdasarkan perdamaian dan stabilitas”.

“Kami [Turki] juga berharap bahwa rakyat Armenia akan dibebaskan dari belenggu diaspora mereka, yang menghukum mereka dengan kemiskinan dan menghibur mereka dengan kebohongan masa lalu,” tukas Erdogan.

Dukungan Turki pada Azerbaijan

Azerbaijan merasakan dukungan dari Turki sejak waktu awal Perang Patriotik baru-baru ini dengan pasukan Armenia di Karabakh, kata Presiden Aliyev pada upacara pembukaan parade tersebut.

Azerbaijan menunjukkan kepada seluruh dunia persatuannya dengan Turki saat para pemimpin kedua negara menghadiri pawai tersebut, tambah Aliyev.

Dia menekankan bahwa selama perang 44 hari, Armenia melakukan “kejahatan perang” terhadap rakyat Azerbaijan, termasuk menyerang warga sipil dengan bom cluster dan fosfor yang dilarang.

“Pihak Armenia melakukan pembantaian terhadap rakyat Azerbaijan. Mereka melakukan genosida di Khojaly,” tegas Aliyev.

Aliyev menambahkan bahwa negaranya “mendapatkan kembali integritas teritorialnya di medan perang,” dan tentara Armenia “berlutut” di medan perang.

“Semua organisasi internasional mengakui dan mendukung keutuhan wilayah Azerbaijan. Armenia telah melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Azerbaijan,” kata dia lagi.

“Karabakh adalah Azerbaijan! Hari ini, seluruh dunia melihat bahwa Karabakh adalah Azerbaijan! Hidup persahabatan Turki-Azerbaijan,” tegas Aliyev.

Parade tersebut menampilkan lebih dari 3.000 personel, sekitar 150 perangkat keras militer, termasuk rudal dan sistem artileri, sistem pertahanan udara, UAV, kapal perang dan peralatan militer yang disita oleh tentara Azerbaijan dari pasukan Armenia yang hancur selama perang itu.

Drone bersenjata Bayraktar TB2 Turki – yang dibeli oleh Azerbaijan dan memainkan peran penting selama perang – juga dipamerkan. Satuan pasukan khusus elit Turki – juga dikenal sebagai Satuan Baret – juga menghadiri parade tersebut. (T/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)