Kerdasa, MINA – Pihak berwenang Mesir menahan seorang pria berusia 35 tahun setelah ia mengemudikan sebuah jip yang membawa bendera Israel ke daerah yang ramai di Kota Kerdasa, sebelah barat Kairo, sebelum menabrak sebuah toko. Insiden tersebut memicu kemarahan luas.
Kementerian Dalam Negeri mengatakan, pria tersebut, seorang insinyur pertanian dari Kerdasa, menderita “gangguan psikologis” dan telah ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Video yang beredar luas di media sosial pada Kamis malam (26/2) menunjukkan, kendaraan tersebut melaju di jalan yang ramai dengan bendera Israel terpasang di jendelanya sebelum menabrak.
Rekaman juga menunjukkan warga berteriak dan melempar benda ke arah jip, sementara gambar lain tampaknya menunjukkan pengemudi dipukuli setelah tabrakan.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Pihak berwenang mengatakan, enam orang terluka dan dibawa ke rumah sakit.
Pernyataan kementerian yang mengidentifikasi pengemudi dan merujuk pada kesehatan mentalnya muncul beberapa jam setelah kemarahan meletus di media sosial, dengan banyak warga Mesir memandang pengibaran bendera Israel sebagai provokasi yang disengaja pada saat simpati publik terhadap Palestina meningkat.
Para analis mengatakan kepada The New Arab bahwa pihak berwenang sebelumnya telah memberikan penjelasan “kesehatan mental” dalam kasus-kasus yang sensitif secara politik untuk menenangkan kemarahan publik.
Seperti insiden pada 3 Juni 2023, seorang polisi Mesir berusia 22 tahun, Mohamed Salah Ibrahim, menyeberang ke wilayah Israel dan membunuh tiga tentara sebelum ditembak mati. Kairo kemudian mengatakan bahwa ia menderita masalah kesehatan mental.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
“Saya mengira pemerintah akan menyatakan pengemudi mobil yang membawa bendera Israel itu sakit jiwa untuk menutup kasus ini dan menenangkan kemarahan publik,” kata mantan menteri tenaga kerja Kamal Abu Eita kepada The New Arab sebelum pernyataan kementerian tersebut.
“Pemerintah Mesir tahu bahwa warga Mesir menganggap Israel sebagai musuh utama bangsa Arab,” tambahnya.
Ribuan warga Mesir membagikan rekaman insiden Kerdasa, mengutuk provokasi tersebut dan menuntut hukuman yang lebih berat.
Meskipun Kairo mempertahankan perjanjian damai tahun 1979 dengan Israel dan telah memainkan peran sentral dalam memediasi pembicaraan gencatan senjata Gaza, para analis mengatakan bahwa insiden Kerdasa menyoroti kesenjangan yang terus-menerus antara kebijakan resmi dan sentimen publik. []
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic