PRIA ROHINGYA BABAK BELUR DISERANG PETUGAS IMIGRASI UNTUK DAFTARKAN ANAKNYA

Operasi polisi mengamankan jalannya sensus (Potho: Irraweddy)
Operasi polisi mengamankan jalannya sensus (Potho: Irraweddy)

Maungdaw, 4 Jumadil Akhir 1436/24 Maret 2015 (MINA) – Seorang pria berusia 25 babak belur diserang petugas Polisi Imigrasi menggunakan gagang senapan hingga tak sadarkan diri.

Pria yang diidentifikasi bernama Md Yunus, bermaksud mendaftarkan nama anak-anaknya dalam sensus kepada petugas imigrasi pada Ahad (22/3) lalu.

Dia menanyakan alasan kepada petugas penyebab penolakan registrasi anak-anaknya ke daftar sensus, Burmatimes dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA) melaporkan.

Tanpa sebab petugas yang berjaga di imigrasi memukulnya dengan gagang senapan dan menendangnya tanpa ampun dengan sepatu mereka hingga tak sadarkan diri.

Yunus kemudian dibawa ke tahanan, sementara penduduk setempat gagal mencoba mengamankan agar dia tidak ditahan.

Sejak kejadian itu, pemerintah mengadakan jam malam di desa-desa terdekat yang mengakibatkan situasi desa semakin lengang.

Komunitas Muslim Rohingya di Myanmar telah dianiaya dan menghadapi penyiksaan dan represi sejak kemerdekaan Myanmar pada 1948.

Pemerintah Myanmar mengumumkan bahwa minoritas tidak akan diizinkan untuk mendaftarkan diri sebagai “Rohingya” dalam sensus pertama negara itu yang dibantu oleh PBB dan akan berakhir pada 10 April mendatang. Kaum Muslim Rohingya mencapai sekitar lima persen dari populasi negara itu hampir 60 juta.

Laporan-laporan mengatakan ratusan ribu Muslim Rohingya di Myanmar menderita kekurangan air, makanan dan minum yang parah. Pengiriman bantuan kemanusiaan telah melambat di Rakhine sebagai akibat dari eskalasi kekerasan sektarian.

Pemerintah Myanmar telah berulang kali dikritik oleh kelompok hak asasi manusia karena gagal melindungi Muslim Rohingya.

Menurut PBB, Rohingya adalah salah satu komunitas yang paling teraniaya di dunia. Ratusan Muslim Rohingya tewas dan terluka dalam bulan-bulan terakhir disebabkan meningkatnya kekerasan sektarian di negara itu. Ribuan lainnya telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.(T/P004)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0