Pribadi Buya Hamka yang Menakjubkan

Oleh: Rendi Setiawan, wartawan MINA

Daya ingat dan kesan dalam pandangannya, itulah kelebihan Buya Hamka, yang kemudian dia tuangkan dengan pena-nya, dalam mesin tik-nya. Membaca dan menulis seperti sudah menjadi santapan setiap hari bagi Buya Hamka, sebagaimana diungkapkan oleh putranya H. Rusydi Hamka dalam ‘Pribadi dan Martabat Buya Hamka’.

Seorang profesor dari Arizona State University James R. Rush dalam ‘Adicerita Hamka’ mengatakan, sejak masih muda, Buya Hamka sangat gemar menulis. Beliau sudah banyak menerbitkan beragam tulisan yang tersebar di surat-surat kabar yang sudah ada pada zaman itu.

Saking gemarnya menulis, Buya Hamka memiliki banyak nama pena seperti A.S. Hamid, Abu Zaki, dan sebagainya. Tak hanya itu, Buya Hamka juga dikenal sosok yang suka mengajak sejawatnya menulis. Buya Hamka juga dikenal senang menerbitkan tulisan Haji Agus Salim, Mohamad Natsir, Isa Ansary, Dr. Soetomo hingga Mohamad Hatta dan Ir. Soekarno.

M. Yunan Nasution, salah seorang rekan kerjanya di Pedoman Masjarakat pada tahun 1930-an dalam ‘Hamka Sebagai Pengarang dan Pujangga’ menggambarkan Buya Hamka sebagai pribadi yang senang membaca dan belajar. Bahkan, ketika Buya Hamka pindah ke Medan, beliau hampir membawa seluruh bukunya ke sana.

Sebagian besar buku koleksi Buya Hamka merupakan buku berbahasa Arab, termasuk terjemahan karya Inggris, Perancis, dan sejumlah negara Barat lainnya dalam bahasa Arab. Kebanyakan buku-buku itu membahas filsafat, sejarah, tasawuf dan moralitas. Menurut Nasution, Buya Hamka bisa membaca sampai berjam-jam bahkan hingga larut malam.

Rusydi Hamka bercerita bahwa pada suatu hari dia mengajukan pertanyaan kepada ayahnya, Buya Hamka. Pertanyaan itu seputar bagaimana cara ayahnya hebat dalam mengarang, dan juga bagaimana cara ayahnya bisa mendatangkan inspirasi dalam memulai tulisan.

Rusydi yang baru saja pulang dari kembali dari Jepang, menyaksikan perkembangan Islam di bawah pimpinan Dr. Futaki yang sangat populer saat itu. Sebelum menulis laporan, Rusydi mengumpulkan catatan buku-buku tentang Jepang yang dia bawa. Rusydi mengakui, membuat sebuah tulisan tak gampang, bahkan sampai beberapa hari dia belum memulai.

“Kapan tulisan Jepangmu itu akan selesai?” tanya Buya Hamka.

“Saya masih menambahkannya dulu dengan bahan-bahan ini,” Jawab Rusydi seraya menunjuk buku-buku yang sedang dia baca saat itu.

“Mengaranglah dulu dengan ilham. Tulislah apa yang kamu lihat, alami, baru kemudian kamu lengkapi dengan bacaan. Menurut pengalaman Ayah, kalau terlalu lama untuk dimulai akan lupa pada kesan-kesan perjalanan itu. Dan apabila menggantungkan kepada buku, tulisanmu tidak akan hidup nantinya,” katanya.

Buya Hamka mengambil tempat duduk di depan sebuah meja. Lalu menyuruh anaknya mengambil kertas dan mesin tik, terus mengetik dengan dua jari telunjuknya. Setengah jam selesai, lalu menyerahkan tulisan itu kepada anaknya untuk dikoreksi. Sebuah karangan menarik yang akhirnya diterbitkan di rubrik Dari Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat.

“Enaknya,” pikir Rusydi.

Begitulah ilham bagi Buya Hamka yang tampaknya bisa datang kapan dan di mana saja, tanpa ditunggu-tunggu. Beliau sering membaca Al-Quran lalu surat-surat kabar. Kemudian sarapan pagi nasi setengah piring dengan ditemani kopi pakai gula sakarin. Setiap selesai makan, Buya Hamka selalu pergi ke meja tulisnya untuk mengarang dan mengetik sendiri.

Kebiasaan Buya Hamka itu setiap hari sejak selesai salat subuh. Biasanya, Buya Hamka memulai untuk mengetik buah pikirannya setiap pukul 7 hingga jam 9 pagi, lalu mandi, dan bersiap untuk keluar rumah. Inspirasinya selalu muncul setiap selesai membaca Al-Quran dan surat-surat kabar.

Masih menurut catatan Rusydi, bukan itu saja yang menakjubkan dari pribadi seorang Buya Hamka. Beberapa lainnya seperti tidak pernah meninggalkan salat tahajud, dan juga daya ingatnya yang sangat kuat. Bahkan dalam tahanan politik rezim Orde Lama, Buya Hamka menulis karya agungnya, Tafsir Al-Azhar.

Soal daya ingatan, Buya Hamka adalah salah satu juaranya. Dalam setiap perjalanan kemana pun, Buya Hamka tak pernah absen untuk menuangkan gagasannya.

Menurut pengakuan Rusydi, meski hanya mengandalkan pada penglihatan dan ingatannya untuk merekam kesan-kesan perjalanannya, tidak ada satu pun dari anak-anaknya yang memiliki keistimewaan ini.

Buya Hamka lahir di Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Beliau meninggal dunia di Jakarta pada 24 Juli 1981, atau pada usia yang ke-73. (A/R2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)