Problematika Pengangguran di Palestina

Oleh : Ali Farkhan Tsani, wartawan MINA

Menteri Tenaga Kerja Palestina Nasri Abu Jaish, dalam Forum Internasional Solidaritas Buruh dan Rakyat Palestina melalui Zoom pada 18 Juni 2021 memaparkan, tingkat pengangguran di negaranya telah mencapai 50% dari angkatan kerja, yang merupakan tertinggi di dunia.

Nasri juga melaporkan, selain meningkatknya jumlah pengangguran usia kerja, terutama pada masa pembatasan pandemi Covid-19, beberapa pelanggaran terhadap pekerja dan rakyat Palestina dilakukan oleh pendudukan Israel. Seperti dilaporkan Quds Press.

Jumlah pekerja di Palestina saat ini 150 ribu pekerja, mewakili 20% dari tenaga kerja warganya.

Persyaratan yang ada mempekerjakan 40% dari mereka tanpa izin kerja.

Dia juga menunjukkan bahwa mayoritas pekerja Palestina bekerja di sektor konstruksi, setara dengan 65% dari jumlah tenaga kerja, yang merupakan sektor paling berbahaya di antara berbagai sektor tenaga kerja.

Mayoritas kematian dan cedera kerja yang terjadi di antara pekerja Palestina terkonsentrasi pada sektor konstruksi, dengan 47 pekerja meninggal dan 7.000 lainnya cedera.

Kondisi lainnya, para pekerja kehilangan lebih dari 40% gaji mereka kepada calo tenaga kerja ilegal, hingga mencapai satu miliar shekel
(setara denan Rp4,4 triliun) per tahun.

Pengangguran di Jalur Gaza

Pengangguran lebih memprihatinkan terjadi di Jalur Gaza. Kondisi para pekerja semakin memburuk dan melonjak ke level berbahaya, mencapai 82% per akhir tahun 2020.

Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Palestina, Sami Al-Amsi mengungkapkan pada media online Palestine Economy, situasi para pekerja semakin sulit memasuki tahun kedua krisis virus Corona.

Kondisi menjadi tingkat berbahaya yang mengancam realitas segmen kehidupan sehari-hari, ditambah blokade 15 tahun oleh pendudukan yang tak berperi kemanusiaan sama sekali.

Al-Amsi mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh serikat pekerja, bahwa jumlah pekerja yang terkena dampak berjumlah lebih dari 160.000 orang.

Blokade ditambah pandemi membuat ratusan pabrik, perusahaan, bengkel dan pusat komersial tidak dapat beroperasi secara normal.

Dampak virus Corona juga membayangi segmen pekerja dan menghantam berbagai sektor, dengan menutup pabrik dan perusahaan, serta merumahkan ribuan pekerja, dari berbagai sektor industri dan komersial.

Kondisi ini membuat ribuan pekerja tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup minimum, memperburuk kondisi kemanusiaan dan meningkatkan tingkat kemiskinan ekstrim di kalangan masyarakat.

Sektor angkutan di Jalur Gaza secara umum lumpuh. Ada 15-20 ribu pengemudi yang hanya bekerja paruh waktu atau sewaktu-waktu saja.

Sementara sektor konstruksi, yang dulu mempekerjakan 40.000 pekerja, dihentikan total.

Pada sektor lainnya, 4 ribu nelayan menderita serangan pendudukan hampir setiap hari.

Solusi Atasi Pengangguran

Direktur Organisasi Buruh Arab, Fayez Al-Mutairi, menyerukan untuk mendukung pekerjaan di Palestina dan mengurangi tingkat pengangguran, yang mencapai 50% dari angkatan kerja.

Ia menekankan perlunya evaluasi kembali strategi nasional untuk pekerjaan tahun-tahun mendatang.

Ia mengusulkan melalui Organisasi Perburuhan Internasional untuk menggalang dukungan negara donor, yang meliputi perwakilan pemerintah, pemilik bisnis dan serikat pekerja global.

Ia juga mengecam pendudukan Israel yang mengabaikan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.

“Ada hukum internasional, norma, dan resolusi PBB yang diabaikan. Pembersihan etnis pun terus berlanjut di Sheikh Jarrah dengan bantuan milisi ekstremis untuk mengusir secara paksa warga Palestina,” ujarnya.

Al-Mutairi juga mengimbau para pejuang kemerdekaan dunia melawan rasisme dan praktik keji otoritas pendudukan, serta meminta dunia untuk mendukung ekonomi Palestina terutama sektor Dana Ketenagakerjaan Nasional berkoordinasi dengan Organisasi Buruh Arab .

Pendudukan Israel pun mengeksploitasi pandemi untuk memperluas pembongkaran rumah, memperketat penutupan serta mengendalikan pergerakan orang dan barang.

Bantuan kemanusiaan saat ini pun menjadi begitu sangat berarti dan amat dibutuhkan warga di Palestina.

Bukan hanya bantuan tunai langsung, tapi bantuan untuk menghidupkan kembali industri-industri, kerjasama pesanan produk-produk Palestina, dan yang paling pokok segera dibuka blokade atas Jalur Gaza. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)