Protes di Kota-Kota Lebanon Berlanjut

Beirut, MINA – Ratusan ribu warga memenuhi jalan-jalan di Lebanon pada Ahad (20/10), dalam protes terbesar selama empat hari terakhir, menuntut diakhirinya kesengsaraan ekonomi dan dugaan korupsi pemerintah.

Protes telah tumbuh dengan kuat di seluruh negeri sejak orang turun ke jalan pada Kamis malam sebagai tanggapan atas usulan pajak terhadap panggilan WhatsApp dan layanan pesan lainnya.

Ibu kota Beirut, kota Tripoli di utara dan pelabuhan selatan Tirus terhenti, jalan-jalan dipenuhi dengan pengunjuk rasa mengibarkan bendera nasional, meneriakkan “revolusi” atau “rakyat menuntut jatuhnya rezim” mirip Musim Semi Arab 2011. Pertemuan besar rakyat juga dilaporkan terjadi di kota Sidon dan Baalbak.

“Saya di sini karena saya jijik oleh politisi kami. Tidak ada yang berhasil …,” kata Cherine Shawa (32), seorang arsitek interior di Beirut, demikian Al Jazeera melaporkan.

Mengakhiri korupsi yang merajalela adalah tuntutan utama para pengunjuk rasa, yang mengatakan, bahwa para pemimpin negara itu telah menggunakan posisi mereka untuk memperkaya diri selama beberapa dekade melalui kesepakatan dan suap yang menguntungkan.

“Kami di sini untuk mengatakan kepada para pemimpin kami, ‘Pergi’. Kami tidak memiliki harapan pada mereka tetapi kami berharap bahwa protes ini akan membawa perubahan,” kata Hanan Takkouche, berusia 40-an dan di antara sekelompok wanita di ibu kota . “Mereka datang untuk mengisi kantong mereka. Mereka semua penjahat dan pencuri,” tambahnya.

Sebuah pemogokan umum nasional telah diserukan pada Senin untuk menuntut perombakan pemerintah, meskipun ada janji reformasi oleh Perdana Menteri Saad Hariri dan myndurnya beberapa menteri pada Ahad. (T/RI-1/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)