Oleh Ustaz Dr. Rais Abdullah, M.A.
Perubahan lanskap global saat ini ditandai oleh berbagai tantangan yang semakin kompleks dan multidimensi. Perubahan iklim, pandemi, ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, serta instabilitas politik menjadi beberapa isu utama yang dihadapi umat manusia. Tantangan-tantangan ini tidak lagi dapat diselesaikan oleh satu negara atau kelompok tertentu, tetapi memerlukan pendekatan kolaboratif (berjamaah) dari berbagai pihak di tingkat global.
Salah satu ancaman terbesar yang dihadapi dunia saat ini adalah perubahan iklim. Fenomena ini telah menyebabkan peningkatan suhu global, cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, dan peningkatan frekuensi bencana alam seperti banjir, badai, dan kebakaran hutan telah mengancam keberlanjutan kehidupan di Bumi. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), jika tidak ada tindakan signifikan, suhu global dapat meningkat lebih dari 1,5°C pada tahun 2030, yang akan membawa dampak katastropik bagi ekosistem dan manusia.
Untuk menghadapi krisis ini, negara-negara di dunia telah membentuk berbagai inisiatif kolaboratif. Salah satu contoh terbesar adalah Perjanjian Paris 2015, di mana hampir 200 negara sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi kenaikan suhu global. Selain itu, organisasi seperti The Climate Group dan C40 Cities memfasilitasi kolaborasi antara kota-kota besar di dunia untuk menerapkan kebijakan ramah lingkungan. Misalnya, kota-kota seperti Copenhagen dan Stockholm telah berkomitmen untuk menjadi net-zero carbon cities pada tahun 2030 melalui kerja sama dengan sektor swasta dan masyarakat sipil. Kesepakatan ini menegaskan pentingnya kerja sama global dalam menanggulangi pemanasan global dengan komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca.
Baca Juga: Pengaruh Shaum Dalam Membangun Kepribadian
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak akhir 2019 -terlepas apakah itu konspirasi global atau bukan- juga menjadi bukti nyata bahwa krisis kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Virus ini menyebar tanpa mengenal batas negara, sehingga membutuhkan respons kolektif dari seluruh dunia. Menurut data WHO, hingga Oktober 2023, COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 700 juta orang dan menewaskan lebih dari 6,9 juta jiwa. WHO dan berbagai negara membentuk inisiatif COVAX, sebuah program yang bertujuan untuk memastikan distribusi vaksin yang adil dan merata ke seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang yang memiliki keterbatasan sumber daya dalam mengakses vaksin.
Selain itu, Ketidaksetaraan ekonomi telah menjadi masalah global yang semakin mengkhawatirkan. Menurut laporan Oxfam, 1% populasi terkaya dunia menguasai lebih dari separuh kekayaan global, sementara jutaan orang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Ketidaksetaraan ini diperparah oleh pandemi, di mana orang-orang miskin kehilangan pekerjaan dan akses ke layanan dasar.
Untuk mengatasi ketidaksetaraan, berbagai inisiatif kolaboratif telah muncul. The Global Partnership for Sustainable Development Data (GPSDD) bekerja sama dengan pemerintah, organisasi internasional, dan sektor swasta untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat digunakan untuk merancang kebijakan yang lebih inklusif. Selain itu, G20 telah mengadopsi agenda untuk mengurangi ketidaksetaraan melalui program-program seperti peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.
Dalam menghadapi tantangan politik dan keamanan global, kolaborasi juga menjadi pendekatan utama yang diusung oleh komunitas internasional. NATO, ASEAN, European Union (EU), dan Common Security and Defence Policy (CSDP) adalah beberapa contoh inisiatif kerja sama yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Baca Juga: Kaum Muslimin Saatnya Berperan Bukan Baperan
Selain itu, perkembangan teknologi dan digitalisasi turut memberikan tantangan sekaligus peluang bagi dunia. Di satu sisi, kemajuan teknologi membawa manfaat besar dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor. Namun, di sisi lain, disrupsi digital juga menimbulkan berbagai tantangan, seperti keamanan siber, ketimpangan akses terhadap teknologi, serta dampak terhadap lapangan kerja. Untuk menjawab tantangan ini, berbagai negara dan perusahaan global berkolaborasi dalam forum seperti G20 Digital Economy Task Force dan Internet Governance Forum (IGF) untuk menciptakan regulasi yang adil dan memastikan teknologi dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama.
Secara keseluruhan, dunia saat ini semakin menyadari bahwa dalam menghadapi tantangan- tantangan global, membentuk kehidupan berjamaah sangatlah penting. Aliansi dan forum internasional yang telah dibentuk menunjukkan bahwa dengan kerja sama yang erat, umat manusia dapat menemukan solusi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan.
- MASA DEPAN KOLABORASI GLOBAL
Diperkirakan, di masa mendatang kolaborasi global ini cenderung akan semakin menguat, Ada beberapa faktor utama yang mendukung tren ini.
Pertama, kompleksitas tantangan global terus meningkat. Perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, ancaman pandemi di masa depan, serta tantangan geopolitik semakin sulit untuk ditangani secara unilateral. Negara-negara dan organisasi internasional semakin menyadari bahwa kerja sama global adalah satu-satunya cara yang efektif untuk menghadapi tantangan ini. Dengan meningkatnya kesadaran ini, kolaborasi antarnegara dan sektor swasta pun akan semakin diperkuat.
Baca Juga: Pesan Tabligh Akbar 1446H, Sambut Ramadhan dengan Kesucian Hati
Kedua, ketergantungan ekonomi antarnegara semakin tinggi. Globalisasi telah membuat negara-negara saling terkait dalam rantai pasok global. Gangguan pada satu negara dapat berdampak luas terhadap perekonomian dunia. Oleh karena itu, negara-negara akan terus memperkuat aliansi ekonomi dan perdagangan untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Inisiatif seperti BRICS, ASEAN, dan European Union (EU) akan terus berkembang dan memperluas cakupan kerja sama mereka.
Ketiga, perkembangan teknologi dan digitalisasi semakin mendorong kolaborasi internasional. Isu-isu seperti keamanan siber, regulasi kecerdasan buatan, dan pengelolaan data global menuntut adanya kerja sama antarnegara. Aliansi dalam bidang teknologi akan semakin diperkuat untuk memastikan bahwa inovasi dapat dimanfaatkan secara adil dan tidak hanya menguntungkan segelintir negara atau perusahaan besar.
- PERINTAH BERJAMAAH DALAM MENGAMALKAN ISLAM
Islam sebagai agama yang komprehensif menekankan pentingnya persatuan dan kebersamaan (jamaah) dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Hal ini tercermin dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan menghindari perpecahan. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ هاللَِّ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا وَۖاذْكُرُوْا نِعْمَتَ هاللَِّ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَ˜اءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عََٰلى شَفَا حُفْرَةٍ ِ’منَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ ِ’منْهَا ۗ كََٰذلِكَ يُبَيِ’نُ هاللَُّ لَكُمْ َٰاَٰيتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Baca Juga: Peran Strategis Keluarga dalam Pengembangan Literasi Umat Menuju Masyarakat Madani
“Dan Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah Secara berjamaah,dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”.(Qs. Ali Imran: 103).
عَلَيْكُمْ بِالجْمَاَعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَة فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِْاثْنَيْنِ أبْعَد، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّة فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَة… الحديث رواه الترمذي عن ابن عمر.
“Hendaklah kalian selalu bersama Al Jama’ah. Dan janganlah kalian berpecah belah kerana syaitan itu selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan Buhbuhata Al Jannah, maka hendaklah ia teguh untuk menetapi Al Jama’ah”. (HR. At- Tirmidzi dari Ibnu Umar RA).
Selain perintah berjamaah, Al Quran juga memerintahkan kepada kaum muslimin untuk ta’awun (tolong menolong) seperti dalam QS. Al Maidah: 2, muwalah (saling memberi loyalitas (Qs. At Taubah: 71), At-Tanasur (bantu membantu) (Qs Al Anfal: 72) al Takaful (saling menanggung) (Qs. Al Baqarah: 177) al Muakhah (Bersaudara) (Qs Al Hujurat: 10).
Baca Juga: Kejahatan Zionis di Era Digital
Dalam konteks menghadapi krisis global yang multidimensi seperti ekonomi, ketahanan pangan, sosial, politik, kesehatan, dan pertahanan keamanan (hankam) berjamaah menjadi sebuah keharusan yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga strategis.
- URGENSI MENERAPKAN HIDUP BERJAMAAH DI MASA DEPAN
Umat Islam di masa depan akan menghadapi berbagai tantangan dan cobaan yang semakin kompleks di era globalisasi dan teknologi. Dalam hadist Hudzaefah Bin al Yaman, disebutkan periodisasi masa yang akan dihadapi umat Islam:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اُلله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اِلله صَلَّى اُلله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّ ِ’ر مَخَافَةَ
أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اِلله أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَ ِ’ر فَجَاءَنَااَّللَُّ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَ ِ’ر قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّ ِ’ر مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَ ِ’ر قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اِلله صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اِلله فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Saat Menghadiri Tabligh Akbar: Ini 7 Kiatnya
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan Keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang Keburukan ?” Beliau berkata : “Ya” Aku bertanya : “Dan apakah setelah Keburukan ini akan datang kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, tetapi didalamnya ada dakhan (kabut)”. Aku bertanya : “Apa kabutnya itu
? Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang Keburukan lagi?” Beliau menjawab:”Ya, (akan muncul) para dai- dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka” Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?” Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita” Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini” Beliau menjawab : “engkau menetap dalam jama’ah muslimin dan imam mereka” Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah muslimin?” Beliau menjawab:”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu” (HR. Al Bukhari dari Hudzaefah bin al Yaman).
Dalam dialog dalam hadis di atas, terdapat petunjuk bahwa sejarah umat Islam akan mengalami siklus antara kebaikan dan keburukan, dengan tantangan berupa penyimpangan dan fitnah. Dan semakin jauh dari masa Kenabian, penyimpangan dan fitnah akan semakin besar dan berat.
لا يَأْتي علَيْكُم زَمَانٌ إلَّا الذي بَعْدَهُ شَرٌّ منه / الحديث رواه البخاري عن أنس بن مالك
Baca Juga: Silaturahim Membuka Pintu Keberkahan
“Tidak datang suatu masa kepada kalian, kecuali masa berikutnya Lebih buruk dari sebelumnya”. (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik)
Berdasarkan hadis-hadis tentang akhir zaman, dapat disebutkan beberapa tantangan dan ujian yang akan dihadapi umat Islam:
- Islamofobia dan Diskriminasi
- Penjajahan dan Intervensi Asing
- Perang Pemikiran dan Ideologi
- Globalisasi
- Dominasi budaya non- muslim
- Dekadensi Moral
- Pelemahan Peran Keluarga Muslim
- Ekploitasi Ekonomi dan sumber daya alam Umat Islam
Tantangan-tantangan di atas adalah tantangan eksternal yang muncul dari luar umat Islam; mereka akan bersatu padu untuk menghadapi umat Islam. Al Quran mengingatkan:
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَ ˜اءُ بَعْضٍۗ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الَْارْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌۗ
Baca Juga: Ini Dia Para Pembicara Tabligh Akbar dari Luar Negeri
“Orang-orang yang kufur, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal: 73).
Dalam Tafsir Al-Muyassar yang ditulis oleh Kementerian Agama Saudi Arabia dijelaskan: ”Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pembela sebagian yang lain. Dan kalian wahai kaum mukminin, bila tidak menjadi pembela bagi sebagian yang lain, niscaya munculah di muka bumi fitnah bagi kaum mukminin yang menjauhkan mereka dari agama Allah dan timbul kerusakan yang merajarela dengan adanya hambatan menuju jalan Allah dan menguatkan tiang-tiang penyangga kekafiran”.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa berjamaah bukan hanya sebuah kewajiban agama, tetapi juga kebutuhan strategis untuk menghadapi tantangan masa depan. Tanpa kesatuan, umat Islam akan terus terpecah, lemah, dan mudah dimanipulasi oleh kekuatan eksternal. Sebaliknya, dengan bersatu dalam satu jamaah yang kuat, umat Islam dapat: melindungi hak-hak Muslim secara global, mengembangkan ekonomi Islam yang mandiri, menjaga moral dan identitas Islam, bersaing di kancah global dengan kekuatan lain.
- BISYARAH (KABAR GEMBIRA) TENTANG MASA DEPAN UMAT ISLAM
Salah satu yang membedakan umat Islam dengan umat lain, adalah bahwa masa depan umat Islam sangat jelas dan pasti. Banyak ayat dan hadis yang menegaskan hal tersebut, di antaranya:
Baca Juga: Panitia Nyatakan Siap Gelar Tabligh Akbar, Layani Jamaah dengan Sepenuh Hati
وَعَدَ هاللَُّ الَّذِيْنَ َٰامَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا ال هصلَِٰحتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الَْارْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَ ِ’كنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتََٰضى لَهُمْ وَلَيُبَدِ’لَنَّهُمْ ِ’منْْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ َٰذلِكَ فَاُوَٰلىِٕكَ هُمُ الَْٰفسِقُوْنَ
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang- orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik.” ( Qs, An-Nur : 55)
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْْۢ بَعْدِ الذِ’كْرِ اَنَّ الَْارْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ال هصلِحُوْنَ
“Sungguh, Kami telah menuliskan di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam aż-Żikr (Lauhulmahfuz)
Baca Juga: Pentingnya Tabligh Akbar dalam Dakwah Islam
bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Qs. Al-Anbiya: 105).
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اُلله أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اُلله أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ
يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اُلله أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اُلله أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اُلله أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa- penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa- penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad dari Nukman bin Basyir)
Ayat dan hadis di atas menginformasikan tentang janji Allah dan kepastian terwujudnya kejayaan umat Islam di masa mendatang dalam naungan khilafah ala minhanjin Nubuwah.
Selain Bisyarah (kabar gembira) dari ayat dan hadis di atas, menurut Said Hawa, ada 8 faktor kesamaan yang sangat berpotensi mempersatukan umat Islam dalam satu jamaah. Ke delapan faktor kesamaan tersebut adalah:
- Kesamaan Akidah
Seluruh umat Islam memiliki akidah yang sama, yaitu berlandaskan kalimat syahadat: “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Siapa pun yang mengikrarkan syahadat ini diakui sebagai bagian dari umat Islam dan dianggap sebagai saudara seiman.
- Kesamaan dalam
Ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji menjadi elemen pemersatu umat Islam. Praktik ibadah yang seragam ini memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan di antara mereka.
- Kesamaan dalam Meneladani Rasulullah .
Rasulullah Muhammad ﷺ adalah panutan bagi seluruh umat Islam. Kesadaran akan hal ini dapat menginspirasi kesatuan dalam sikap dan perilaku, sehingga mempererat persaudaraan sesama Muslim. Rasulullah juga menekankan bahwa keimanan seseorang tidak akan sempurna sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
- Kesamaan
Persatuan umat Islam tidak didasarkan pada kesamaan tanah air, bangsa, atau bahasa, melainkan pada kesatuan dalam ajaran para nabi. Setiap Muslim memiliki keterikatan sejarah dengan Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad ﷺ, serta para pengikut mereka yang beriman.
- Kesamaan Pedoman
Umat Islam memiliki pedoman yang sama, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, peraturan dan hukum yang dianut juga bersumber dari keduanya. Jika terdapat perbedaan, maka perbedaan tersebut hanya bersifat ijtihadiyyah (berbeda dalam memahami dan menafsirkan teks Al-Qur’an dan As-Sunnah).
- Kesamaan Jalan Hidup (Manhaj). Umat Islam mengikuti jalan hidup yang sama, yaitu jalan yang ditempuh oleh para nabi dan orang-orang saleh yang mengikuti mereka. Hal ini tercermin dalam doa yang senantiasa dipanjatkan dalam shalat: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
- Kesamaan Bahasa Bahasa merupakan bagian dari keragaman manusia yang harus dihormati. Namun, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah diturunkan dalam bahasa Arab, maka bahasa Arab menjadi bahasa utama dalam memahami ajaran Islam secara bersama-sama. Imam Syafi’i pernah menyatakan bahwa secara tidak langsung, Allah mewajibkan manusia mempelajari bahasa Arab, sebab komunikasi antara Allah dan hamba-Nya berlangsung melalui Al-Qur’an yang berbahasa Arab, dan membaca Al-Qur’an merupakan bentuk
- Kesamaan dalam Kepemimpinan
Pada dasarnya, umat Islam memiliki satu pemimpin utama, yaitu Rasulullah Muhammad ﷺ. Setelah beliau wafat, umat Islam berkewajiban untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin (khalifah) yang akan meneruskan kepemimpinan dalam menegakkan syariat Islam.
Melihat berbagai faktor kesamaan dalam ajaran Islam ini, dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perpecahan di antara umat Islam, maka penyebabnya bukan berasal dari ajaran agama itu sendiri, melainkan lebih karena kesalahpahaman, prasangka buruk, atau kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sebenarnya.
- MUNGKINKAH UMAT ISLAM BERSATU DALAM JAMA’ATUL MUSLIMIN?
Menanggapi keraguan tentang kemungkinan umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan seorang imam (khalifah), Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dengan tegas menyatakan bahwa persatuan umat Islam adalah suatu kenyataan yang pasti terjadi, bukan sekadar angan-angan atau utopia. Dalam risalahnya yang berjudul Al-Ummah Al-Islamiyah Haqiqah La Wahm, beliau mengemukakan enam alasan yang mendukung kepastian terwujudnya persatuan umat Islam.
- Berdasarkan Perspektif Agama
Secara teologis, Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa kaum Muslim merupakan satu umat (ummah wahidah), bukan kelompok-kelompok yang terpisah. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
اِنَّ ٰهذِ ,هٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
“Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 92)
- Berdasarkan Sejarah
Dalam catatan sejarah, umat Islam pernah bersatu di bawah satu kepemimpinan khalifah selama hampir seribu tahun, mencakup wilayah yang sangat luas dari Cina di timur hingga Andalusia (Spanyol) di barat. Meskipun ada beberapa perpecahan dan wilayah yang sempat memisahkan diri, umat Islam tetap merasa sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar. Faktor utama yang menjaga persatuan ini adalah adanya tujuan yang sama, musuh yang sama, serta berbagai aspek lain yang memperkuat keterikatan mereka.
- Berdasarkan Geografi
Secara geografis, umat Islam tersebar di wilayah-wilayah yang saling berdekatan dan membentuk satu kesatuan yang berkelanjutan. Dari Jakarta (Indonesia) di timur hingga Rabat (Maroko) di barat, atau dari Samudera Pasifik hingga Samudera Atlantik, wilayah Muslim membentang luas dan terhubung satu sama lain.
- Berdasarkan Realitas Sosial
Kenyataan menunjukkan bahwa umat Islam memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Ketika satu bagian dari umat mengalami penderitaan, bagian lainnya turut merasakannya dan berusaha memberikan bantuan. Contoh nyata dapat dilihat dalam perjuangan membebaskan Masjid Al- Aqsha dari cengkeraman Zionis, di mana umat Islam di seluruh dunia memberikan dukungan kepada para mujahidin. Hal serupa terjadi saat kaum Muslim Bosnia menghadapi agresi, di mana umat Islam dari berbagai negara memberikan bantuan dan mengikuti perkembangannya dengan penuh perhatian. Begitu pula dalam konflik Palestina tahun 1967 dan jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan, umat Islam dari berbagai belahan dunia berpartisipasi dalam perjuangan tersebut.
- Berdasarkan Pandangan Non-Muslim
Bahkan di mata non-Muslim, umat Islam tetap dipandang sebagai satu kesatuan. Meski terjadi perpecahan dan perselisihan internal, mereka melihatnya sebagai perbedaan lahiriah semata, sementara di tingkat batin dan emosi, umat Islam tetap memiliki rasa kebersamaan.
- Berdasarkan Manfaat dan Tuntutan Zaman
Jika kesatuan umat Islam tidak bisa diwujudkan berdasarkan faktor agama, sejarah, geografi, realitas sosial, maupun pandangan non-Muslim, maka secara logika manfaat dan tuntutan zaman, persatuan ini tetap menjadi suatu keharusan. Di era teknologi yang semakin maju, umat Islam tidak akan mampu bersaing secara individu. Sementara itu, negara-negara industri besar justru terus mempererat kerja sama untuk menciptakan inovasi dan teknologi canggih. Oleh karena itu, membangun persatuan umat Islam adalah sebuah keharusan strategis untuk menghadapi tantangan zaman. Wallahu A’lam.[]
Mi’raj News Agency (MINA)