Puasa Asyura (Oleh: Ust. Imran Abdurahman)

Oleh Ustaz Imran Abdurahman, Amir Dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jakarta Utara

أَمَرَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
رَجُلًا مِن أسْلَمَ: أنْ أذِّنْ في النَّاسِ: أنَّ مَن كانَ أكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَومِهِ، ومَن لَمْ يَكُنْ أكَلَ فَلْيَصُمْ، فإنَّ اليومَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ.

الراوي : سلمة بن الأكوع | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري | الصفحة أو الرقم : 2007 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح] | التخريج : أخرجه البخاري (2007)، ومسلم (1135) باختلاف يسير

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah memerintahkan kepada seseorang bani Aslam: ‘Umumkanlah di kalangan kaummu atau di tengah-tengah masyarakat di hari ‘Asyura, siapa yang terlanjur makan hendaklah menyempurnakan sisa harinya, dan siapa yang belum makan hendaklah berpuasa.”

Penjelasan hadits

Rasulullah pernah menyuruh Hind bin Asma bin Harits Al Aslami, untuk mengumumkan kepada umat Islam, bagi siapa yang sudah terlanjur makan, hendaklah tidak makan di sisa harinya, bagi yang belum makan hendaklah berpuasa.

Hadits tersebut menceritakan sejarah tentang diwajibkannya puasa Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, tapi setelah turun perintah wajib puasa. Ramadhan, maka Rasulullah bersabda,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَ عَاشُورَاءُ يَصُومُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma dia berkata, “Dahulu hari Asyura’ adalah hari yang orang-orang jahiliyah pergunakan untuk puasa, tatkala turun bulan Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura’ hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, silakan ia tinggalkan.” ( HR. Bukhari no. 4141)

Berdasarkan hadits tersebut di atas, puasa Arafah yang semulanya wajib hukumnya, menjadi Sunnah.
Perubahan dari wajib ke Sunnah bukan hanya terjadi pada puasa Asyura, tapi sebelumnya juga pernah terjadi pada shalat malam, yang mulanya wajib menjadi Sunnah setelah Rasulullah melakukan Isra Mi’raj untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Perintah melaksanakan puasa di bulan Muharram khususnya 10 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Asyura menunjukkan kemuliaan bulan tersebut, Allah SWT menyelamatkan nabi Musa as dan umatnya dari Fir’aun dan bala tentaranya. Oleh karenanya orang orang Yahudi melaksanakan puasa setiap tanggal dan tahun di bulan tersebut. Maka ketika Rasulullah mengetahui hal itu, Rasulullah bersabda, “Kamilah yang lebih layak menghormati Musa maka Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa”.

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardu adalah shalat malam.” (HR. Muslim no 1982).

Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan puasa Asyura, bahwa sebaik-baik puasa setelah puasa wajib adalah puasa Asyura, bahkan keutamaannya sejajar dengan shalat malam. Hal ini wajar karena memang kedua Amalan tersebut dahulunya adalah amalan wajib.

Keutamaan lain dari puasa Asyura adalah dihapuskannya dosa setahun yang akan datang, tentu yang dimaksud dengan dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. (A/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)