Puasa, Iman dan Ilmu

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seperti kata Allah Ta’ala dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 183, bahwa orang yang diperintahkan untuk melaksanakan shaum Ramadhan adalah orang yang beriman. Arti simpelnya, orang yang belum beriman maka dia tidak ada kewajiban untuk berpuasa.

Selain itu, puasa dalam penjelasan lain dikatakan, akan memberikan efek positif bila dikerjakan dengan atau karena imanan wah tisaban. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.)

Allah Ta’ala akan mengampuni dosa orang yang berpuasa karena iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Jadi, ia menjalankan puasa itu bukan karena manusia atau yang lainnya. Inilah puasa yang bisa memberi efek diampuni dosanya yang telah lalu.

Puasa yang dikerjakan atas dasar iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah semata, maka akan memberikan buah lain, yakni lahirnya sifat-sifat mulia dalam diri. Sifat-sifat mulia yang lahir dari orang yang berpuasa itu antara lain sopan santun, jujur, disiplin, lemah lembut, sabar, qonaah, dan lainnya.

Sejatinya, orang yang sudah menyelesaikan puasa Ramadhan selama 30 hari, maka semua kebaikan akan terserap kuat dalam ruhnya. Sehingga saat ujian-ujian datang menghampirinya, dia sudah kuat dan sabar untuk menerimanya. Bukan sebaliknya.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Selepas menjalankan puasa Ramadhan, ada sebagian dari kita justeru buah Ramadhan itu tidak membekas. Sebaliknya malah karakter dan sifat buruk justeru kembali lagi seperti dulu saat sebelum menjalankan ibadah Ramadhan. Ada apa gerangan? Adakah yang salah dari shaum Ramadhan yang dijalankan sehingga tidak berujung pada takwa?

Puasa itu perlu ilmu

Orang yang berpuasa, bukan hanya atas dasar iman (keyakinan) semata. Namun, ada ilmu yang juga harus dia persiapkan. Ibadah tanpa ilmu, meski dikerjakan berpuluh bahkan berjuta kali, maka tak bernilai di sisi Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin puasanya bisa diterima jika ilmu untuk menjalankan puasa itu tak dimilikinya.

Karena itu, puasa atas dasar iman akan lebih bermakna lagi jika juga didasari dengan ilmu. Ilmu menjadi hal mutlak yang akan menyelamatkan amal ibadah seorang hamba agar tidak sia-sia. Karenanya, penting bagi setiap muslim untuk mengilmui terlebih dahulu setiap amal ibadah sebelum dia mengerjakannya.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang beribadah tanpa ilmu. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra. pernah melihat orang yang melaksanakan shalat di tanah lapang (lapangan) sesaat sebelum sholat idul fitri. Lalu Ali ra. menegur orang itu mengapa dia melakukan sholat itu, sebab sholat di lapangan sesaat sebelum sholat idul fitri itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namum, orang itu beralasan bukankah sholat itu baik? Benar kata Ali ra. hanya saja sholat yang dilakukan itu sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Perhatikan hikmah dibalik peristiwa Ali ra. dan orang yang melakukan sholat di lapangan sesaat sebelum sholat idul fitri dilakukan itu? Mungkin, bagi orang yang tidak berilmu, setiap sholat yang dikerjakan adalah baik. Bisa jadi benar. Hanya saja, jika sholat yang dikerjakan itu tanpa ilmu, maka sholat itu tak akan berbuah pahala, malah sebaliknya bisa membuat Allah Ta’ala murka kepadanya, nauzubillah.

Kasus lain yang lebih sederhana. Seorang muslim yang tersenyum kepada saudaranya. Orang yang tak berilmu, bisa jadi malas untuk memberikan seutas senyum kepada saudaranya jika bertemu. Namun, bagi orang yang mempunyai ilmu, maka jika ia bertemu saudaranya, ia akan memberi senyum. Mengapa? Sebab dia tahu senyum yang ia berikan secara tulus kepada saudaranya merupakan sedekah.

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqotun

Artinya, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi).

Dari dua contoh di atas, maka sekali lagi, ilmu itu sangat penting bagi setiap muslim. Bagaimana puasa Ramadhan yang kita jalankan ini akan berbuah takwa jika ilmu puasa Ramadhan itu sendiri tidak kita miliki.

Bagaimana mungkin sholat tarawih yang kita kerjakan selepas sholat bakdiyah isya akan bermakna bila ilmu tentang bagaimana cara sholat tarawih yang benar sesuai contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak kita pelajari.

Intinya, jangan pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu, terutama ilmu agama yang mulia ini (Islam). Sebab kata Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam, jika Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang itu, maka Allah akan memberinya ilmu (kepahaman) tentang syariat-syariat-Nya.

Semoga puasa Ramadhan yang kita jalankan ini bukan hanya didasari iman semata, tapi juga ilmu. Sehingga puncak dari Ramadhan yakni takwa bisa kita raih, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)a