Puasa Ramadhan Bukan Sekedar Menahan Lapar dan Dahaga

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Pengasuh Ma’had Nurut Jannah Pandeglang (Manjada) Banten

Puasa Ramadhan itu memang menahan diri dari makan dan dari minum, menahan diri dari lapar dan dahaga. Namun bukan sekedar menahan itu semua.

Maka ketika berpuasa Ramadhan seharian penuh, selama satu bulan, tidak lantas menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur, nonton tv, main game, medsos, jalan-jalan sore, ngabuburit, dll.

Kalau demikian, lalu apa bedanya dengan ketika tidak berpuasa Ramadhan? Malah ini lebih banyak waktu tidak produktifnya.

Mereka melandaskan bermalas-malasan dengan dalih, “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya terkabulkan dan amalannya dilipat gandakan”.

Syaikh Al-Albany mencantumkan hadits tersebut  dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah, dan mengatakan hadits tersebut lemah.

Sanadnya juga dipandang lemah oleh Al-Baihaqi, dengan menyebutkan Ma’ruf bin Hasan, salah seorang perawi hadits ini, lemah. Perawi hadits berikutnya Sulaiman bin Amr An-Nakha’i malah lebih lemah dari Ma’ruf bin Hasan. Al-Iraqi berkomentar dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, Sulaiman An-Nakha’i adalah salah seorang pendusta.

Justru seharusnya, kita harus lebih banyak amal kebaikannya sepanjang bulan suci Ramadhan iuni.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita tentang banyaknya orang yang berpuasa. Namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar. Juga tidak mendapatkan apa-apa pada shalatya, kecuali lelah. 

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya :”Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah memperoleh  apa-apa baginya dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari shalatnya kecuali lelah”. (HR Ad-Darimi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada hadits lain dikatakan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath Thabrani).

Selanjutnya agar puasa Ramadhan kita tidak sia-sia belaka, mari kita gunakan waktu dari menit ke menit dengan kebaikan-kebaikan. Mulai dari berpuasa, shalat fardhu, bertadarus Al-Quran, berdzikir, bersedekah, dsb.

Sehingga tidak ada celah untuk berbuat buruk, maksiat dan dosa.

Kemudian marilah kita tambah dengan amalan-amalan sunah, pendukung amalan wajib. Seperti shalat sunah qabliyah maupun  ba’diyah, shalat tarawih dan shalat dhuha. Senantiasa menjaga wudhu, berdoa pagi dan sore hari. Dan seterusnya.

Semua itu kita sendirilah yang menentukan programnya, mau dimaksimalkan seperti apa kehadiran bulan Ramadhan penuh berkah dan ampunan ini.

Semoga Allah menerima ibadah puasa Ramadhan kita, dan amalan-amalan lainnya sepanjang bulan suci Ramadhan ini. Aamiin. (A/RS2/P1).

Mi’raj News Agency (MINA)