Puasa Ramadhan dan Pengendalian Diri

Oleh: Habib Hizbulloh, Wartawan MINA Biro Sumatera.

Bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan, seperti halnya ibadah puasa yang merupakan amalan yang mesti dilakukan oleh seorang Muslim. Ada banyak nilai positif yang ditimbulkan dari berpuasa, baik dari faktor jasmani maupun rohani.

Secara jasmani, berpuasa dapat membantu regenerasi sel dalam tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, membantu menurunkan berat badan berlebih, mencegah kanker dan dapat meningkatkan fungsi kerja otak.

Sementara secara rohani, ibadah puasa memiliki manfaat dalam meningkatkan keimanan seseorang kepada penciptanya, menenangkan hati dan menenagkan pikiran karena dalam ibadah puasa, seseorang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, juga menghindari segala bentuk emosi-emosi negatif serta perilaku negatif lainnya.

Di samping banyaknya sisi positif dalam ibadah puasa, secara Zahir, ibadah puasa juga mungkin akan terasa memberatkan baik secara jasmani maupun rohani, karena memang manusia mempunyai kecenderungan untuk menuruti hawa nafsunya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah Yusuf ayat 53:

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53).

Sementara, dalam melaksanakan ibadah puasa, seseorang dituntut untuk mengendalikan diri dan juga menahan hawa nafsunya. Ini juga sebagai ajang Latihan dalam menguasai diri dan mengendalikan seluruh anggota tubuh baik lahir maupun batin dari mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Di dalam penggalan sebuah hadits Qudsi disebutkan:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَسْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Artinya: “Puasa itu adalah perisai. Maka, apabila seseorang sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor pada hari itu dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki oleh orang lain dan diajak berkelahi, hendaklah ia berkata ‘aku sedang berpuasa’.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pada hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ibadah puasa, terutamanya puasa Ramadhan, itu sebagai “junnah” artinya perisai atau pelindung. Yakni perisai bagi yang melakukannya dari melakukan dosa dan maksiat. Dan pada akhirnya puasanya itu menjadi perisai bagi dirinya dari siksaan neraka.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa orang yang sedang berpuasa tidak pantas berkata-kata kotor dan bertengkar. Justru dengan ibadah puasa yang dilakukannya itu seharusnya menjadi perisai bagi dirinya untuk tidak mengerjakan maksiat dan hal-hal yang diharamkan Allah.

Sudah seharusnya puasa yang dilakukan menjadi perisai bagi dirinya untuk tidak mengikuti hawa nafsunya.

Adapun puasa yang kaitannya dengan pengendalian diri, Imam Al-Ghozali merinci tiga tahapan ibadah puasa sebagai proses pendekatan spiritual, yakni: Pertama puasa orang awam yang sekedar menahan dirinya dari rasa lapar, haus dan syahwat. Kedua, puasa orang khusus, yaitu orang yang bukan hanya sekedar menahan rasa lapar, haus, dan syahwat seksualnya, tetapi ia mampu menahan diri pancainderanya diri perbuatan dosa. Ketiga, puasa orang super khusus, yakni yang bukan hanya menahan rasa lapar, haus, syahwat dan panca inderanya, tetapi puasa hati nurani. Inilah puncak tertinggi ibadah puasa dalam proses pendakian spiritual.

Dalam sebuah Riwayat, Jabir bin Abdullah pernah mengingatkan dalam perkataannya:

اِذَا صُمْتَ فَالْيَصُمْ سَمْعَكَ وَ بَصَرَكَ وَلِسَانَكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ وَدَعْ اَذَى الْخَادِمُ وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌوَسَكِيْنَةُ يَوْمَ صِيَامِكَ وَلا تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَصِيَامِكَ سَوَاءً

Artinya: “Apabila engkau sedang berpuasa, hendaklah puasa juga pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa. Jauhkanlah menyakiti pembantu. Hendaklah engkau berlaku terhormat dan tenang di hari ketika engkau berpuasa. Janganlah engkau samakan hari ketika engkau tidak puasa dengan hari ketika engkau berpuasa.”

Ibadah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, secara tidak langsung Allah Subhanahu Wata’ala mendidik hambanya untuk berlatih dan bersabar menahan lapar dan haus. Hal ini agar kita sebagai hambanya menjadi terbiasa peka terhadap penderitaan orang-orang miskin, dhuafa dan orang-orang yang memerlukan pertolongan. Dengan demikian, kita juga ditekankan untuk mudah mengeluarkan infaq, shadaqah, dan segala hal yang dapat meringankan beban yang mengalami kesulitan.

Maka, dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang dapat memberikan banyak manfaat termasuk mengendalikan diri secara sempurna, karena memang, hawa nafsu manusia adalah sesuatu yang sulit untuk diredam ketika tidak ada keimanan di dalam hati seseorang. Dengan berpuasa secara sungguh-sungguh sebagaimana Imam Al-Ghozali uraikan di atas, keimanan kepada Allah akan bertambah dan meningkat, sehingga memberikan kemudahan kepada seseorang dalam mengendalikan dirinya, baik dari perbuatan maksiat maupun suatu perbuatan yang merusak.

Dari berpuasa sebulan penuh juga, diharapkan dapat melahirkan kesadaran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu mengawasi perbuatan kita dan senantiasa mengawasi kita di mana pun kita berpijak. Ini juga sekaligus menjadi target dan tujuan untuk kita bisa menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, tetapi juga tidak hanya di bulan Ramadhan, kemampuan mengendalikan diri diharapkan selalu menjadi pegangan dalam menjalankan kehidupan di luar bulan Ramadhan. (A/R12/P2)

Mi’raj News Agency (MINA).