Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puasa Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Ali Farkhan Tsani - Rabu, 14 April 2021 - 04:11 WIB

Rabu, 14 April 2021 - 04:11 WIB

3 Views

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Pengasuh Ma’had Tahfidz Nurut Jannah Pandeglang (Manjada) Banten

Bulan Ramadhan tahun ini kita masih dihadapkan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas sosial, termasuk juga aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak relatif menjadi terbatas. Namun tentu saja, itu semua jangan sampai menghambat ibadah di bulan suci Ramadhan ini, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Shalat fardhu berjama’ah insya-Allah masih memungkinkan dilaksanakan di masjid-masjid, dengan keutamaan pahala 27 kali lipat dibandingkan di rumah. Terlebih pada bulan Ramadhan dilipatgandakan lagi pahalanya.

Demikian pula shalat Tarawih berjamaah di masjid. Bedanya seperti dilakukan di Masjidil Haram, shalat tarawihnya 11 rakaat, yang biasanya selama ini 21 rakaat.

Baca Juga: Aksi Kebaikan, Dompet Dhuafa Lampung Tebar 1445 Makanan Berbuka dan Takjil

Shalat tarawihpun dapat dilaksanakan di rumah, baik sendiri-sendiri atau bersama keluarga. Shalat tarawih (Qiyamu Ramadhan) ini patut menjadi perhatian utama bagi kita orang-orang yang melaksanakan puasa pada siang harinya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa melakukan shalat malam Ramadhan (Tarawih) karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada hadits lain dikatakan:

Baca Juga: Masjid Sekayu Semarang Cikal Bakal Pembangunan Masjid Agung Demak

إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

Artinya : “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (Tarawih)  karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Bertadarus Al-Quran, terlebih mengkaji isinya, juga masih dapat dilakukan, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok (halaqah). Biasanya majelis taklim ibu-ibu yang melaksanakan tadarusan berkelompok, dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak tempat duduk.

Jika kita manergetkan khatam satu kali dalam sebulan, maka kita perlu bertadarus satu juz sehari. Jika ingin dua kali khatam, berarti dua juz/hari. Demikian seterusnya.

Baca Juga: Berkah Ramadhan, Wahdah Tebar Paket Sembako

Banyak dari orang-orang sholih terdahulu bisa mengkhatamkan hingga puluhan kali dalam sebulan Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasllam pun demikian, beliau mentadarusi kembali ayat-ayat Al-Quran hingga khatam di hadapan Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam.

Begitulah, maka bulan Ramadhan pun disebut sebagai Bulan Al-Quran (Syahrul Quran). Seperti disebutkan di dalam ayat:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Baca Juga: Riska Gelar Anjangsana Sosial di Rumah Belajar Merah Putih Cilincing

Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…..”. (QS Al-Baqarah [2] : 185).

Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menjelaskan ayat ini di dalam Kitab Tafsir Al-Mukhtashar (Markaz Tafsir Riyadh), bahwa Allah menyebutkan keutamaan bulan puasa Ramadhan, yaitu bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia menuju kebenaran. Di dalam Al-Quran terdapat bukti-bukti yang sangat jelas tentang petunjuk Allah dan penjelasan tentang perbedaan kebatilan dan kebenaran.

Di dalam Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah, menjelaskan turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan lebih awal sebelum diwajibkannya berpuasa pada bulan yang sama, yaitu Bulan Al-Quran. Maka berkumpullah dua keistimewaan di dalamnya. Sehingga orang-orang yang berpuasa akan senang dan menghidupkannya dengan tilawah Al-Qur’an dan mentadabburinya, demi mewujudkan keagungan nama bulan Ramadhan tersebut. Karena itu, puasa Ramadhan memiliki kaitan kuat dengan Al-Quran.

Selanjutnya, Allah menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, menunjukkan ketergantungan setiap Muslim dengannya lebih tinggi. Hal ini agar mereka lebih menyibukkan diri dengan Al-Quran, dengan membacanya sendiri-sendiri atau tadarus bersama keluarga, mengisi setiap kesempatan waktu dengannya, dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas modern untuk menyebarkan Al-Quran, agar bulan Ramadhan benar-benar menjadi bulan Al-Quran.

Baca Juga: Masjid Jami’ Aulia Pekalongan Usianya Hampir Empat Abad

Lebih dari itu, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (hidayah), sehingga dengannya seseorang menggapai hidayah.

Masih banyak amalan lainnya di sepanjang bulan Ramadhan ini yang dapat kita lakukan, walau di tengah pandemi corona. Justru ini menjadi kecintaan dan kesungguhan kita untu menggapai keutamaan bulan penuh berkah ini.

Kajian-kajian baik offline maupun online, Zakat Infaq Sedekah (ZIS), menyantuni sesama yang membutuhkan, dan berbagai kebajikan lain, dapat dikerjakan pada bulan Ramadhan ini.

Seraya terus kita berdoa agar wabah pandemi Covid-19 segera Allah angkat dari dunia ini. Aamiin. (A/RS2/P1)

Baca Juga: Ini Lima Hikmah Puasa Ramadhan Sebagai Pendidikan Ruhiyah

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Indonesia
Indonesia