Pukuli Tahanan Palestina, Perwira dan Empat Prajurit Israel Ditahan

Yerusalem, MINA – Polisi Militer Israel hari Rabu (9/1) menahan seorang perwira dan empat prajurit yang diduga memukuli dua tersangka Palestina yang berada dalam tahanan, kata militer.

Dikutip dari media Israel The Time of Israel, bahwa kelimanya bertugas di batalyon relijius Kfir Netzah Yehuda.

Para prajurit itu  dibawa ke hakim militer pada Kamis (10/1), kata Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam sebuah pernyataan.

Dua tersangka Palestina ditangkap di daerah Ramallah dalam sebuah operasi penangkapan oleh militer Israel untuk mencari seorang yang diklaim Israel melakukan penyerangan bersenjata di sebuah halte bus di dekat pos Givat Assaf. Serangan ini menewaskan dua tentara dari Batalyon Netzah Yehuda dan melukai seorang anggota dari pasukan tersebut dan lainnya.

IDF menolak untuk mengomentari tanggal pasti penangkapan dan dugaan pemukulan oleh seorang perwira dan empat prajuritnya.

Kelimanya itu diduga memukuli dua tahanan Palestina sebagai bentuk balas dendam atas kawan-kawan mereka yang menjadi korban.

Tentara di Batalyon Netzah Yehuda, yang sebagian besar beroperasi di Tepi Barat, telah menjadi sasaran penyerangan oleh militan Palestina, terutama belakangan ini.

Bulan lalu, dua anggota batalion diberhentikan dari tugasnya setelah mereka berkelahi dengan sekelompok petugas Polisi Perbatasan yang telah menangkap teman-teman sipil mereka karena melemparkan batu ke rumah-rumah Palestina di Ramallah.

Juga pada bulan Desember, Polisi Militer melancarkan investigasi atas tindakan tentara Netzah Yehuda yang menembak mati seorang pria Yerusalem Timur yang mereka katakan mencoba menabrak mereka dengan mobilnya di sebuah pos pemeriksaan Tepi Barat. Investigasi awal atas insiden tersebut menemukan bahwa tidak ada upaya penabrakan yang terjadi.

Pada tahun 2016, seorang prajurit dari batalion itu dijatuhi hukuman kurungan 21 hari di penjara militer karena mengambil bagian dalam apa yang disebut “pernikahan kebencian,” di mana warga Palestina mengenang pembunuhan seorang balita Palestina beberapa bulan sebelumnya.

Tentara dari batalion Netzah Yehuda juga telah dihukum di masa lalu karena menyiksa dan menyiksa tahanan Palestina.

Batalion Netzah Yehuda dibentuk dan beranggotan dari Yahudi Ortodoks sebagai tentara religius yang mendapat kelonggaran dalam menjalankan keyakiannya. Para prajurit ini tidak berinteraksi dengan pasukan wanita pada tingkat yang sama dengan prajurit lainnya dan diberi waktu khusus untuk berdoa dan belajar. (T/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)