Puluhan Ribu Jamaah I’tikaf di Masjid Istiqlal

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Menjemput Lailatul Qadar, malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan (sekitar 83 tahun), jamaah masjid di perkotaan hingga ke desa-desa mulai memakmurkan masjid dengan ibadah i’tikaf di dalamnya. Kegiatan diisi dengan shalat malam (tarawih), tadarus Al-Quran, berdoa, berdzikir, dan beristighfar.

Termasuk kegiatan ibadah i’tikaf di Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun ini pun, kegiatan ibadah tak pernah sepi oleh umat Islam dari seantero Jakarta dan sekitarnya. Bahkan jamaah i’tikaf juga banyak yang datang dari luar kota bahkan luar negeri.

Suasana mirip seperti di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, terasa ketika jamaah memasuki Masjid Istiqlal tersebut. Di mana jamaah dapat melaksanakan qiyamulail ba’da isya atau tengah malam yang dilaksanakan sekitar pukul 01.30 dan berakhir sedikit lebih dari pukul 03.00.

Bacaan Sholat yang panjang dan merdu dari imam hafidz terpilih menambah hening dan syahdu suasana malam. Tiga belas rakaat total termasuk witir menjadi kebiasaan di masjid ini sejak 5-6 tahun yang lalu.

“Jamaah, marilah kita sebelum melaksanakan qiyamul lail, kita pasrahkan semuanya kepada Allah. Segala beban hidup hanya Allah-lah tempat kita mengadu. Mari hadirkan jiwa sepenuhnya menghadap-Nya dengan shalat,” ujar pengumuman pengurus Masjid Istiqlal, sebelum pelaksanaan shalat berjamaah, Senin malam (27/6/2016) kemarin.

Penulis, sebelumnya datang ke masjid seusai shalat Maghrib, setelah mengikuti dialog rekan-rekan jurnalis Muslim dan travel umrah bersama Dubes Pakistan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Jamaah rupanya masih melaksanakan shalat malam (tarawih) ba’da Isya. Lalu diumumkan bahwa bagi yang hendak mengikuti shalat tarawih tengah malam akan dilaksanakan sekitar pukul 01.30 WIB.

Setelah Penulis dan beberapa jamaah istirahat tidur, hingga dibangunkan oleh suara pengumuman, “Bangun, bangun, bapak ibu jamaah mari kita laksanakan shalat malam berjamaah”.

Imam pun mengimami shalat tarawih, dengan lantunan suara syahdu Surat Yasin dan Surat Ash-Shaffat, mengiringi Al-Fatihah.

Sementara jamaah yang sudah melaksanakan shalat bada isya, tampak membaca Al-Quran, ada yang sambil membaca buku, berdoa, dan berdzikir. Ada sekeluarga ikut serta dalam jamaah i’tikaf, sang ibu, ayah dan anak-anaknya diajak serta. Merekapun tidur di atas karpet yang cukp tebal di lantau satu, dan sebagian di lantai dua.

Sekitar puluhan ribu jamaah memadati lantai utama, dan lainnya ada di lantai dua, berbondong-bondong menyongsong Lailatul Qadar malam ke-23 di masjid seluas sembilan hektar yang mampu menampung 200 ribu jamaah itu.

Selesai shalat malam, jamaah pun makan sahur masing-masing. Ada yang memang membawa bekal sendiri, seperti nasi kotak atau nasi bungkus. Lainnya menyerbu tukang nasi di halaman masjid. Ada nasi pecel, nasi orek tempe, lontong sayur, dan makanan snack lainnya.

Dewan Masjid hanya menyediakan sekitar 3.000 santapan untuk berbuka puasa. Adapun sahur disediakan masing-masing.

Kegiatan lainnya yang juga sedang berlangsung adalah Pesantren Kilat Ramadhan 2016 yang dihadiri 1.000 peserta yang umumnya adalah pelajar.

Tampak kerinduan masyarakat perkotaan akan nuansa spiritual ilahiyah, di tengah kesibukan kerja dan rutinitas harian. Malam hari menyempatkan diri menuju masjid untuk beri’tikaf menghadap Sang Pencipta. Mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam yang beri’tikaf sepanjang sepuluh hari yang akhir di bulan suci Ramadhan.

Sebagian jama’ah terlihat khusyu bahkan sekilas matanya berkaca-kaca menahan kerinduan akan taubat kepada Sang Pencipta dalam dekapan i’tikaf.

Allah pun menyebutnya di dalam ayat: “…..kalian beritikaf di masjid-masjid….” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187).

Ya, i’tikaf, sebuah ibadah khusus dalam nuansa Masjidil Haram atau Masjid Nabawi di Masjid Istiqlal, untuk para jamaah yang hendak mendekatkan diri di haribaan ilahi robbi. Ibadah pengakuan atas segala kelemahan diri, dosa maksiat yang tak terperi, serta harapan untuk kembali suci.

Masing-masing kita pun dapat beri’tikaf di masjid manapun di sekitar tempat tinggal kita, di sekitar tempat kerja kita, sebagai tanda mencintai Nabi yang selalu meluangkan waktunya untuk beri’rikaf di tengah jihad beliau menegakkan kalimah Allah.

Semoga Allah menerima ibadah puasa, shalat dan i’tikaf kita pada khsusunya, dan amal kebaikan lainnya di bulan suci ramadhan ini. Aamiin. (P4/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)