Putin dan Assad Adakan Pertemuan di Moskow

Moskow, MINA – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Syiria Bashar Assad bertemu di Moskow membahas kerja sama antara tentara mereka, dan bagaimana melanjutkan operasi untuk menguasai daerah-daerah terakhir yang dikuasai pemberontak di Suriah.

Media pemerintah di Damaskus melaporkan pada Selasa (14/9), pertemuan antara kedua presiden pada Senin malam adalah yang pertama sejak mereka mengadakan pertemuan puncak di ibukota Suriah pada Januari tahun lalu, demikian Arab News melaporkan.

Media pemerintah Suriah menggambarkannya sebagai pertemuan panjang dan mengatakan keduanya kemudian bergabung dengan menteri luar negeri Suriah, dan menteri pertahanan Rusia untuk membahas hubungan timbal balik dan memerangi terorisme.

Putin dan Assad juga membahas proses politik di negara yang dilanda perang itu.

Kunjungan itu adalah yang pertama Assad ke Rusia sejak ia mengunjungi resor Laut Hitam Sochi pada 2017 untuk berbicara dengan Putin.

Rusia ikut terlibat dalam konflik Suriah pada September 2015, ketika militer Suriah tampak hampir runtuh, dan sejak itu membantu menyeimbangkan kekuatan demi Assad, yang pasukannya sekarang menguasai sebagian besar negara.

Ratusan tentara Rusia dikerahkan di seluruh Suriah dan mereka juga memiliki pangkalan udara militer di sepanjang pantai Mediterania Suriah.

“Saya senang bertemu dengan Anda di Moskow, enam tahun setelah operasi bersama kami untuk memerangi terorisme,” kata Assad.

Dalam beberapa pekan terakhir, aktivis oposisi Suriah mengatakan, pesawat tempur Rusia telah melakukan serangan di provinsi barat laut Idlib, kubu pemberontak besar terakhir di negara itu. Wilayah ini adalah rumah bagi sekitar 4 juta orang, banyak dari mereka menjadi pengungsi internal akibat konflik.

Pekan lalu, kesepakatan gencatan senjata yang dinegosiasikan Rusia mulai berlaku untuk mengakhiri pengepungan pemerintah dan pertempuran sengit di kota selatan Daraa.

Konflik Suriah dimulai pada Maret 2011 dengan protes anti-pemerintah dan kemudian berubah menjadi perang saudara yang telah menewaskan setengah juta orang dan membuat setengah dari populasi pra-perang negara itu sebanyak 23 juta, termasuk 5 juta yang merupakan pengungsi di luar negeri. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)