Pyongyang, MINA — Korea Utara melalui Kementerian Luar Negeri secara tegas mengutuk tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya.
Menurut Pyongyang, tindakan itu merupakan contoh nyata pelanggaran kedaulatan negara dan mencederai prinsip-prinsip hukum internasional.
Pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), menyebutkan Washington melakukan “hegemoni-seeking act” atau upaya hegemonik yang berlawanan dengan norma hubungan antarnegara.
Pyongyang juga menyatakan aksi AS mengonfirmasi apa yang disebutnya sebagai sifat “rogue and brutal” atau nakal dan brutal dari kebijakan Amerika Serikat.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Dalam pernyataannya, juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara menegaskan bahwa serangan dan penangkapan itu secara serius melanggar Piagam PBB yang mengedepankan penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan integritas teritorial setiap negara.
Pyongyang menyerukan komunitas internasional untuk bersuara dan menolak tindakan semacam itu.
Reaksi keras Pyongyang muncul bertepatan dengan laporan internasional bahwa pasukan khusus AS melakukan serangan militer di Caracas, ibu kota Venezuela, yang menyebabkan Maduro dan istrinya dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi tuduhan serius.
Langkah ini telah memicu perdebatan global mengenai legalitas dan implikasi geopolitik dari operasi tersebut.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Tanggapan terhadap operasi militer AS tidak hanya datang dari Korea Utara. Beberapa negara seperti China dan Brasil juga mengecam tindakan Washington, menyatakan bahwa penggunaan kekuatan tanpa persetujuan internasional merupakan ancaman terhadap stabilitas regional dan hukum internasional.
Korea Utara dan Venezuela selama puluhan tahun mempertahankan hubungan yang cukup erat, terutama melalui sikap anti-hegemoni Amerika Serikat. Pyongyang kerap menggunakan kritik terhadap kebijakan Washington sebagai legitimasi dalam memperkuat program militer dan nuklirnya.
Situasi ini semakin kompleks karena operasi AS terhadap Maduro dinilai melanggar norma internasional sekaligus meningkatkan ketegangan geopolitik di berbagai kawasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic