Qatar Kutuk Keras Penggunaan Senjata Kimia oleh Rezim Suriah

Den Haag, 12 Muharram 1438/13 Oktober 2016 (MINA) – Qatar mengutuk keras penggunaan senjata kimia oleh militer rezim di Suriah dan menyerukan mereka yang terlibat dalam serangan itu untuk diadili atau dimintai pertanggungjawaban.

Qatar News Agency (QNA) melaporkan, pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Tetap Qatar untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) Khaled Fahd Al Khater di hadapan Sidang ke-83 Dewan Eksekutif OPCW yang diadakan pada 11-14 Oktober di Den Haag, Belanda.

Negara Qatar, kata dia, mengapresiasi upaya yang dilakukan OPCW dan juga mendukung apa yang telah dilakukan dan sedang dilakukan oleh organisasi internasional itu untuk menyelidiki penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil di Suriah.

“Terutama kerja-kerja misi pencari fakta dalam menemukan kebenaran meski menghadapi risiko besar,” kata Al Khater seperti dikutip MINA dari laman harian Qatar, The Peninsula.

Al Khater menekankan bahwa delegasi Qatar mencatat laporan ketiga yang dikeluarkan oleh OPCW-UN Joint Investigative Mechanism dan diserahkan ke Dewan Keamanan PBB pada 24 Agustus sesuai dengan resolusi No 2235 (2015).

Laporan itu menyimpulkan bahwa rezim Suriah menggunakan senjata kimia di kota-kota Suriah, seperti Telmns dan Sarmin, dan juga menyimpulkan bahwa kelompok Islamic State (ISIS/Daesh) menggunakan senjata kimia di kota Mare’.

Ia menambahkan, langkah-langkah ketat harus diambil dalam masalah ini, dan mereka yang terlibat dalam serangan kimia ini harus bertanggung jawab.

“Penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Konvensi dan resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2118 (2013),” tegas Al-Khater.

Al Khater menekankan bahwa Qatar memberikan perhatian serius pada setiap upaya membersihkan dunia dari senjata kimia dan siap bekerja sama dengan OPCW.

Sebelumnya, laporan yang dirilis OPCW pada 7 Januari 2015 menyimpulkan gas klorin terbukti digunakan dalam serangan militer Suriah terhadap tiga desa – Talmenese, Al Tamanah, dan Kafr Zita- pada 2014. Sedikitnya 13 orang tewas dari 350-500 korban serangan gas beracun itu. (T/P022/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)