Radio Silaturahim, Ichsan: Jual Beli dengan Allah

Bekasi, MINA – Sembilan tahun lebih sudah Radio Silaturahim (Rasil) di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, mengudara berada di jalur dakwah dengan keterbukaan terhadap setiap kelompok dan golongan pendengar.

Drs. Ichsan Thalib sebagai salah satu pendiri Rasil menyebut bahwa jalan radio yang ditekuninya itu pada prinsipnya adalah “jual beli” dengan Allah.

Dalam Wawancara Khusus dengan wartawan Mi’raj News Agency (MINA) Rudi Hendrik di kantor Rasil pada Jumat (2/11), Ichsan yang kini menjabat sebagai Komisaris PT Radio Swara Citra Aditama (Rasil AM 720) menguraikan sekilas perjalanan radio dakwah ini.

Berikut kutipan lengkap wawancara MINA dengan Ichsan Thalib:

MINA: Mengapa memilih media radio?

Ichsan: Dakwah ini merupakan satu ikhtiar untuk menyampaikan pesan-pesan Rasul secara lebih luas. Radio di zaman sekarang ini terlihat efektifitasnya karena menciptakan imajinasi pemikiran orang. Radio bisa menemani orang di mana saja, radio bisa dibawa ke mana saja dan bisa menciptakan satu imajinasi tersendiri buat para pendengarnya.

Orang tidak malu ketika berbeda mendengarkan radio dan tidak memerlukan energi yang banyak untuk terlibat berprtisipasi dengan radio. Di perjalanan kehidupan saya ketika masih kecil juga suka mendengarkan, seperti Radio As Syafi’iyah, Radio Kayu Manis dan radio-radio dakwah di masa kecil. Ternyata zaman sekarang, ketika kita banyak melihat sosial media, terutama di Indonesia, tingkat baca kita sangat rendah sekali. Oleh karena itu tingkat mendengarnya diharapkan tidak memakan energi banyak untuk mendengarkan. Ya, macam orang ketiban ilmulah di dalam perjalanan. Ya itulah ikhtiar kita di tengah pertempuran pemikiran sekarang, perlu ada penyatuan hati umat. Nah, Radio Silturahim ini berikhtiar dengan tagline “Untuk Islam yang Satu”, dengan segala risiko kita dirikan radio ini sembilan tahun lebih yang lalu.

MINA: Bagaimana sejarah singkat awal terbentuknya radio ini?

Ichsan: Saya bersama Pak Faried (Thalib) sedang jalan di mobil mendengar salah satu radio dakwah. Kita sering mendengar radio dakwah. Banyak bagusnya, tapi banyak juga pemikiran-pemikiran yang perlu diimbangi, sehingga tidak menimbulkan kegusaran pada umat. Ternyata pengimbang ini hampir susah dicari.

Setiap pulang lewat di Tol Jagorawi kita dengar radio itu, kita bertemu dengan Ustaz Husein (Al Athas), selalu kita bahas. Akhirnya kita bilang bahwa pemikiran Ustaz Husein ini perlu disosialisasikan. Jika Ustaz Husein mau mengisi di radio ini, kita akan coba ikhtiarkan sebuah radio untuk dakwah lebih luas lagi. Ternyata mau. Kita hubungi orang ahli radio, temannya Pak Faried, Pak Krisna Purwana. Sekilas saja dengan segala kekurangannya di awal Rasil ini kita mengudara dengan stasiun AM 1368 khz.

Kita akuisisi dari radio lama, dalam perjalanannya menjadi AM 720 khz. Tidak mudah, karena kita dari awam dan mau belajar dari radio lain. Ikon kita adalah komunitas yang terbuka, mau mendengar kritik dan masukan. Ingin menyatukan hati umat.

Rasil terbentuk pada 9 September 2009, jadi sudah sembilan tahun lebih.

MINA: Akankah radio mempunyai tempat di perkembangan media yang cepat dan semakin beragam di era sekarang ini?

Salah satu program di Radio Silaturahim di bawah asuhan Ustaz Husei Alatas. (Gambar: Rasil)

Ichsan: Ini memang aneh. Terus terang kita juga terpengaruh atas pengimbangan pemikiran yang ada. Radio Silturahim ternyata punya kekhasan tersendiri. Kita belajar dengan berbagai radio, pakar-pakar radio, biasanya segmennya tertentu. Tapi radio ini didengar dari mulai anak-anak sampai kakek-kakek. Dari mulai profesi tukang becak sampai seorang menteri pun, polisi, tentara, banyak yang dengar radio kita.

Karena sedemikian luasnya wawasan pemikiran dari ustaz, apalagi Ustaz Husein, dan 30-an dai-dai lainnya. Ini menciptakan pemikiran yang dahsyat. Jangankan dengan radio yang lain, di Rasil pun kadang-kadang ada yang beda pendapat. Nah itu satu hal yang harus disikapi lapang dada ketika itu masalah furu’iyah.

Radio masih banyak pendengar, apalagi dengan kemacetan di berbagai kota. Kita lihat di semua mobil baru, apa pun jenis mobilnya, masih ada AM. Orang tanya “Kenapa AM?” karena daya pancarnya yang luas dan juga untuk suara sangat baik. Di beberapa negara seperti Amerika (Serikat), Australia, AM ini untuk suara lebih diminati, apalagi dengan teknologi sekarang.

MINA: Mengapa memilih segmen Islam dan dakwah, bukannya bersifat komersil?

Ichsan: Jika melihat bisnis radio, sekarang ini bukan saatnya kita menggulung keuntungan dari bisnis radio. Radio kita ini, walaupun komersial dalam hal struktur perizinannya, beberapa FM yang kita kerja sama, prinsipnya itu kita sedang berjual beli dengan Allah. Itu yang kita lakukan. Bukan hanya kita, tapi juga pendengar karena keberadaan radio ini juga disokong oleh pendengar yang membiayai radio ini, dari sopir taksi sampai pengusaha-pengusaha yang mapan.

Kita juga ada media televisi yang kita lakoni, hanya memang finansialnya agak lebih tinggi dan untuk itu kita “puasa” dulu, kita ganti dengan media televisi melalui satelit. TV Rasil sekarang mengudaranya melalui internet.

MINA: Bagaimana sekarang perkembangan Rasil?

Ichsan: Berbagai cabang atau pemilik radio di berbagai daerah juga melakukan kerja sama dengan kita. Seperti Radio Seila di Batam, itu didengar di Singapura dan sebagian Johor. Ribuan pendengar di sana. Di Cibubur Bekasi ini, di radio kita sendiri ini, berpancar sampai ke Banten, bahkan sampai Indramayu terus mendekati Cirebon.

Berangkat ke Sukabumi, sampai Cianjur mendekati Pantai Pelabuhan Ratu. Di Magelang untuk kota Magelang. Semarang untuk Semarang dan sekitarnya. Juga pendengar radio murni dari pengusaha daerah seperti di Bondowoso, Banyuwangi, dan Suara Madinah di Pontianak (FM). Sebentar lagi sudah siap di Bumi Sriwijaya, Palembang. Sebuah pesantren di Majalengka, Cirebon, insya Allah AM segera mengudara. Kita sudah merintis dengan kunjungan di Palu, untuk suara Radio Al-Khairat, sehingga bisa didengar di Donggala dan di seberang Pulau Kalimantan, di Balikpapan.

Mudah-mudahan ikhtiar ini terus berkembang dan menemani pendengar 24 jam untuk lebih dekat kepada Sang Khalik dan tentu saja menyatu dengan hati umat.

MINA: Rasil sempat diterpa isu Syiah. Apa penyebabnya dan bagaimana Rasil menghadapinya?

Ichsan: Isu ini bisa berkembang ketika kita terbuka, di sini dalam hal pemikiran-pemikiran, kritik-kritik terhadap pemikiran yang ada. Waktu awal-awal Rasil berdiri, ya namanya radio, dialog dengan pendengar. Pertanyaan-pertanyaan yang daerah licin itu keluar, seperti sejarah Muawiyyah, Yazid dan lain-lain. Ustaz Husein terutama, dan saya konfirmasi juga ke ustaz yang lain, membuka apa adanya, dalam satu literasi-literasi kan sudah ada.

Dan yang kedua, kita ini tidak bisa mengkafirkan orang Syiah. Pada tatanan itulah akhirnya kita dituduh Syiah. Sehingga ikhtiar kita pun sebagai manajemen di sini terus dilakukan, sampai pada tingkatan mubahalah diundang ke sini bagi penuduhnya. Namun pada saat ditemukannya, ternyata ini mubahalanya bukan masalah Syiah, tetapi masalah Muawiyyah sahabat atau bukan sahabat dan seterusnya tentang masalah itu. Ini jadi blunder yang tidak selesai, sehingga Ustaz Husein dengan bijaksananya menyelesaikan perselisihan itu.

Sehingga kita berpikir, bagaimana kalau tuduhan ini tidak selesai-selesai. Kita jawablah dengan aktivitas. Kita kerja sama dengan Front Pembela Islam (FPI). Habib Rizieq (Shihab) menerangkan tentang posisi di mana Syiah yang mencong, di mana Syiah yang bisa ditolerir pemikirannya.

Repotnya, ketika Syiah tidak dikecam di sini, pendengar (Rasil) sebagian Syiah. Si pendengar ini pun mereferensikan kepada yang lain tentang radio kita. Nah ini makin blunder lagi. Jadi ketika pemikiran diterima oleh semua kalangan, kita dituduh Syiah.

Maka, kita juga bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama, dengan Pak Zaki (Mubarok) sebagai pendiri radio ini juga, dia aktif di Syuro NU. Kita bekerja sama dengan PKD (Pendidikan Kader Dakwah), itu kan NU semua. Bagaimana kita bisa dituduh Syiah? Bekerja sama dengan berbagai kalangan dakwah, Muhammadiyah, Al-Azhar, dan lainnya. Sesuai tagline-nya, “Untuk Islam yang Satu”, ingin menyatukan.

Namun tidak mudah. “Untuk Islam yang Satu” saja dari awal kita sudah dibilang bid’ah karena yang menafsirkan Islam terpecah belah itu berdasarkan hadits, kalau Al-Quran kan … itu ranahnya ulama.

Kita terbuka untuk semua kalangan, ini pun menyebabkan radio ini mendapat terpaan isu. Tapi, isu ini pun yang menyebabkan radio ini banyak pendengarnya. Orang ingin tahu, “Bagaimana sih Syiah?” Begitu diselidiki, “Ini sih bukan Syiah. Ini Islam.” Ya, itulah Islam yang satu, bukan aliran baru, memang Islam itu satu.

Radio ini juga menjadi referensi para TNI, ketika dari Pusat Bimbingan Rohani Angkatan Darat datang rombongan, dinas ke sini. Dia mengingatkan bahwa radio ini adalah salah satu radio yang direferensikan oleh TNI Angkatan Darat.

Ketika kita putar acara masalah Badan Narkotika, si narasumber memohon kepada para imam untuk mengirim jamaahnya yang terkena narkoba. Hari-hari berikutnya, yang datang bukan imam-imam masjid tapi pendeta-pendeta gereja. Sehingga BNN mempertanyakan “Ini radio Islam atau radio Kristen? Kok yang datang pendeta-pendeta?” Katanya, tahunya dari Rasil. Berarti mereka (Kristen) juga pendengar radio kita ini. Rasil pun menjadi referensi lintas agama.

Pembenci-pembencinya (Rasil) pun mendengar juga. Mau dia niat lapang hati atau mencari poin-poin tertentu, wallahu ‘alam. Yang pasti inilah radio, uniknya di sini, dia punya pola yang bisa mempengaruhi pola hidup orang.

MINA: Sekarang, nuasa isu itu masih kental atau sudah berlalu?

Ichsan: Memang berkurang, mungkin sudah capek menebarkan isu. Tapi ada periode-periode tertentu yang membuat isu itu timbul lagi, ketika pendaftaran sekolah (milik keluarga Ichsan Thalib), seperti isu timbul tenggelam. Atau ketika pergolakan meruncing di Timur Tengah, ini kan seperti kelanjutan pergolakan di sana, di mana ikon Sunni-Syiah menjadi ikon antagonis untuk diadu. Padahal ini semua kerjaan Yahudi untuk men-setting umat cakar-cakaran dan efektif untuk mereka. (W/RI-1/RS3)

 

Mi’raj News Agency (MINA)