Rafah Dibuka Empat Hari, Warga yang Tertahan Kembali ke Gaza

Gaza, MINA – Pihak berwenang di Jalur Gaza Palestina pada Senin (13/4) mengumumkan, pembukaan luar biasa perbatasan Rafah untuk jangka waktu empat hari ke depan.

Pembukaan penyeberangan itu setelah berkoordinasi dengan otoritas Mesir, untuk memungkinkan ratusan warga Palestina yang terdampar di Mesir untuk kembali ke Gaza.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri, yang dijalankan oleh gerakan Hamas, Iyad Al-Bazm, mengatakan, kementerian itu mengijinkan masuknya orang-orang yang tertahan di persimpangan dari Senin hingga Kamis mendatang.

“Ini menentukan jumlah pendatang per hari berdasarkan klasifikasi khusus, dan memberikan prioritas hak untuk masuk bagi pasien dan orang tua,” katanya seperti dilaporkan i24 News.

Menurutnya, semua warga yang kembali melalui perlintasan akan dikenakan karantina wajib untuk jangka waktu 21 hari, yang dapat ditingkatkan sesuai dengan perkiraan Kementerian Kesehatan, sesuai dengan langkah-langkah untuk mencegah dan sepenuhnya melindungi dari wabah virus Corona.

Belasan aparat kepolisian, didampingi sejumlah dokter dan perawat, mengenakan pakaian medis dan masker pelindung, di dalam ruang kedatangan di penyeberangan Rafah lenagsung mengantar para pengungsi yang kembali ke pusat-pusat karantina.

“Kami akan menerima pemuda yang kembali dari Mesir di pusat-pusat karantina di sekolah-sekolah, para lansia dan keluarga di hotel-hotel. Adapun para pasien, mereka akan dipindahkan ke rumah sakit Turki,” kata dokter Mohamed Abu Salamieh, kepala komite darurat Gaza.

Abu Salamieh mengungkapkan, jumlah orang yang terinfeksi Coronavirus di sektor ini adalah 13 kasus, sementara ada 400 warga yang baru saja kembali ke Gaza masih dalam karantina.

“Kami memiliki karyawan yang bekerja untuk MSF yang telah dikarantina di pusat Gaza,” ungkapknya.

Sebulan yang lalu, Hamas memberlakukan tindakan pencegahan, termasuk menutup pasar, restoran, kafe, masjid, sekolah dan universitas, dan melaranga pertemuan. Perbatasan Rafah dengan Mesir adalah satu-satunya jalan keluar bagi Gaza yang tidak dikendalikan oleh Israel. (T/B04/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)