Raffia Arshad, Hakim Berjilbab Pertama di Inggris

Raffia Arshad, seorang wanita muslim  diangkat menjadi hakim di Inggris. Ia menjadi wanita muslim pertama di negara tersebut. Ia juga menjadi hakim pertama yang memakai jilbab di sana.  Bagi Raffia, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia telah memimpikan karir di bidang hukum sejak berusia 11 tahun, dan baru saja diangkat sebagai hakim pada usia 40.

Raffia bukan hanya seorang pengacara yang sukses selama 17 tahun berkarier, ia berhasil dilantik sebagai Wakil Hakim Distrik di wilayah Midlands pekan lalu.

Angka-angka terbaru dari hakim yang menyatakan informasi mereka ke Kantor Yudisial per 1 April 2019 menunjukkan bahwa dari 3.210 di pengadilan di seluruh Inggris dan Wales, hanya 205 (6 persen) dari latar belakang BAME (Black, Asian and Minority Ethnic) dan hanya 1.013 (31 persen) adalah perempuan.

Berbicara kepada Metro.co.uk, ibu tiga anak itu mengatakan, dia sekarang ingin ‘memastikan suara keragaman didengar dengan keras dan jelas’.

“Ini pasti lebih besar dari saya, saya tahu ini bukan tentang saya. Ini penting untuk semua wanita, tidak hanya wanita Muslim, tetapi sangat penting bagi wanita Muslim. Ini adalah sesuatu yang telah saya upayakan selama beberapa tahun dan saya selalu membayangkan saya akan benar-benar gembira ketika saya mengetahuinya,” katanya.

Raffia menambahkan, dirinya bahagia, tetapi kebahagiaan yang ia miliki dari orang lain yang berbagi ini jauh lebih besar. Ia mengaku, banyak menerima email dari orang, pria dan wanita yang mayoritas mengucapkan selamat dan memberikan dukungan. Mereka merasa bangga, mengenakan jilbab ternyata masih bisa meraih cita-cita tinggi.

Ia yang pertama di keluarganya yang masuk universitas dan juga menulis teks terkemuka tentang hukum keluarga Islam.

Meskipun Raffia banyak mendapat dukungan, tak dipungkiri ia masih menghadapi diskriminasi dan prasangka. Ia pernah mengalami salah satu momen dalam kehidupannya, ketika ia dinasihati oleh anggota keluarganya sendiri untuk tidak mengenakan jilbab saat wawancara untuk mendapatkan beasiswa di Inns of Court School Hukum tahun 2001.

Menurut anggota keluarganya itu, peluang keberhasilannya akan berkurang secara dramatis jika Raffia terap memakai jilbab. Tetapi Raffia menolak untuk tunduk.

“Saya memutuskan bahwa saya akan mengenakan jilbab saya karena bagi saya sangat penting untuk menerima orang itu apa adanya dan jika saya harus menjadi orang yang berbeda untuk mengejar profesi saya, itu bukan sesuatu yang saya inginkan,” ujarnya.

“Jadi saya lakukan, dan saya berhasil dalam wawancara. Saya diberi beasiswa besar. Saya pikir itu mungkin salah satu langkah pertama yang paling luar biasa dalam karier saya. Itu adalah ‘ya, kamu bisa melakukan ini’,” imbuhnya.

Meskipun telah ditunjuk sebagai Wakil Hakim Distrik di wilayah Midlands pekan lalu, namun, Raffia kadang-kadang masih dikira sebagai klien atau penerjemah ketika ia berjalan menuju ke ruang sidang.

Ia menceritakan, baru-baru ini, seorang penjaga pintu bertanya, “Apakah Anda seorang klien?” “Tidak, bukan aku.” “Anda harus menjadi penerjemah?” “Tidak, bukan aku.” “Apakah Anda di sini ingin bicara tentang pengalaman kerja?” “Tidak, saya sebenarnya pengacara”.

Meski begitu, Raffia tidak merasa sakit hati. Ia mengungkapkan, “Saya telah ditunjuk berdasarkan prestasi, bukan karena saya mengenakan jilbab.”

Raffia berharap melalui pencapaiannya ini, dapat menginspirasi wanita Muslim lainnya untuk mengikuti impiannya. Ia berkata bahwa “Mereka dapat mencapai apa pun yang mereka pikirkan.” .

Penunjukan Raffia Arshad juga telah diterima dengan baik oleh tokoh-tokoh Kehakiman. Ahli hukum yang dikenal sebagai Vickie Hodges dan Judy Claxton mengatakan, “Raffia telah membuka jalan bagi perempuan Muslim untuk berhasil dalam lingkungan ini,” sebelum menyimpulkan bahwa pencalonan ini sepenuhnya layak. “Kami semua bangga padanya,” kata mereka.(T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)