Ramadhan Bulan Kesabaran

Ketua Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas'ud Online (SQABM), Dudin Shobaruddin,MA saat memberikan sambutan pada Tabligh Akbar Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung di Masjid At-Taqwa Komplek Ma'had Al-Fatah, Muhajirun, Lampung. Photo : Hadis/MINA

Oleh: Dudin Shobaruddin,MA., Ketua Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Onlina (SQABM), Biro MINA di Kuala Lumpur

Di dalam Al-Quran, kata sabar setidaknya diulang 103 kali  dalam 45 surat. Hal ini mengidikasikan betapa pentingnya kesabaran dalam kehidupan manusia sehingga ia diulang-ulang.

Kaitannya dengan bulan Ramadan amat jelas, karena puasa pada dasarnya memerlukan kesabaran. Betapa tidak, kebiasaan manusia di pagi hari bersarapan, di siang hari makan, hingga makan sore. Kalau dihitung jamnya ada antara 12 sampai 18 jam.

Dalam kaidah berpuasa, setiap yang mukallaf (dewasa), yang terkena hukum menunaikan ibadah puasa, maka dia harus menahan makan dan minum dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Bahkan tidak terkecuali bagi anak-anak kecil yang diajarkan oleh orang tuanya untuk berpuasa harus mengamalkan kaidah tersebut.

Menahan lapar untuk tidak makan selama satu hari, bagi yang tidak biasa adalah sesuatu perjuangan yang luar biasa. Ketika saya bertemu dengan orang China yang non-Muslim, dia bertanya, “loo macamana tak ala makan, minum satu hali…”

Bagi dia tidak terbayang apabila dirinya berbuat demikian, tahan atau tidak.

Namun, bagi umat Islam hal seperti sudah menjadi kebiasaan, bahkan di kebanyakan daerah, anak-anak kecil di bawah 7 tahun, orang tuanya melatih untuk berbuat demikian (puasa). Itu dengan berbagai iming-iming dan hadiah yang disediakan demi latihan untuk para anaknya belajar berpuasa.

Di hari pertama ada yang hanya sampai dzuhur, ada yang sampe asar dan ada yang sampai magrib.

Kesemua ini merupakan latihan fisik bagi setiap muslim yang dijadikan sebagai sebuah penghambaan bukti kepatuhan dan kesetiaan pada ilahi.

Sehingga, apapun alasannya bagi seorang muslim akan disebut aneh sekiranya tidak menunaikan ibadah puasa. Tidak seperti shalat, wal hal keduanya sama perintah Allah.

Di dalam surat Al-Baqarah ayat 155-156, Allah berfirman:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦)

Artinya: “Dan pasti Kami akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikan khabar genbira pada orang-orang yang sabar.Yaitu orang-orang apabila ditimpa musibah mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Adalah amat erat kaitannya lapar dengan puasa untuk menguji sejauh mana kita dapat bersabar dalam menghadapi situasi lapar dan dahaga.

Dalam satu hadis disebtukan Ramadan adalah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga. “Allah bersama orang yang  sabar”.(2:153).

Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang sabar. Aamiin. (RS2/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)