Ramadhan Bulan Pendidikan

Oleh: Kurnia M Hudzaifah (Wartawan MINA)

Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk mendidik umat dalam meningkatkan ibadah dan amal saleh. Sebab itu Ramadhan sering disebut bulan tarbiyah (bulan pendidik), mendidik umatnya untuk menahan emosi dan keinginan-keinginan manusiawi yang merugikan.

Selain itu selama bulan Ramadhan umat dididik untuk menahan makan dan minum, orang beriman harus menahan keinginan nafsunya pada siang hari. Karena itu Ramadhan adalah bulan tarbiyah, mendidik iman kita dalam melakukan masiyat kepada Allah. Mentarbiyah hati kita agar dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dengan membiasakan melakukan kebaikan, beramal saleh karena sebagai seorang muslim yang menginginkan surga-Nya, dia harus berusaha sungguh-sungguh, dengan beramal shalih, yaitu dengan membiasakan melakukan kebaikan.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 214.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّـهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ ﴿١٤٢

Apakah kalian mengira akan masuk surga sementara Allah belum mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan siapa yang bersabar?”

Di malam hari, biasa beristirahat. Maka di bulan Ramadhan kita dituntut memperbanyak ibadah shalat qiyamulail dan tadarusan Al-Quran di masjid. Ini merupakan pendidikan agar kita terbiasa melakukan kebaikan. Maka kebaikan itu bisa dilanjutkan setelah bulan Ramadhan.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, seseorang akan wafat di atas kebiasaannya. Maka dengan adanya bulan suci Ramadhan ini, apakah amalan-amalan tersebut menjadi kebiasaan kita nanti setelah puasa? Ataukah hanya berhenti di bulan Ramadhan saja? Tentu yang diinginkan oleh Allah dari mensyariatkan bulan Ramadhan adalah agar amalan-amalan tersebut bisa kita lakukan setelah Ramadhan.

Selama Ramadhan kita menghiasi hari-hari dengan membaca Al-Quran. Maka setelah Ramadhan pun demikian, kita hiasi membaca al-qur’anul karim, melantunkan ayat-ayatnya dan mentadabburinya. Di waktu ramadhan, kita terbiasa untuk shalat malam, demikian pula setelah Ramadhan kita pun harus membiasakan shalat malam, karena itu adalah merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

Hendaklah kalian shalat di waktu malam, karena itu kebiasaan orang-orang shalih di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

Ada beberapa alasan mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan tarbiyah.

Pertama, pelaksanaan ibadah shaum lebih lama dibandingkan amalan ibadah lain, seperti shalat, zakat, dan haji. Shalat dapat diselesaikan dengan waktu yang cukup singkat, demikian juga dengan zakat.

Ramadhan men-tarbiyah seorang mukmin sebulan penuh, rentang waktu yang cukup panjang dan lama.

Kedua, banyak kategori ibadah dihadirkan pada bulan mulia ini, berposisi sebagai penunjang terbentuknya pribadi yang ‘aabid (hamba Allah). Ada puasa, shalat tarawih, tadarus, iktikaf, ada juga sedekah dan zakat serta ada umrah yang utama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjadi suri teladan bagaimana Ramadhan menjadi bulan tarbiyah yang sangat spesial dalam semua amal ibadah dan kebaikan lainnya. Pada sepuluh hari terakhir ramadhan, seperti sedang berlari kencang, Rasul yang mulia memperhebat semua amal ibadahnya.

Ketiga, pahala yang dilipatgandakan menjadi bukti kehadiran Ramadhan men-tarbiyah seorang hamba untuk menjaga motivasi semua amal kebaikannya.

Amalan sunnah diganjar pahala wajib, amal wajib dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak bertepi. Bahkan, pahala puasa begitu spesial karena Allah yang menetapkan nilainya.

Puasa adalah untuk-ku. Dan, hanya aku yang membalasnya.” (HR Ahmad)

Pantaslah jika semua yang merindukan ridha, rahmat, dan surga Allah berharap bahwa semua bulan adalah Ramadhan. sebab, begitu banyak lagi keindahan kasih dan sayang-Nya pada bulan yang mulia ini.

Seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al-Quran, Quraish Shihab, mengatakan bahwa puasa adalah tirai penghalang yang diciptakan Allah terhadap lidah, pendengaran, penglihatan, perut dan alat kelamin guna menghalangi manusia terjerumus ke neraka dan mengantarnya ke surga.

Bulan suci Ramadhan dapat menjadi kesempatan untuk menempa anak-anak dengan pendidikan Islami. Tidak hanya sekolah, tetapi juga selama di rumah.

Sementara Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh al-Shiyam (diterjemahkan jadi Tirulah puasa Nabi: Resep Ilahi agar Sehat Ruhani-Jasmani) memberikan nasihat. Ulama yang kini berusia 92 tahun itu menegaskan, seorang anak memang belum wajib berpuasa Ramadhan.

Akan tetapi, orangtua perlu mendidik anaknya untuk melaksanakan kewajiban Allah. Paling tidak, pembiasaan ibadah wajib.

Mari kita mengisi bulan Ramadhan yang tinggal sembilan hari ini dengan amalan-amalan di ridhi Allah sebagaimana seorang hamba menghiasi bulan penuh berkah ini dalam ketaatan kepada Allah. wallahu a’lam. (A/R4/RI-1)

 

 

Mi’raj News Agency (MINA)