Ramadhan Membawa Perubahan

oleh: Widi Kusnadi, wartawan MINA

Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud menjelaskan, ada dua jenis perubahan dalam perjalanan kehidupan manusia, yaitu attaghyiir al-ijbary (perubahan yang memaksa anda untuk berubah) dan attaghyiir al-ikhtiyary (perubahan yang direncanakan).

“Perubahan al-ijbary adalah perubahan yang memaksa kita untuk berubah. Mau atau tidak mau, manusia harus berubah, dalam keadaan sukarela atau terpaksa.  Contoh yang saat ini ada adalah dengan mewabahnya pandemic Covid-19. Hal itu, memaksa manusia untuk merubah pola hidup, kebiasaan beraktifitas, hingga sampai merubah tata cara beribadah.

Maka, agar perubahan ijbari tersebut mampu kita lakukan dengan baik dan maksimal, diperlukan perubahan ikhtiyari. Dengan perencanaan yang matang, persiapan maksimal, didasari dengan kaidah-kaidah yang shahih sesuai fakta dan kebutuhan, maka perubahan ijbari tersebut tidak menimbulkan kerusakan, minimalnya memperkecil resiko kerusakan.

Ramadhan mengajarkan kepada orang-orang beriman untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan itu. Bahkan salah satu tanda diterimanya amal ibadah seseorang adalah, ada perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.

Prof. Din Syamsuddin dalam sebuah tausiyahnya menjelaskan, perubahan yang diajarkan dalam ibadah selama Ramadhan tidak hanya sekadar changing, tetapi transforming. Bukan perubahan tanpa arah, tetapi berubah menuju kepada kebaikan, bukan hanya kuantitatif, tetapi juga kwalitatif.

Dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, di sana ada harapan yang hendak dituju, yaitu la’alakum tattaqun (pada ayat 183), la’allakum tasykurun (ayat 185), la’allahum yarsyudun (ayat 186) dan la’allakum tuflihun (ayat 189).

Bahkan bulan sebelum Ramadhan dan setelah Ramadhan pun memiliki kaitan erat terhadap proses transformasi itu sendiri, yakni Sya’ban yang artinya sebuah jalan di gunung, bermakna pra kondisi menuju sebuah medan perlombaan dan Syawal yang bermakna peningkatan dan pengembangan diri.

Lantas transformasi apa yang diajarkan oleh Ramadhan? Imam Syamsi Ali menjabarkan, ada empat nilai perubahan dalam ibadah Ramadhan menuju kesalehan, yaitu:

  1. Kesalehan fisik (thayib). Puasa menjadikan tubuh menjadi sehat. Berbagai penelitian ilmiyah kontemporer telah menunjukkan betapa puasa mampu menjadi obat bagi berbagai macam penyakit, baik penyakit fisik, juga penyakit hati. Dengan berpuasa, manusia tidak hanya mendapat limpahan pahala, tapi juga membuat tubuh yang semakin sehat.  Dalam buku berjudul The Miracle of Fast karya Amirulloh Syarbini, beberapa penyakit kronis bisa sembuh jika seseorang rajin berpuasa, di antaranya kanker, diabetes, hipertensi, batu empedu, penyakit ginjal, kolesterol tinggi, dan lainnya.
  1. Kesalehan spiritual (khair). Selama Ramadhan, orang beriman dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah, baik yang bersifat mahdhah, maupun muamalah. Pada malam harinya, kita dianjurkan untuk shalat tarawih, membaca dan mentadaburi Al-Quran, hingga menunaikan zakat fitrah, maal dan profesi. Itu semua akan membentuk seseorang berubah secara spiritual, menjadi lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  1. Keshalehan sosial (makruf). Hal itu ditunjukkan dengan sikap disiplin, bertanggung jawab dan mampu mengemban amanah dengan baik sehingga mampu memberi kemaslahatan kepada orang lain di sekitarnya. Dalam artikel berjudul “Energi Puasa Memberantas Korupsi”, ditulis oleh Imaam Yakhsyallah Mansur, beliau menjelaskan dimensi ibadah ada dua macam yaitu hissiyah dan maknawiyah. Puasa dalam dimensi maknawiyah adalah ketika seseorang mampu mengaplikasikan nilai-nilai puasa itu dalam kehidupannya.
  1. Keshalehan rabbaniyah (ihsan). Jika seseorang sudah menghayati secara mendalam makna puasa itu, maka ia merasa bahwa segala perbuatannya, tutur katanya, bahkan lintasan-lintasan pikirannya disaksikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang sudah mampu mencapai tingkatan ini, maka ia akan mampu membangun sebuah peradaban. Hal ini sesuai dengan misi diutusnya Nabi Muhammad, yaitu membawa rahmat bagi semesta alam ( rahmatan lil alamin) melalui akidah tauhid yang selamat, ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

Termasuk, di era keterbukaan informasi saat ini, dengan bebasnya masyarakat menggunakan media sosial, perlu dibangun juga keadaban (akhlak) dalam menggunakan media sosial daring tersebut.

Sebuah tulisan menarik yang ditulis oleh Prof Najib Burhani mengupas lebih mendalam tentang kondisi masyarakat Indonesia dalam bermedia sosial yang ternyata berada dalam level tidak baik.

Maka, seruan bertaqwa kepada Allah di manapun Anda berada, tidak hanya dalam dunia nyata saja, tetapi juga dalam dunia maya, bukan pada saat offline saja, tapi juga saat online, tidak tidak sekadar di dunia manual, tapi juga dunia digital. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)