Ramadhan Menuju Derajat Takwa

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior MINA

Tujuan utama puasa Ramadhan telah tersebut di dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu mengantarkan orang-orang beriman menjadi orang bertakwa. Takwa merupakan gelar tertinggi manusia di sisi Allah.

Allah pun menyatakan bahwa hanya amalan orang yang bertakwa sajalah yang diterima di sisi-Nya. Karena itu prasyarat takwa menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Allah menyebutkan di dalam ayat-Nya:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah [5]: 27).

Takwa itu bermakna hati-hati, waspada, menjaga, takut. Takwa itu mentaati Allah dan tidak memaksiati-Nya, mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya, mensyukuri nikmat Allah dan tidak mengkufuri-Nya.

Takwa itu menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Takwa itu tidak bisa sambil lalu, tapi ia harus sikerjakan dengan sebenar-benar takwa, sungguh-sungguh, tiada henti, never die.

Dengan takwa ini, orang-orang yang berpuasa terdidik untuk senantiasa berjihad menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dengan takwa ini, orang-orang yang berpuasa akan terbiasa untuk selalu waspada, menjaga diri, dan berhati-hati terhadap sesuatu, yakni berhati-hati terhadap rambu-rambu syariat yang telah ditetapkan Allah berupa perintah dan larangan.

Dengan takwa itu, orang-orang yang berpuasa akan berusaha menjalankan segala kewajiban dan nawafil (ibadah tambahan), serta menjauhi semua larangan dan perkara syubhat (samar-samar), mafsadat (merusak), lagha (sia-sia), dan makruh (tidak disukai).

Takwa juga menjadi wasiat abadi karena mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Takwa pun merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan.

Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Seperti firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS An-Nahl [16]: 128).

Dengan takwa ini pulalah kita dipandang menjadi manusia mulia di sisi Allah. Seperti firman-Nya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Maka, takwa merupakan bekal terbaik untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya : “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah  [2]: 197).

Karena itu, marilah kita jaga dan terus tingkatkan nilai takwa kita kepada Allah, kita pertahankan sampai mati, husnul khotimah dalam iman, Islam dan takwa.

Firman Allah mengingatkan kita:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(QS Ali-Imran [3]: 102)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengingatkan kta untuk selalu menjaga takwa di manapun berada dan dalam keadaan bagaimanapun juga:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya : “Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk itu dengan kebaikan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlaq yang terpuji” (HR At-Tirmidzi dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu).

Dengan takwa harta kita menjadi barakah, ilmu kita menjadi manfaat, hidup kita menjadi bermakna, berbobot dan berkualitas. Dengan takwa hasil ibadah puasa Ramadhan, niscaya Allah akan mengadakan bagi kita solusi jalan keluar dari berbagai macam problematika hidup, dan dengan takwa pula Allah akan memberikan rezki kepada kita dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Sebagaimana janji-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ()

Artinya : “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3).

Sebaliknya, tanpa takwa, isteri, suami dan anak yang kita cintai bisa berubah menjadi fitnah dan musuh, harta yang kita miliki dapat menjadi malapetaka.

Sementara pekerjaan, pangkat, dan kedudukan yang kita punyai berubah menjadi beban dosa. Di hadapan Allah tidak ada gunanya, bahkan menjadi penyesalan yang berkepanjangan. Akibat menggadaikan takwa dengan dosa, melepas takwa diganti dengan kemaksiatan. Na’udzubillahi min dzalik.

Semoga kita dapat meraih gelar takwa sebagai hasil puasa Ramadhan sebulan penuh tahun ini. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)