Ramadhan Syahrul Jihad

Oleh: Widi Kusnadi, wartawan MINA

Bulan Ramadhan selain disebut sebagai Syahrus Shiyam (bulan diwajibkan berpuasa), juga disebut sebagai Syahrul Jihad wal Intisharat (bulan jihad dan kemenangan).

Dalam sejarah perkembangan Islam, ragam perjuangan umat Islam, baik dalam kontek jihad perang, pembebasan dan kemenangan umat Islam lainnya, banyak yang terjadi pada bulan Ramadhan.

Hal itu menandakan bahwa Ramadhan bukanlan waktu untuk berleha-leha, bersantai ria, ataupun berpangku tangan menunggu datangnya santunan, bukan. Tetapi bulan Ramadhan adalah waktu untuk berusaha maksimal, bekerja sekuat tenaga, menyingsingkan lengan baju, mengencangkan ikat pinggang, berfikir lebih serius, fokus dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah Yang Mahakuasa.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alihi Wasalam dan para sahabatnya, serta orang-orang shaleh terdahulu bisa menjadi contoh teladan tentang bagaimana mengisi bulan Ramadhan ini dengan prestasi, catatan kemenangan gemilang, menorehkan tinta emas bagi kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam menjelaskan makna jihad tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alihi Wasalam bersabda:

وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهٗ فِي طَاعَةِ اللهِ /رواه احمد

Artinya :“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah” (H.R. Ahmad).

Bentuk Jihad di Bulan Ramadhan

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Latho’iful Ma’arif menjelaskan tentang bentuk jihad di bulan Ramadhan sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Ramadhan. Jihad pertama adalah jihad pada diri sendiri di siang hari dengan berpuasa. Sedangkan jihad kedua adalah jihad di malam hari dengan shalat malam. Siapa yang melakukan dua jihad dan menunaikan hak-hak berkaitan dengan keduanya, lalu terus bersabar melakukannya, maka ia akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa batas (tak terhingga).”

Adapun beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah terjadi di bulan Ramadhan antara lain:

  1. Perang Badar

Perang pertama kali di alami umat Islam adalah pada tahun pertama perintah berpuasa, yaitu pada bulan Ramadhan tahun ke-2 H. Umat Islam di bawah pimpinan langsung Rasulullah Shallallahu alihi wa salam berperang di lembah Badar melawan suku Quraisy dari Makkah.

Dalam perang itu, umat Islam berjumlah 313 orang dengan peralatan perang seadanya, yaitu 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, dan 2 ekor kuda. Sedangkan kaum Quraisy memiliki 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 kuda.

Meskipun secara jumlah personel dan peralatan, umat Islam lebih sedikit dari Kaum Kafir Quraisy, namun dengan kesungguhan dan kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemenangan dapat diraih umat Islam.

  1. Persiapan Perang Khandaq

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam dan para sahabat mempersiapkan strategi menghadapi konspirasi Kaum Kafir pada perang Ahzab (Khandaq) di bulan Ramadhan. Sayyid bin Husain al-‘Affani dalam bukunya Nidâul-Rayyân fî Fiqhi al-Shaum wa Fadhli Ramadhân (1417: 314) menukil pendapat Ibnu Qayyim mengenai persiapan monumental sebelum terjadinya perang dahsyat ini.

Penggalian parit (persiapan pra-Ahzab) yang diinisiasi oleh Salman Al-Farisi- di depan gunung Sala’, menurut Ibnu Qayyim, menghabiskan waktu sebulan penuh. Panjang parit mencapai lima ribu hasta. Sedangkan kedalamannya mencapai tujuh hasta dan lebarnya sekitar tujuh hasta juga. Dengan pertolongan Allah, perjuangan gigih dan mental yang tak pernah putus asa mereka sanggup melampau tantangan ini dan ini terjadi di bulan Ramadhan.

3. Fathu Makkah

Peristiwa Fathu Makkah terjadi pada 17 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Kemenangan mutlak didapatkan kaum Muslimin dengan merebut kembali Mekkah.

Dalam buku berjudul “Ketika Rasulullah Harus Berperang” yang ditulis oleh Prof Ali Muhammad Ash Shallabi, Rasulullah Shallallahu alihi wa salam sampai di Makkah dengan sikap penuh tawadhu. Sampai-sampai, dagunya hampir menyentuh dada. Dalam kemenangan itu, Nabi yang mulia menghancurkan berhala-berhala di dalam Ka’bah.

Ketika itu, beliau membacakan firman Allah dalam QS al-Isra: 81. “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” Nabi pun membacakan ayat lain yang tertera dalam QS Saba:49. “Kebenaran itu telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) mengulangi.”

Menjelang Makkah, sepuluh ribu obor dinyalakan. Tepatnya di Marr Azh Zhahran, tempat pasukan Muslimin beristirahat dan makan malam.  Abu Sufyan, tokoh kunci kaum Quraisy pun berkata, “Aku belum pernah melihat api dan pasukan seperti malam ini.” Badil bin Warqa, yang ikut menyertai Abu Sufyan mencari kabar tentang kehadiran kaum Muslimin menjawab, “Demi Allah, ini Khuza’ah yang terbakar perang.” Abu Sufyan menjawab, “Khuza’ah lebih kecil dan lebih hina dari pasukan ini.”

4. Pembebasan Andalusia

Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol (Andalusia) sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Pada Hari Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 M , Abu Zar’ah memasuki pulau kecil dekat Kota Tarife dan berhasil membebaskan kota tersebut. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.

Thariq bin Ziyad berasal dari bangsa Barbar, saat ini merupakan daerah Aljazair (Algeria). Mengenai sukunya, para sejarawan masih berbeda pendapat, dari suku Nafza atau suku Zanata. Ia bekas seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara dari dinasti Umayyah ketika menaklukkan daerah Tanja (ujung Maroko). Di tangan Musa ini pula ia memeluk Islam bersama orang-orang Barbar lainnya.

Dalam kitab “Tarikh al-Andalus” disebutkan bahwa Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu alihi wa salam bersama keempat Khulafa’Al-Rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah Saw memberitahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Spanyol (Andalusia). Kemudian Rasulullah Shallallahu alihi wa salam menyuruhnya untuk selalu bersama Kaum Muslimin dan menepati janji.

Jadi, Ramadhan mengajarkan kepada orang beriman untuk produktif dalam segala hal, baik dalam berfikir, bekerja dan beribadah. Puncaknya adalah meraih predikat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu menjadi pribadi yang bertaqwa, diterima amal ibadahnya, diampuni segala dosa-dosanya dan Allah masukkan kita ke surga, dalam ridha-Nya. Aamiin. (A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)