Ramadhan Tiba, Surat Untuk Tuan COVID-19

Renungan Zanjabil #32

Oleh Prof. Madya Dr. Abdurrahman Haqqi, Fakultas Syariah dan Hukum Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam.

Yang Mulia,
Tuan COVID-19
Di mana pun anda berada.

Assalamualaikum Warahmatullah

Pertama-tama kami mengingatkan bahawa Tuan dan kami adalah makhluk Allah SWT. Masing-masing daripada kita mempunyai kewajiban terhadap Tuhan kita Allah Ta’ala. Tuan bertasbih dengan cara Tuan dan kami bertasbih dengan cara kami.

Tuan,
Sudah berbulan-bulan kami di seluruh bumi disibukkan oleh karena Tuan. Ada orang tua yang kehilangan anaknya dan sebaliknya. Ada suami yang kehilangan istri dan sebaliknya, dan ada yang kehilangan saudaranya.

Ada yang sakit dan menderita. Ada yang berusaha mengobati dan bersusah payah, dan ada yang kebingungan dan merana.

Tuan,
Itulah keadaan kami karena ulah Tuan. Ulah Tuan yang sudah pasti merupakan kehendak Ilahi. Belum lagi yang berkaitan dengan ekonomi, budaya dan sosial. Jika aku tuliskan tentu Tuan akan lama membaca surat ini.

Tuan,
Karena Tuan, kami tidak berdatangan ke rumah-rumah Allah di muka bumi ini. Rumah-rumah Allah berasa sepi.

Karena Tuan, kami tidak bersilaturahim sesama sendiri. Kami hidup sendiri-sendiri.

Karena Tuan ,kami dalam kesusahan dan kesulitan. Kami dalam gundah gulana yang mendalam.

Tuan,
Tidakkah Tuan tahu akibat orang yang menahan manusia dari mendatangi masjid?

Tidakkah Tuan tahu akibat orang yang memutuskan tali silaturahim?

Tidakkah Tuan tahu akibat orang yang menyusahkan dan menyulitkan orang lain?

Ingatlah wahai Tuan, Allah telah menciptakan kami keturunan Adam AS dengan firman-Nya bermaksud: “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam; dan Kami telah beri mereka menggunakan berbagai-bagai kenderaan di darat dan di laut; dan Kami telah memberikan rezeki kepada mereka dari benda-benda yang baik-baik serta Kami telah lebihkan mereka dengan selebih-lebihnya atas banyak makhluk-makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Surah al-Isra’: 60)

Tuan,
Kami ingin Tuan pergi dari kami secepatnya kerena kami mau menghidupkan bulan Ramadhan dan beribadah seperti sedia kala. Kerena sifat kami yang terburu-buru seperti yang disahkan Allah, yang artinya, “Dan manusia berdoa dengan (memohon supaya ia ditimpa) kejahatan sebagaimana ia berdoa dengan memohon kebaikan, dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buru.” (Surah al-Isra’: 11)

Tuan,
Kami mau Tuan pergi sesegera mungkin karena kami menginginkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana kami senantiasa berdoa kepada Tuhan kita berdua, yang artinya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.” (Surah al-Baqarah: 201)

Tuan,
Dengan bertawassul kepada doa Nabi Allah Yusya’ bin Nun AS kami memohon, “Wahai COVID-19, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu pula kami. Kami bersujud mengikuti perintah-Nya. Ya Allah, lenyapkanlah COVID-19 untuk kami menyembahmu seperti sedia kala.”

Kami juga bertawassul kepada doa semut pada zaman Nabi Sulaiman AS “Ya Allah, Sesungguhnya kami salah satu dari makhluk-Mu. Kami sangat memerlukan rezki-Mu. Mohon turunkanlah kepada kami kasih sayang-Mu dengan melenyapkan COVID-19 dari muka bumi, dan jangan hukum kami dengan dosa-dosa hamba-hamba-Mu.”

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Di awal surat ini, kami sengaja memberi salam kepada Tuan sampai warahmatullah karena kami menunggu jawaban Tuan dengan menambah wabarakatuh sebagaimana ajaran Nabi Rahmatan lil’alamin yang menjadi rahmat untuk kita semua, Tuan dan kami. Sallallahu alaihi wasallam

Sekian. Wassalam. Tertanda. Manusia.

Bandar Seri Begawan, 20/04/2020. (A/AH/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)