RATUSAN ANAK-ANAK PALESTINA ALAMI CACAT PERMANEN AKIBAT PERANG GAZA

Seorang anak Gaza mengalami cacat permanen akibat agresi militer Israel ke Gaza terbaru. (Foto: Falastin News)
Seorang anak Gaza mengalami cacat permanen akibat agresi militer Israel ke Gaza terbaru. (Foto: Falastin News)

Oleh: Rana Setiawan, Redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Setelah dinyatakan meninggal awal musim panas ini, Louay, bocah Palestina dari Gaza berusia 9 tahun, masih beruntung bisa kembali ke rumah bersama ayahnya serta kakak tercintanya, Odai (13). Namun, bersama teman-teman mereka saat kembali ke sekolah bulan ini, kedua anak laki-laki itu hidup terbatas di apartemen yang kecil dan gelap, di mana mereka tinggal di Lingkungan Al-Zaitun, pinggiran Kota Gaza, serta harus berurusan dengan kondisi cacat permanen dari cedera terbaru mereka.

Agresi militer Israel di Gaza selama 51 hari mengakibatkan jatuhnya korban pada anak-anak Gaza, menewaskan setidaknya 578 anak-anak, sementara korban luka-luka dari kalangan anak-anak mencapai 3.374 orang, demikian menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina yang diterima Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Gaza.

Meskipun dentuman bom dari pesawat-pesawat tempur atau artileri Israel telah berhenti, namun ratusan anak-anak, seperti Louay dan Odai, menghadapi masa depan yang tidak pasti sebagai anak yang cacat seumur hidupnya.

Kisah anak-anak ini adalah salah satu dari dua kehidupan generasi muda yang berubah dalam sekejap.

Menurut laporan yang diterbitkan Falastin News, pada 21 Juli 2014, Louay dan Odai berada di rumah bibi mereka untuk mempersiapkan acara buka puasa bersama dalam bulan suci Ramadhan 1435 yang lalu. Tiba-tiba sejumlah rudal menghantam rumah itu, seketika membunuh ibu, nenek dan bibi-nya mereka yang sedang hamil bersama enam anaknya.

“Rudal pertama mengejutkanku. Aku berusaha keluar, lalu terjadi hantaman kedua, aku terbangun, disusul lagi dengan hantaman ketiga, aku segera akan lari secepatnya, tapi aku lihat adikku, Louay, masih hidup. Aku membawanya, dan kami berlari bersama-sama, tapi tabung gas meledak dan membakar adikku.”

Ayah mereka, Zakarya Siyam, mengatakan, saat itu  ia sedang bersiap-siap pulang ke rumahnya saat ia mendengar di radio bahwa rumah kakak iparnya telah dihantam rudal Israel.

“Saya bergegas ke rumah tapi tidak menemukan siapa pun. Di rumah sakit saya menemukan mereka dalam beberapa potong tubuh. Enam anak-anak dalam potongan-potongan daging kecil – juga istri dan ibu-, ” kata Siyam dengan ekspresi kosong pada matanya.

Saat itu, para dokter sedang mempersiapkan untuk mengamputasi kaki Odai akibat pecahan rudal yang terjebak dalam lutut dan pahanya.

“Ayahku berteriak pada dokter, ‘Jangan memotong kaki anakku,'” kenang Odai.

Meskipun Siyam mengatakan Louay telah dinyatakan meninggal, dia bersikeras agar dirinya dapat merasakan denyut nadi Louay. Siyam kemudian menaruh air dingin ke sekujur tubuh Louay dan dengan izin Allah, masih terlihat tanda-tanda kehidupan pada Louay.

Setelah sepekan menjalani perawatan intensif, Louay dapat membuka matanya. Dia menderita luka bakar parah di sebagian besar tubuhnya dan – lebih serius lagi- potongan pecahan rudal mengenai perut dan dekat hatinya – dan dokter tidak mampu mengeluarkan potongan pecahan rudal itu.

Dokter telah memperingatkan Louay agar berhati-hati saat berjalan atau bermain karena risiko dari pecahan rudal yang memotong hatinya.

Odai, sementara itu, selalu merasakan kesakitan. Pecahan rudal menghancurkan beberapa tulang pada kakinya, dan dia kemungkinan tidak akan pernah bisa berjalan lagi.

Dokter mengatakan kepada Siyam bahwa kedua anak-anaknya memerlukan operasi di luar negeri. Tetapi karena Israel dan Mesir telah memblokade semua pintu keluar dari Gaza, satu-satunya harapan adalah organisasi internasional dapat memfasilitasi dan mensponsori pengobatan yang dibutuhkan.

“Mereka telah kehilangan hal yang paling berharga yang mereka miliki, ibu mereka. Saya ingin memberi mereka apa pun yang mereka minta, tapi di Gaza tidak ada kesempatan bagi pengobatan untuk anak-anakku. Aku manusia biasa dan miskin. Di Gaza orang sepertiku terabaikan,” katanya dengan kesal.

Bahkan jika kita memiliki sumber daya untuk membayar layanan-layanan bagi anak-anak apa yang dibutuhkannya, tempat mereka pergi untuk rehabilitasi kini tidak ada lagi.

Ismail Nasser adalah kepala ahli bedah anak di Rumah Sakit Al-Shifa, salah satu rumah sakit utama Gaza bagi korban trauma. Duduk di kantornya, dia mengatakan, sebagian besar anak-anak yang dioperasi selama perang menderita luka parah dari pecahan rudal atau dari terjebak di reruntuhan rumah.

Menurut angka dari Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan, sejumlah 1.064 rumah tinggal menjadi target sasaran militer Israel, dan sekitar 17.000 rumah lainnya rusak atau hancur sejak Israel melancarkan Operasi militer bersandi ‘Protective Edge’ sejak 7 Juli hingga hingga genjatan senjata permanen 26 Agustus 2014. Akibatnya, beberapa anggota keluarga sering terbunuh atau terluka dalam serangan, dan lebih dari setengah dari jumlah total kematian terjadi di atau dekat rumah mereka.

Seperti halnya Louay dan Odai, banyak anak-anak yang menderita luka permanen yang serius juga kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, ujar Nasser. Kehilangan seorang penjaga utama, jelasnya, akan sangat mempengaruhi masa depan mereka, bukan hanya karena trauma psikologis tetapi juga karena mereka sekarang memerlukan perawatan fisik ekstra.

“Jika, misalnya, Anda kehilangan limpa sejak umur 5 tahun, maka akan menderita kekebalan tubuh yang rendah dan tidak mudah untuk menanganinya.Atau seorang pasien yang telah kehilangan ekstremitas bawah, misalnya, akan membutuhkan bantuan ekstra,”ucap Nasser.

Banyak anak-anak, seperti saudara Siyam, telah menyaksikan enam operasi militer Israel di Gaza dalam delapan tahun terakhir, yang melukai lebih dari 5.000 anak-anak dan telah meninggalkan demikian banyak anak-anak Palestina mengalami cacat permanen.

“Ada sejumlah besar anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk rehabilitasi, pemasangan kaki palsu, operasi dan perawatan medis,” kata Steve Sosebee, Presiden Dana Bantuan Anak Palestina (PCRF). Kerusakan pada satu-satunya klinik rehabilitasi di Gaza, Rumah Sakit Al-Wafa, akibat agresi militer Israel terbaru telah membuat situasi yang jauh lebih sulit, ia menambahkan.

PCRF membawa tim medis ke Gaza, mengatur perawatan di luar negeri untuk anak-anak dan membantu perlengkapan anak dengan alat bantu kecacatan.

Organisasi medis itu menunggu kiriman dari sekitar 400 kursi roda, namun Sosebee mengatakan upaya itu jauh dari memenuhi kebutuhan.

Hidup yang sulit

Rumah-Sakit-Hancur-di-Gaza
Rumah Sakit Al-Wafa, di timur Shujaiyyah, hancur akibat serangan Israel. (Foto: mirjanews.com)

Banyak anak-anak cacat Gaza akan menghadapi kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari saat mereka kembali ke lingkungan di mana rumah-rumah rusak parah dan terputus dari listrik dan air bersih serta jalan yang diblokir oleh puing-puing gedung yang hancur.

Pada 2011 lalu sebuah survei oleh Biro Pusat Statistik Palestina menunjukkan bahwa lebih dari setengah warga Gaza yang mengalami cacat, menyatakan mereka mengalami kesulitan menjalankan tugas di luar rumah, bahkan sulit hanya untuk menyeberangi jalan saja.

Hasil survei itu menyimpulkan bahwa dua dari lima orang cacat berusia 15 tahun atau lebih tua sedikit  dari kriteria itu, tidak pernah terdaftar di sekolah, sehingga menyebabkan lebih setengah dari mereka buta huruf dan 90 persen jadi penganggur.

Khalil Amer Jadily, yang terpaksa harus kehilangan kedua kakinya selama serangan udara Israel di rumah keluarganya di Kamp Pengungsian Bureij selama Operasi militer ‘Cast Lead’ pada 2008-2009 lalu, sedang mencoba untuk melawan statistik tersebut.

“Ketika aku terbangun di rumah sakit, aku melihat kakiku terbaring di atas dadaku, dan seseorang mengatakan kepadaku untuk berdoa kepada Allah guna pemulihan,” kenang Jadily, yang sekarang berusia 22 tahun.

“Aku pikir Aku akan mati. Dan bahkan dalam perang ini sekali lagi aku pikir aku akan mati,” lanjutnya.

Dengan bantuan dari PCRF, ia melakukan perjalanan ke Dubai pada tahun 2010 untuk mendapatkan kaki palsu. Setahun yang lalu, ia mulai mengikuti kuliah administrasi bisnis di Universitas Islam Gaza dan mengatakan ia suka berenang bila memungkinkan.

Meskipun Jadily selamat dari hujan bom Israel di Gaza pada musim panas ini, namun kaki palsunya tidak. Ia meninggalkan kedua kaki palsu dan kursi rodanya di belakang saat ia dan keluarganya dievakuasi sebelum invasi darat Israel dilancarkan. Ketika ia kembali, sebagian besar lingkungannya telah dihancurkan. Dia sekarang menggunakan kursi roda berkarat yang dikaitkan bersama-sama dengan pita biru.

Dia bersimpati dengan banyak anak yang hidupnya berubah selamanya pada musim panas ini.

“Aku merasa sedih ketika aku memikirkan anak-anak muda yang mengalami cacat akan belajar untuk mengisi hidup dengan kondisi itu.” Demikian Jadily.

Sumbangan Rakyat Indonesia

RS Indonesia di Gaza. (Foto: MER-C)
RS Indonesia di Gaza. (Foto: MER-C)

Organisasi HAM dan kemanusian internasional kini sedang melakukan mobilisasi untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi korban agresi militer Israel di Jalur Gaza.

Demikian juga ada bantuan-bantuan dari berbagai fihak di Indonesia. Salah satunya melalui lembaga medis kemanusiaan dan kegawatdaruratan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang antara lain memprakarsai pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza. Ini juga akan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina. Seluruh dana pembangunan rumahsakiit dan pengadaan alat kesehatan  berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.

Tanah RS Indonesia seluas 16.261 m2 terletak di Bayt Lahiya, utara Gaza merupakan wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza. Sementara dana pembangunan RS sampai saat ini seluruhnya berasal dari donasi rakyat Indonesia, tidak ada dana bantuan asing. Untuk itu, RS ini diberi nama RS Indonesia dengan harapan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.

Pembangunan RS Indonesia diawasi dan dikerjakan langsung oleh relawan Indonesia yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia.

Pembangunan RS Indonesia dimulai sejak 14 Mei 2011 dan kini telah selesai pembangunan fisiknya. Ikhtiar selanjutnya yang dilakukan oleh MER-C adalah penggalangan dana untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. Saat ini, sejumlah 19 relawan Indonesia yang masih mengemban amanah membangun RS Indonesia sedang melakukan penawaran peralatan medis kepada perusahaan-perusahaan alat kesehatan (alkes).

Tentunya kehadiran RS Indonesia menjadi sangat penting. Apalagi mengingat agresi militer yang dilancarkan militer Israel terhadap Jalur Gaza yang dilakukan secara brutal dan membabi buta baru-baru ini, telah memberikan efek yang sangat buruk terhadap warga Gaza terutama wanita dan anak-anak.

Kepala gabungan rumah sakit di utara Gaza yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Palestina, Dr. Said Salah saat diwawancarai Koresponden MINA menyampaikan harapannya agar Rumah Sakit Indonesia segera dioperasikan, terutama dalam kondisi peperangan di Jalur Gaza.

Bahkan warga Gaza sangat menantikan beroperasinya RS Indonesia dalam waktu dekat.

Warga Gaza di daerah utara yang mengalami luka-luka segera dilarikan ke rumah sakit Kamal Udwan, kurang dari 1 km atau tak jauh dari RS Indonesia. Rumah sakit tersebut kapasitasnya terbatas jika dibandingkan dengan RS Indonesia.

Jika RS Kamal Udwan kewalahan menangani korban perang Gaza, maka akan dipindahkan ke RS Al-Syifa berjarak sekitar 8 km, dan itu akan menjadi masalah tersendiri terlebih di saat perang seperti ini, karena banyak korban yang akan terlambat mendapatkan pertolongan.

Bangunan RS Indonesia adalah bangunan terunik dan terbesar di Jalur Gaza. Sebagian besar bangunan di wilayah okupasi Israel itu berbentuk segi empat mirip Masjid Qubbatush Shakhrah di lingkungan Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds Palestina.

Bangunan RS Indonesia yang akan menjadi salah satu pusat trauma dan rehabilitasi terbesar dan terlengkap di Gaza, memiliki dua lantai dan satu lantai basement yang berkapasitas lebih dari 100 tempat tidur dilengkapi dengan alat-alat kesehatan yang berteknologi canggih.

Atas doa dan dukungan rakyat Indonesia, RS Indonesia yang akan menjadi monumen sejarah dan silaturahmi Rakyat Indonesia–Palestina dijadwalkan beroperasi akhir tahun ini. (R05/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0