RATUSAN RABI DUNIA SERUKAN ‘ISRAEL’ HENTIKAN PEMBONGKARAN RUMAH-RUMAH PALESTINA

Pasukan pendudukan Israel sedang menghancurkan salah satu bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat.(Foto: Popist.com)
Pasukan pendudukan Israel sedang menghancurkan salah satu bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat.(Foto: Popist.com)

Ramallah, 19 Rabi’ul Akhir 1436/9 Februari 2015 (MINA) – Lebih dari 400 rabi Yahudi dari wilayah Palestina yang diduduki Israel, Inggris dan di seluruh dunia telah meminta Benjamin Netanyahu untuk menghentikan pembongkaran rumah-rumah milik warga Palestina.

Rabbi untuk Hak Asasi Manusia (RHR) telah mengajukan surat terbuka kepada Perdana Menteri Israel itu mengklaim sikapnya tidak sejalan dengan “hukum internasional dan tradisi Yahudi,” demikian Kantor Berita Palestina Al-Ray melaporkan yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Senin.

Surat RHR dikeluarkan setelah Netanyahu mengumumkan penghancuran lebih dari 400 rumah warga Palestina di wilayah Tepi Barat yang dikendalikan Israel, dikenal sebagai “Area C”.

Beberapa rabi Yahudi terkemuka yang menandatangani surat tersebut adalah Rabbi Mauricio Balter Wakil Ketua Majelis Rabi Israel dan menjabat posisi senior di organisasi internasional, Amy Eilberg wanita pertama didaulat sebagai rabi konservatif, Laura Janner Klausner Rabi Senior gerakan Reformasi di Inggris, Jonathan Wittenberg Rabi Senior Yahudi Masorti Inggris, mendiang Zalman Schachter Shalomi z’l (menandatangani sebelum kematiannya) pendiri dan pemimpin gerakan Pembaruan Yahudi.

Bungalow pra-fabrikasi Palestina yang didanai oleh Uni Eropa, Daily Mail melaporkan, tapi tidak memiliki izin bangunan dan sedang dibongkar sebagai bangunan ilegal.

“Ribuan orang telah dipaksa untuk membangun bangunan tanpa izin, dan penderitaan manusia yang besar terjadi ketika ratusan rumah yang dihancurkan setiap tahun,” kata surat itu.

Isi surat itu juga mengatakan, negara Israel memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap manusia di bawah kendali dia, masing-masing dibuat dalam Gambaran Tuhan, memiliki kesempatan yang adil untuk membangun rumah untuk dia, dirinya sendiri dan keluarganya, terlepas dari keadaan saat proses perdamaian atau perbedaan pendapat tentang daerah apa yang akan berada di bawah kendali Israel dalam perjanjian status akhir di masa depan.

Seorang utusan PBB untuk Pendudukan wilayah Palestina melawan penghancuran rumah di Tepi Barat dan Al-Quds Timur bulan lalu.

“Dalam tiga hari terakhir, 77 warga Palestina, lebih dari setengah dari mereka anak-anak, telah kehilangan tempat tinggal,” kata James Rawley, Koordinator Kemanusiaan PBB.

“Beberapa bangunan yung dibongkar dibangun oleh masyarakat internasional untuk mendukung keluarga yang rentan,” lanjutnya.

“Penghancuran yang mengakibatkan pengusiran dan pemindahan paksa bertentangan dengan kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional dan menciptakan penderitaan dan ketegangan yang tidak perlu. Mereka harus segera dihentikan,” tambahnya lagi.

Dari 20 hingga 23 Januari 2015, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat pembongkaran yang dilakukan otoritas pendudukan Israel terhadap 42 bangunan milik warga Palestina di Ramallah, Al-Quds, Jericho dan Hebron.

Kebijakan perencanaan yang diterapkan oleh Israel di Area C merupakan tindakan diskriminasi terhadap warga Palestina, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk memperoleh izin bangunan, kata kantor PBB.

Pada 2014, OCHA mencatat 590 bangunan milik warga Palestina di Area C dan Al-Quds Timur dihancurkan otoritas pendudukan Israel, menggusur sejumlah 1.177 orang. Ini adalah jumlah tertinggi sejak badan mulai memantau perpindahan pada tahun 2008 lalu.(T/R05/R02)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0