Reaktor Nuklir Pertama di Arab Mulai Beroperasi

Lokasi reaktor nuklir unit pertama dan kedua Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah berlokasi di Abu Dhabi Uni Emirat Arab, menjadi pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di Arab dan ke-33 di dunia.(Foto: Istimewa)

Abu Dhabi, MINA – Uni Emirat Arab (UEA) telah mengeluarkan izin operasi untuk reaktor nuklir pertamanya, sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di Arab dan ke-33 di dunia.

Pembangkit listrik tenaga nuklir yang diberi nama Barakah ini terletak di Abu Dhabi.

Proyek reaktor nuklir ini dibangun melalui kerja sama dengan Korea Electric Power Corporation (KEPCO), BUMN dari Korea Selatan. UEA menjadi negara satu-satunya yang telah membeli reaktor KEPCO.

“Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah adalah proyek bersejarah yang meningkatkan peran utama UEA dalam transisi energi bersih global,” tulis pernyataan pers dari Kedutaan Besar (Kedubes) UEA di Jakarta yang diterima MINA, Sabtu (1/8).

Pembangkit listrik Barakah akan memiliki empat reaktor dengan total kapasitas 5.600 megawatt. Saat beroperasi penuh, pembangkit listrik bertenaga nuklir ini akan memenuhi hingga 25% dari permintaan listrik nasional.

Selain itu, kehadiran Pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah itu juga mencegah pelepasan 21 juta ton emisi karbon setiap tahun, yang setara dengan menghilangkan 3,2 juta kendaraan yang menghasilkan polusi udara.

Pada awalnya, proyek pembangunan reaktor pertama ini akan dibuka pada 2017, tetapi proyek tersebut pernah mengalami penundaan beberapa kali.

Hasil Kerjasama UEA-Korea Selatan

UEA melalui Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC) telah mengembangkan Program Energi Nuklir Damai sesuai dengan standar internasional tertinggi untuk keselamatan, keamanan, transparansi, dan non-proliferasi nuklir.

ENEC memberikan Kontrak Perdana untuk pembangunan pembangkit listrik Barakah kepada KEPCO pada tahun 2009. Kontrak tersebut bernilai $20 miliar.

KEPCO sendiri memiliki lebih dari 40 tahun pengalaman dan keahlian dalam membangun dan mengoperasikan pembangkit energi nuklir.

Menurut pernyataan resmi Kedubes UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah bukan hanya menjadi pembangkit listrik saja, tetapi juga menjadi stimulus sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Sejak pengembangannya, Program UEA, melalui pengembangan ENEC dan Otoritas Federal untuk Peraturan Nuklir (FANR) telah berkontribusi pada kemampuan UEA untuk bekerja di beberapa bidang baru seperti kedokteran nuklir, program luar angkasa dan teknik nuklir.

“Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah adalah contoh dari kemampuan negara dalam mengembangkan proyek internasional berskala besar yang aman terlepas dari pandemi COVID-19 saat ini,” tulis pernyataan Kedubes UEA.

Reaktor unit pertama telah berhasil beroperasi awal bulan ini, yang merupakan langkah penting dalam menghasilkan listrik bersih menggunakan energi nuklir di UEA untuk pertama kali dalam sejarahnya.

Sementara konstruksi reaktor Unit kedua sudah selesai dan sedang menjalani persiapan operasionalnya. Penyelesaian konstruksi keseluruhan dari pembangunan empat pembangkit listrik itu akan mencapai 94% pada Mei 2020.

Teknologi energi nuklir yang dikembangkan pada reaktor pembangkit listrik Barakah yakni Uranium ditambang, lalu diproses dan dibuat menjadi pelet kecil seukuran kuku orang dewasa. Setiap pelet uranium mengandung jumlah energi yang sama dengan satu ton batubara dan 474 liter minyak mentah.(L/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)