Refleksi Hari Ayah: Tanggung Jawab Mengarahkan Keluarga Menuju Ridha Allah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Mungkin tidak banyak di antara kita yang tahu kalau tanggal 12 November adalah Hari Ayah.

Penulis yang juga seorang ayah, pun baru tahu pagi tanggal 12 November ini ketika menerima ucapan dari anak, “Selamat Hari Ayah, Abi. Barakallah. Terima kasih sudah selalu memberikan yang terbaik untuk kami semua. Semoga Abi selalu sehat, panjang umur, murah rezki dan apa yang Abi cita-citakan tercapai. Uhibbukum fillah”.

Tentu tulisan ini bukan mau membesar-besarkan Hari Ayah. Hanya ingin merefleksikan makna dan tanggung jawab besar seorang ayah terhadap keluarganya.

Ayah Terbaik

Rasulullah Shallallau ‘Alaihi Wasallam, yang juga berperan sebagai seorang ayah dalam rumah tangganya, memberikan teladan terbaik, tanggung jawab, perhatian dan kepedulian terhadap keluarganya.

Rasulullah Shallallau ‘Alaihi Wasallam mencontohkan dan mengarahkan agar setiap ayah sebagai kepala keluarga mestilah melakukan hal yang baik, bahkan terbaik terhadap keluarganya.

Hal ini seperti sabdanya:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR At-Tirmidzi dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha).

Hadits ini menunjukkan agar seorang ayah berkata dan bersikap baik terhadap keluarganya, termasuk di dalamnya tentu kepada istrinya, anak-anaknya, dan saudara-saudara yang ada di dalam keluarganya.

Seorang ayah adalah panutan bagi anggota keluarganya. Karena itu ia mesti menampakkan akhlakul karimah, mulai dari kebaikan, perhatian, kepedulian dan kasih sayang kepada mereka.

Seorang ayah, sebagai orang tua, pemimpin, figur sentral, idola, merupakan pendidik terbaik bagi keluarganya. Ayah sebagai orang tualah yang lebih dahulu dikenal anak-anak daripada yang lain.

Ridha Allah

Seorang ayah, setelah sebelumnya telah menyanggupi menikahi istrinya, memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Ia bertanggung jawab atas nafkah dan kebutuhan keluarganya, mulai dari sandang, pangan, papan (tempat tinggal) dan keperluan hidup lainnya.

Namun yang jauh lebih penting dari itu semua adalah tanggung jawab menjaga, memelihara dan mengarahkan seluruh keluarganya untuk mendapat ridha Allah. Artinya adalah memastikan seluruh keluarganya, istri dan anak-anaknya melaksanakan syariat Allah dan menjaga dari siksa api neraka akibat berbuat maksiat.

Sebagaimana Allah ingatkan di dalam ayat:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim/61: 6).

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama RI dijelaskan, pada ayat ini Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dari api neraka, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Mereka diperintahkan untuk mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.

Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara kesejahteraannya, baik jasmani maupun rohani. Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar.

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkan mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Begitulah caranya menyelamatkan mereka dari api neraka.”

Pahala Ayah

Seorang ayah, sebagai kepala rumah tangga, adalah pemimpin yang memiliki kewenangan mengatrur rumah tangganya, tetapi bukan berarti sewenang-wenang. Pemimpin rumah tangga di sini lebih bersifat menuntun seluruh anggota keluarganya menuju ridha Allah.

Dengan makna ini maka antara ayah, ibu (suami istri) dan anak-anaknya hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Semakin kuat iman dalam sebuah keluarga, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, maka rumah tangga tersebut mudah rapuh dan mudah retak.

Begitu perjuangan seorang ayah, hingga tiap usahanya, tetesan keringatnya, lelahnya berusaha, semuanya bernilai ibadah dan sedekah bagi keluarganya.

Di dalam hadits disebutkan:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Artinya: “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.” (HR Muslim).

Pada hadits lain dikatakan:

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya:Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah.” (HR Ahmad).

Begitulah, Hari Ayah sebagai saat mengingatkan betapa besar dan utamanya tanggung jawab seorang ayahd alam keluarga.

Hari Ayah juga mengingatkan agar segenap anggota keluarga, khususnya anak-anak, agar memuliakan, menghormati dan berbakti kepada ayah mereka sebagai amalan utama.

Kebahagiaan terbesar seorang ayah adalah manakala istrinya dan anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin. (A/RS2/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)