Rektor UIN Ar-Raniry: Radikalisme Banyak Disetting Untuk Adu Domba

Banda Aceh – Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA menyatakan,  dalam perkembangannya, radikalisme banyak diseting untuk mengadu domba antar umat antar kampung antar ras dan lain sebagainya.

“Dalam penelitian, radikalisme banyak lahir di Pulau Jawa   sesuai dengan hasil penelitian yang akurat,” katanya  pada upacara memperingati Hari Lahir Pancasila di halaman Biro Rektor, Banda Aceh, Senin pagi (4/6).

Prof. Farid juga mengatakan, radikalisme muncul di beberapa kampus umum di Indonesia akibat ilmu Islam diajarkan oleh dosen bukan ahlinya.

Berbeda dengan  Perguruan Tinggi Islam yang tidak memberi ruang bagi tumbuh kembangnya paham radikalisme, Islam yang diajarkan di Perguruan Tinggi Islam tidak mengarah kepada radikalisme.

Farid Wajdi menyampaikan hal itu, terkait munculnya benih-benih radikalisme di kampus non agama. “Lahan subur radikalisme berada di kampus umum karena pelajaran agama tak diajarkan oleh ahli agama,” paparnya.

Berkait dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Rektor UIN Ar-Raniry juga mengajak seluruh peserta apel untuk kembali menggali kembali nilai-nilai Pancasila.

“Nilai-nilai Pancasila ampuh memperjuangkan keragaman penduduk Indonesia yang bersuku-suku dan beda agama,” katanya.

Falsafah negara Indonesia, kata Farid Wajdi telah mampu mempersatukan Indonesia lebih dari 70 tahun hingga saat ini.

UIN Ar-Raniry menjadi pelopor pertama yang menolak paham radikalisme di Perguruan Tinggi Islam.

Gerakan antiradikalisme di kampus Islam dideklarasikan 26 April 2017.

Sebanyak 50 pimpinan Perguruan Tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. (L/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0