RELAWAN BULAN SABIT MERAH TERBUNUH SAAT EVAKUASI MAYAT

Relawan Bulan Sabit Merah membantu korban terluka di Sanaa, ibukota Yaman. (Foto: dok. ICRC)
Relawan Bulan Sabit Merah membantu korban terluka di Sanaa, ibukota Yaman. (Foto: dok. ICRC)

Aden, 18 Jumadil Akhir 1436/7 April 2015 (MINA) – Setidaknya tiga relawan Bulan Sabit Merah terbunuh selama sepekan terakhir, saat mengevakuasi mayat dan korban terluka akibat pertempuran di Aden dan di provinsi Al-Dhale, Yaman, demikian kantor berita Associated Press melaporkan.

Komisi Internasional Palang Merah (ICRC) menyebut dalam sebuah pernyataan baru-baru ini, pembunuhan itu disengaja, Al Jazeera yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (7/4).

“Ada mayat di jalan-jalan di Aden. Inilah sebabnya mengapa kami menyeru jeda untuk kemanusiaan selama 24 jam dalam pertempuran, sehingga orang bisa pergi dan mengumpulkan mayat,” kata Mari-Claire Feghali dari ICRC.

Juru bicara ICRC, Sitara Jabeen mengatakan kepada Al Jazeera, situasi kemanusiaan di Yaman memburuk.

“Situasi di Yaman masih sangat kritis. Konflik semakin meningkat, terutama di Aden. Kami masih berusaha untuk menemukan pesawat kargo yang dapat membawa persediaan kami ke (ibukota) Sanaa,” kata Jabeen di Sanaa.

ICRC mengatakan, salah satu pesawat bantuan yang mengangkut staf mampu mendarat di Sanaa pada Senin, tetapi organisasi medis itu belum mendapatkan operator pesawat kargo untuk menerbangkan pasokan medis ke negara itu.

“Kami mendapat izin dari koalisi kemarin (untuk memberikan pasokan), tapi sejauh ini kami belum bisa menemukan solusi logistik untuk masalah ini. Ada kekurangan maskapai yang terbang ke Sanaa dan penerbangan maskapai Yaman sendiri ditunda sampai pemberitahuan lebih lanjut,” kata Jabeen.

Jumlah orang yang tewas sejak serangan udara dimulai tidak diketahui, tetapi badan-badan bantuan mengatakan, lebih 330.000 orang telah mengungsi. Lebih banyak lagi di Aden dan Sanaa yang membutuhkan pasokan dasar.

Wakil editor surat kabar Al-Ayyam, Basharaheel Hisham Basharaheel, mengatakan kepada Al-Jazeera, orang-orang kehabisan makanan, tidak ada air dan listrik.

“Rumah sakit berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Kami melihat banyak orang terluka yang tidak bisa tertangani,” kata Basharaheel. (T/P001/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor:

Comments: 0