Relawan MER-C Idul Fitri Bersama Muslimin Rohingya

Ir. Nur Ikhwan Abadi bersama Muslimin Rohingya merayakan Idul Fitri di Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Rabu, 5 Juni 2019. (Foto: Karidi/MER-C)

Mrauk U, Myanmar, MINA – Empat orang relawan lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melaksanakan tugas mengawasi pembangunan (RSI) di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, melaksanakan shalat Idul Fitri 1440 Hijriah bersama , Rabu (5/6).

“Alhamdulillah, ini yang kedua kalinya kami berempat melaksanakan shalat Idul Fitri bersama Muslim Rohingya,” ujar salah satu asal Wonogiri, demikian rilis MER-C yang diterima MINA, Jumat (7/6).

Karidi yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza, Palestina, menjelaskan, shalat Iedul Fitri kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, konflik yang terjadi di Rakhine, meluas hingga mencapai lokasi RS Indonesia.

“Id kali ini sedikit berbeda, suasananya lebih mencekam, karena tiga hari sebelumnya terjadi pertempuran di dekat RSI, dan biasanya kami shalat di salah satu masjid di Kampung Muslim dekat RS Indonesia tersebut,” ujar relawan spesialis mekanikal electrikal ini.

Karidi menambahkan, para relawan tidak bisa shalat di tempat biasanya karena kampung tersebut dijadikan basis tentara Myanmar untuk menyerang Arakan Army, tentara pemberontak kelompok Buddha.

“Kami tidak mendapatkan izin dari pihak keamanan untuk shalat Id di kampung tersebut, karena situasi sedang tidak memungkinkan karena kampung tersebut dijadikan basis bagi 230 orang personel tentara Myanmar,” ujarnya.

Para relawan akhirnya diperkenankan shalat di salah satu masjid di Kampung Bina Para, berjarak 8 kilometer dari lokasi RSI.

“Itupun kami harus hati-hati, karena tentara sedang siaga satu, berjaga-jaga di setiap sisi jalan,” terangnya.

Menurutnya perayaan Idul Fitri Muslim Rohingya di kampung tersebut cukup sederhana, ratusan warga memulai shalat sekitar pukul 09.00 waktu setempat di dalam sebuah masjid.

“Ratusan warga mengikuti shalat Id tersebut, sebelum shalat mereka biasanya tausiyah dengan menggunakan bahasa lokal, untuk kemudian shalat Id dan diikuti khutbah berbahasa arab full,” terangnya.

Ketika khatib memimpin doa, puluhan orang terlihat menagis tersedu-sedu saat doa dibacakan dalam bahasa Rohingya.

“Kami pun turut sedih melihat mereka menangis, meski kami tidak mengerti doa apa yang sedang dipanjatkan,” katanya.

Kemudian para warga bersalaman satu sama lain, juga dengan para relawan. Selesai bersalaman, warga keluar dan kemudian membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin yang sudah menunggu di depan masjid.

Tampak kebahagiaan menyelimuti warga Muslim Rohingya ini. Di luar halaman masjid, banyak warga berjualan jajanan, anak-anak, tua dan muda, bahagia menyambut datangnya hari kemenangan umat Islam ini.

Sementara itu, relawan diundang ke rumah salah satu warga untuk menyantap hidangan khas Idul Fitri, makanan berupa bihun dicampur susu dan irisan kelapa.

“Alhamdulillah, meskipun berlebaran jauh dari keluarga, namun para relawan tetap semangat menunaikan amanah kemanusiaan pembangunan RS Indonesia di wilayah ini,” tambah Karidi. (R/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)