Relawan: Setiap Kampung Muslim Rohingya Ada Masjid, Tapi Dibatasi

Karidi, relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar, berswafoto bersama para pekerja lokal di lokasi pembangunan rumah sakit. (Foto: Karidi/MER-C)

Bogor, MINA – Karidi, salah satu relawan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Myanmar, mengungkapkan, setiap desa Muslim di Negara Bagian Rakhine ada masjid dan ma’had (sekolah pendidikan agama), namun aktifitasnya dibatasi oleh militer Myanmar.

Karidi bersama tiga relawan pembangunan RS Indonesia lainnya telah menyelesaikan pembangunan fisik rumah sakit seratus persen di Rakhine dan telah kembali ke Tanah Air pada 7 November lalu.

“Setiap kampung (Muslim Rohingya) punya masjid dan ma’had,” kata Karidi saat menyampaikan pengalamannya di depan ratusan jamaah taklim di Cilebuet, Kabupaten Bogor, Ahad (17/11).

“(Tim) hanya boleh shalat di masjid pada hari Jumat di masjid yang ditentukan oleh pihak keamanan,” katanya. Namun, mereka juga sempat silaturahmi ke beberapa masjid dan ma’had di sana saat situasi memungkinkan.

Karidi mengisahkan bahwa kondisi muslim Rohingya di sana, khususnya di daerah tempat RS Indonesia dibangun, masih tertindas dengan akses ibadah, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan pergerakan dibatasi.

Kondisinya pun sangat tidak aman. Karidi menjelaskan, pada 2017 terjadi peperangan antara Tatmadaw (tentara Myanmar) dengan kelompok Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), kelompok pejuang Muslim Rohingya, yang menyebabkan sekitar 700.000 Muslim mengungsi dan ribuan lainnya meninggal dunia.

Pada 2018 hingga sekarang, Tatmadaw berperang melawan Arakan Army, kelompok bersenjata Buddha, menyebabkan 60.000 warga mengungsi dan ratusan tewas.

RS Indonesia sudah diserahkan kepada Kementerian Kesehatan daerah secara simbolis hingga seluruh kunci rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah jenis puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.

Pembangunan RS Indonesia merupakan bantuan masyarakat Indonesia kepada warga Myanmar sebagai wujud diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh lembaga medis kemanusiaan MER-C yang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia (PMI). (L/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)